Alasan Mengapa Pada Akhirnya (Memutuskan Untuk) Mondok di Pesantren



Sekalipun tumbuh dalam keluarga yang seluruhnya mondok di pesantren, sejak kecil, saya tidak pernah memiliki keinginan untuk mondok di pesantren.

"TIDAK MAU!!! POKOKNYA TIDAK MAU!!!" begitu jawaban saya dulu-dulu, setiap kali orangtua menyuruh (atau lebih tepatnya, memaksa) untuk mondok di pesantren. Ancaman apa pun, tidak akan mempan. Bahkan, bila semisal orangtua mengancam:

"Kalau enggak mau mondok, sekolah harus berhenti! Kalau sekolah aja mau, mondok juga harus mau!"

Pasti, kala itu, saya akan menjawab:

"Yaudah. Berhenti (sekolah) pun juga siap!"

Kalau banyak fakta mengatakan bahwa anak kedua itu keras kepala, nah, begitulah saya. Bapak saya anak kedua, Ibu saya juga anak kedua. Bapak saya keras kepala, berharap agar anak-anaknya belajar ilmu agama setinggi-tingginya, atau minimal, menjadi seperti Bapaknya. Ibu saya keras kepala, berharap agar anak-anaknya sekolah setinggi-tingginya, atau minimal, setinggi Ibunya. Saya pun juga (kala itu) keras kepala; tidak bersedia menjadi apa pun yang mereka inginkan. Hahaha.

Semakin bertambah umur, saya semakin menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bersinggungan dengan agama; seperti nge-band (walau garapannya lagu cemen) sewaktu sekolah, membaca buku-buku yang sama sekali tak ada hubungannya dengan buku keagamaan, belajar stand up comedy saat kuliah, lebih serius menekuni dunia tulis-menulis selepas kuliah, mengadu peruntungan menjadi youtuber, menjadi publisher tipis-tipis, dan entrepreneur tanggung.

"Apakah saya masih ngaji, meski gemar menyibukkan dengan hal-hal di atas?"

Masih dooong...

"Apakah karena saya (anak) soleh?"

Tidak dooong... Karena dipaksa Bapak dooong...

"Kalau Bapak enggak maksa, apakah mau ngaji?"

Enggak dooong... Hahaha...

Tapi itu dulu, sebelum cebong dan kampret menguasai jagat media sosial.

Membaliknya hati (untuk akhirnya mau mondok) diawali pada tahun 2015, di mana hari-hari saya dihantui oleh suara-suara yang entah datang dari mana (percaya atau tidak) tetapi cukup bikin berisik kepala. Sebagian dari kalian mungkin akan menyangka saya lebay atau semacamnya, tapi, itulah yang saat itu betul-betul saya rasakan. Kurang lebih, demikian bisikan yang bikin berisik kepala itu:

"Kelak, bila di masa tua ada pertanyaan; apa hal yang paling ingin kau lakukan, tetapi tak bisa dan tak akan pernah bisa kau lakukan, padahal (dahulu) kau punya kesempatan untuk melakukannya, maka jawabannya cuma satu: mondok di pesantren."

Mulanya, saya menganggap biasa saja bisikan tersebut. "Ah, paling juga cuma kata-kata yang muncul sekelebat," pikir saya saat itu. Tak dinyana, rupanya, suara itu terus berisik dalam kepala saya, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, sampai berganti tahun.

Suatu hari, ketika bersama teman-teman masih menjalani bisnis pengelolaan website, saya (yang saat itu ditunjuk menjadi editor tulisan) pernah meng-edit tulisan yang disetor oleh karyawan yang berkantor di Malang. Saya mendapati, dalam artikel yang ia kirimkan terdapat sebuah kalimat yang cukup menohok bagi keadaan saat itu:

"Masalah, akan menjadi lebih ringan apabila dibagikan."



Bulan berikutnya, saya memperoleh kesempatan untuk mewawancarai teman sekelas ketika duduk di bangku sekolah dasar yang maju sebagai calon walikota Jogja melalui jalur independen. Hari itu, saya mengajak adik perempuan saya, Dek Himmah, memintanya untuk mendokumentasikan wawancara kami.

Sepulang dari wawancara tersebut, kami jalan-jalan di Malioboro dan Taman Pintar. Tiba-tiba, saya kepikiran kalimat yang saya peroleh ketika meng-edit artikel. Jadilah saya membagikan kalimat yang setahun belakangan berisik di kepala itu, kepada adik saya. Dengan harapan, siapa tahu akan menjadi lebih ringan. Atau bahkan, hilang sama sekali.

"Dek, Mas Mufid mau cerita. Tapi jangan bilang-bilang ke Bapak dan Ibu, ya?" begitulah saya mengawali, sebelum bercerita. Saya menduga, pesan yang demikian berisik di kepala tersebut, bila sampai terdengar oleh Bapak atau Ibu, beliau akan merasa menang, dan saya tampak kalah. Saat itu, saya masih belum rela bila itu sampai terjadi. Saya masih berharap agar Bapak dan Ibu, mengenal saya sebagai Mufid yang masih enggan mondok. Mufid yang bengal. Mufid yang bebal.

Setelah (Dek Himmah) mengangguk, saya pun menceritakannya.

***

"Apakah setelah menceritakan, pesan tersebut lantas menghentikan kegaduhannya dalam kepala?!"

Oh tidak. Justru semakin berisik! Sial! Saya telah dibohongi oleh artikel!

Semakin lama, frekuensi kalimat tersebut semakin masif menyerang kepala. NYARIS PECAH! Setidaknya, begitulah yang saya rasakan saat itu.

"Oke. Ini tidak ada pilihan lain."

Sebelum kepala saya betul-betul pecah, saya mengambil jalan terakhir, yakni menghadap ke Bapak dengan berkata:

"Pak, saya mau ngomong sesuatu, tapi harus ngobrol empat mata, dan cari tempat sepi."

Bapak menyanggupi.

Dalam kesempatan tersebut, saya menceritakan panjang lebar mengenai kalimat yang entah munculnya dari mana itu. Kalimat yang meneror kepala saya, hingga berganti tahun tersebut. Tahukah kalian, apa respons Bapak setelah saya menceritakan? Pendek saja:

"Lalu, sekarang kau ingin bagaimana?"

Saya pun menjawab:

"Sepertinya, mau tidak mau, kok saya harus mondok. Membagikan masalah ini kepada orang lain, kok kayaknya tidak berdampak apa pun. Jangan-jangan, cuma mondok, yang bisa menghentikan isi kepala yang berisik ini."

"Memangnya, kau mau mondok di mana?"

"Nah, itu, yang sampai sekarang saya belum tahu!"

***

Bulan pun berganti, dan saya belum mondok juga. Sampai-sampai, Ibu bertanya kepada saya:

"Kamu ini jadi pengin mondok enggak, sih?"

"Jadi, tapi belum tahu, ingin mondok di mana..."

Sebagai informasi, seperti yang tadi sempat saya singgung, bahwa saat itu saya sedang membangun bisnis kecil-kecilan (karena memang masih bayi) yang domisilinya dibagi dua: tiga orang bekerja di kantor yang berada di Malang (bersama karyawan) dan dua orang lagi bekerja secara remote di Jogja, yakni, saya sebagai editor (editoran) tulisan, dan teman saya, Ulul namanya, sebagai programmer. Setiap rapat yang mengharuskan untuk bersemuka, kami (saya dan Ulul) harus bertandang ke Malang. Kala itu, diadakanlah rapat, dan kami berangkat ke Malang, naik bus. Selama perjalanan, kami ngobrol panjang lebar tentang ini dan itu, sampai kemudian, tiba-tiba Ulul berkata:

"Fid, kok saya pengin mondok, ya. Tapi, mondok khusus selama puasa aja. Pondoknya sudah dapat, sih. Cuma masalahnya, saya malu, kalau sendiri. Saya butuh teman. Kamu bisa bantu carikan saya teman yang mau diajak mondok selama puasa? Soal biaya selama mondok, nanti saya yang bakal tanggung deh!"

Saat itu, saya langsung membatin:

"Apakah ini, jawaban dari kalimat yang setahun belakangan berisik di kepala?"

Setelah diam dan berpikir sejenak, saya melemparkan pertanyaan kepada Ulul:

"Lul, kalau saya (yang nemenin kamu mondok) aja, gimana?"

"Serius, Fid?" tanyanya agak kaget.

"Iya, serius!"

Dia tertawa (seolah tidak menyangka, saya bakal menawarkan diri) dan mengucap alhamdulillah di dalam bus, lalu berjanji bahwa sepulang dari Malang, akan menunjukkan informasi pondok yang membuka pendaftaran bagi santri yang cuma ingin bermukim selama ramadan. Kemudian, Ulul menyuruh saya untuk mengurus pendaftaran.



Setelah mendaftar dan sebelum mondok ramadan dimulai, saya masih memperlihatkan watak Mufid masa kecil yang belum mau kalah terhadap orangtua, yakni Mufid yang seolah-olah seperti belum mau mondok di pesantren. Kepada beliau, saya berkata:

"Ini, saya cuma mondok selama ramadan saja. Kalau tidak betah, ya sudah," kata saya dengan harapan semoga tidak betah. Orangtua saya diam, lalu saya melanjutkan, "Tapi kalau betah, yah, mungkin saja bisa lanjut."

Jadilah saya mencicipi pengalaman baru menjadi santri (betulan) pada bulan ramadan tahun 2016, dalam Program Kegiatan Ramadan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Munawwir kompleks Nurussalam, Krapyak, Yogyakarta.

***

Ngomong-ngomong, saat menuliskan ini, saya terhitung sudah dua tahun menjadi santri Krapyak. Ini menandakan bahwa saya kalah terhadap kedua orangtua saya.

Hari-hari selama masa-masa awal berada di pondok, adalah hari-hari di mana saya betul-betul merasakan bahwa bisikan-bisikan berisik yang setahun mengendap dalam kepala itu, lambat laun semakin melepaskan dirinya. Sampai-sampai, ketika masa-masa awal saya merasakan tanda-tanda bahwa sepertinya saya akan betah di pondok, saya pernah mengumpat (tidak kepada siapa pun) dengan bahagia:

"Jancuk! Kenapa jadi betah begini?! Kalau begini kan, jadi pengin lanjut mondok! Hahaha. Ini pasti gara-gara doa orangtua. Hahahaha."

Meskipun ini sebuah kekalahan, bagi saya, ini merupakan kekalahan menyenangkan yang pada akhirnya saya syukuri betul-betul. Karena bagaimanapun, saya kemudian percaya, bahwa bila hari-hari ini tidak mencicipi mondok di pesantren, kelak pasti saya akan menjadi orangtua dengan penuh gerutu penyesalan. Begitu menyedihkan, memang, menjadi muda yang tidak sungguh-sungguh belajar ilmu agama, lalu ketika tua dan haus panggung agar dianggap 'agamis' oleh lingkungan sekitar, akhirnya mengambil jalan pintas dengan; membagikan renungan-renungan, atau hadits-hadits, atau kisah-kisah islami di grup-grup whatsapp dan berbagai platform media sosial lainnya tanpa melacak kebenaran informasi yang dibagikan.

Terima kasih, Buk, Pak, atas doa-doa yang tak pernah berhenti dirapalkan itu, akhirnya anakmu bisa sampai ke titik hidup ini. Doakan anakmu ini, semoga sanggup menggunakan waktu yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya, sesungguh-sungguhnya.

0 komentar:

Posting Komentar