#LPLKJogja: Yusril Fahriza also known as Lord of Bokep!


Sengaja bikin tulisan ini ke dalam empat postingan, bukan karena pengin mengadopsi teknik macam film yang sukanya bikin part-part gitu, yang demi mendongkrak marketing. Tapi karena khawatir kalau cuma dibikin satu postingan (yang mencakup empat comic) doang bakal terlalu panjang. Akhirnya yang mau baca capek duluan sebelum kelar baca, dan memilih close karena kena distraksi notifikasi atau lainnya. Toh kalau pun semisal memang mau dibikin part-part gitu, enggak bakal ngangkat juga, sekalipun sudah mencatut nama Adriano Qalbi. Jadi, ini sengaja dibikin empat bagian, biar setiap postingan bisa menggambarkan detail pertunjukan setiap comic.

Oke, mari kita awali bagian pertama ini dengan mengulas penampilan komika pertama: Yusril Fahriza.

Yusril mulai menghangatkan panggung dengan celetukan-celetukan kecil yang salah satunya ialah mengomentari jari-jarinya yang kebesaran, lalu langsung disambut tawa oleh penonton, kemudian mengumpat silit—bahasa Jawa dari rectum, anus atau bol—dan membuka pertunjukannya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh, merupakan pertemuan dua kata yang njomplang dan tentu saja langsung menggemparkan salah satu ruangan lantai dua di Horison Ultima Riss Hotel yang beralamat di Jalan Gowongan Kidul itu.

Berhasil mengawali dengan hangat, membuat Yusril lebih pede untuk masuk ke bit pertamanya. Sebetulnya, saya kurang yakin, apakah ucapan dia soal jadi opener show “Lo Pikir Lo Keren” (selanjutnya akan disebut LPLK) Jogja ini sudah masuk ke bit pertamanya atau belum. Pengin menebak belum, tapi kok pas melanjutkan sampai bagian mencatut nama Pandji dan Ernest terasa seperti telah disiapkan. Tapi saya rasa, untuk komika sekelas Yusril, tidak akan kesulitan untuk menciptakan itu secara spontan. Sehingga saya lebih sepakat bahwa bit pertamanya adalah mengenai kekesalannya selama tinggal di Jakarta.

Yusril mengolah keresahannya selama tinggal di Jakarta dengan racikan khas seorang Yusril Fahriza: dibumbui dengan makian khas Jawa disertai ekspresi wajah yang tentu saja marah-marah. Dan menurut saya, inilah titik ledak tawa lain yang Yusril miliki selain mengandalkan punchline dari bit-bitnya. Terbukti makian seperti:

“Matane i lho..” Ini sering keluar.

Juga:

“Kowe ngaji ora e?” Saat ia cerita ada orang yang ngakalin enggak puasa dengan memilih ngasih makan (berbuka) ke orang yang sedang berpuasa.

Atau:

“Hmm… he e, dodol bubur ayam neng Mesir…” Ketika dipameri anak pamannya yang tidak bisa kumpul keluarga karena masih di Mesir.

“Urip mung nyekel duit pitung puluh limo ewu kok zona nyaman!” Kalau ini membahas mengenai anggapan orang-orang tentang Jogja yang merupakan zona nyaman.

Dan makian-makian lain sejenisnya yang selalu berhasil mengundang tawa.


Beberapa bit pernah saya dengar sebelumnya di show Retorika dan sewaktu ia menjadi headliner di Stand Up Gunung, seperti bit tentang respons keluarga dan saudaranya setelah ia main di film Cek Toko Sebelah, bagaimana perasaannya saat temannya semasa di pondok pesantren bisa dapat peran di film biopik Sang Pencerah yang menceritakan tentang KH. Ahmad Dahlan, sedangkan ia main di film Cek Toko Sebelah dengan peran banci, sering ditanya “kapan nikah?” oleh orang-orang pada usianya yang ke 28 tahun ini, menceritakan tentang jam terbangnya di dunia perbokepan, dan pengalaman onani pertamanya. Meski demikian, tawa saya tetap meledak. Tentu kualitas ledakannya jelas tidak bisa dibandingkan dengan ketika saya mendengarnya untuk pertama kali.

Tawa saya pecah ketika Yusril menceritakan bahwa sejak kecil ia menimba ilmu di lembaga-lembaga Muhammadiyah: TK di Aisiyah, lalu SD sampai kuliah juga di Muhammadiyah, sampai-sampai ia mengira bahwa KH. Ahmad Dahlan adalah Presiden Indonesia, karena foto beliau selalu ada, menghiasi ruang-ruang kelasnya. Yusril juga bercerita di masa kecilnya pernah ingin segera sampai pada usia tujuh belas tahun, demi bisa menikmati Golden Boy yang di sana tertera untuk usia tujuh belas tahun ke atas. Di ruangan itu, saya ikut-ikutan tertawa tanpa tahu betul apa itu Golden Boy. Kemudian baru searching saat akan menulis ulasan ini. Polos sekali masa kecil saya, baru tahu Golden Boy di usia ketika teman-teman seumuran sudah pada punya anak dan mereka dengan riang gembira memameri akan mengantar anaknya ke playgroup atau taman kanak-kanak.

Tawa saya yang lain juga meledak tatkala Yusril bercerita saat suatu hari melintas di Sakola (tempat jualan baju di Wirobrajan, Jogja) yang dulunya pernah jadi warnet saat zaman ia masih mondok di pesantren, dan kamar mandi warnetnya pernah ia pakai untuk merilis onani perdananya. Di depan Sakola, ia berhenti sembari memandangi dan bergumam:

“Hmm… di sini sejarah dimulai…”

Pada bagian ini, ada sedikit informasi yang berbeda dari yang ia bawakan saat di Retorika dengan ketika menjadi opener LPLK Jogja. Di Retorika Yusril bilang warnet itu kini menjelma menjadi kantor jasa pengiriman, sedangkan di LPLK Jogja ia bilang warnet itu kini telah menjadi Sakola. Secara keseluruhan, mungkin tidak berpengaruh, memakai diksi yang mana saja untuk punchline. Apalagi kalau yang mendengar adalah penonton dari luar Jogja. Tetapi secara pribadi, sebagai orang yang pernah bekerja di kantor daerah Wirobrajan dan sering mondar-mandir di sekitaran jalan itu, tawa saya lebih meledak ketika Yusril menggunakan diksi “Sakola” untuk punchline, karena itu tempat yang cukup masyhur dan banyak orang Jogja tahu. Berbeda ketika di Retorika ia bilang “warnet itu kini menjelma menjadi kantor jasa pengiriman”, jujur, sambil ketawa, saya saat itu sampai harus mikir:

“Kantor jasa pengiriman sebelah mana sih?”

Dan, ini cukup mengganggu kenikmatan saya dalam tertawa kala itu. Tetapi syukurlah, bit-bit yang Yusril bawakan di Retorika banyak yang berkembang di Stand Up Gunung dan semakin berkembang lagi di LPLK Jogja kemarin. Sehingga, ketawa saya yang sempat terganggu saat menyaksikan penampilannya di Retorika, akhirnya dibayar lunas dengan penampilannya selama delapan belas setengah menit di LPLK Jogja kemarin.

Terima kasih!


***


sumber foto, twitter: Maylingga V.M dan T i k a B u d i

0 komentar:

Posting Komentar