#LPLKJogja: Iqbal Kutul dan Sarkasmenya


Sengaja bikin tulisan ini ke dalam empat postingan, bukan karena pengin mengadopsi teknik macam film yang sukanya bikin part-part gitu, yang demi mendongkrak marketing. Tapi karena khawatir kalau cuma dibikin satu postingan (yang mencakup empat comic) doang bakal terlalu panjang. Akhirnya yang mau baca capek duluan sebelum kelar baca, dan memilih close karena kena distraksi notifikasi atau lainnya. Toh kalau pun semisal memang mau dibikin part-part gitu, enggak bakal ngangkat juga, sekalipun sudah mencatut nama Adriano Qalbi. Jadi, ini sengaja dibikin empat bagian, biar setiap postingan bisa menggambarkan detail pertunjukan setiap comic.

Oke, mari kita lanjutkan bagian ini dengan mengulas penampilan komika kedua: Iqbal Baiquni atau yang lebih dikenal dengan nama Iqbal Kutul.

Pada hari Kamis tanggal 29 September 2016 hingga beberapa hari setelahnya, timeline twitter saya ramai orang-orang memberikan pujian untuk penampilan Iqbal Kutul di "Wang Sinawang Stand Up Comedy Show" yang berlangsung di IFI-LIP Sagan Yogyakarta. Saya berasumsi bahwa ia menjadi player of the game pada pertunjukan malam itu. Setelahnya, saya langsung mengikuti akun twitternya, berharap bisa memperoleh update informasi terkait penampilannya pada event lain. Kesempatan itu akhirnya saya peroleh di Stand Up Gunung pada Sabtu 29 Juli 2017 silam. Dan di “Lo Pikir Lo Keren” (selanjutnya akan disebut LPLK) Jogja ini, adalah kali kedua saya menyaksikan penampilan Iqbal.

Setelah dua kali menonton Iqbal, saya jadi sadar bahwa setiap menyaksikannya di atas panggung, saya kerap deg-degan dan bergumam:

“Duh, ini orang mau ngomong apa ya? Kayak meragukan gini!”

Tapi sudah dua kali pula keraguan saya dipatahkan oleh bit-bit Iqbal yang memang ketajamannya jauh melampaui kelakuannya di atas panggung yang suka sambil garuk-garuk rambut kepala yang saya yakin ia sedang tidak gatal-gatal amat. Lalu ditambah arah pandangan matanya yang seperti tidak benar-benar menatap penonton. Juga, tangan kirinya yang lebih sering masuk ke kantong ketimbang meliuk-liuk di udara, membantu menjelaskan apa yang ia ucapkan. Tapi kemudian saya kembali mengingatkan kepada diri sendiri bahwa ini pertunjukan stand up comedy, bukan workshop public speaking. Sehingga, fokus harus saya kembalikan untuk menyimak sabda-sabda Iqbal.


Senada dengan penampilannya di Stand Up Gunung, Iqbal juga mengawalinya dengan bercerita tentang anaknya, Wardah Khaliluna Haelu. Sebagaimana di Stand Up Gunung, di LPLK Jogja ini pun bit tersebut bekerja dengan baik. Pecah parah! Ada sekitar lima puluh persen materi yang ia bawakan di Stand Up Gunung, lalu ia bawakan kembali di LPLK Jogja kemarin, seperti: ceritanya saat ditunjuk menjadi ketua panitia pembangunan masjid, perkara haram bisa jadi halal tergantung kondisi dan sebaliknya, serta ormas yang baru-baru ini dibubarkan oleh pemerintah.

Saya melihat, ada jokes yang diksinya diganti, lalu ada juga bit yang lawakannya berkembang. Untuk diksi yang diganti, ialah bagian Candi Sewu yang ikonik karena jumlahnya banyak, dan orang-orang lebih percaya kalau itu yang membangun adalah jin. Iqbal khawatir pada tahun tiga ribu sekian nanti, ketika apa-apa yang banyak itu berarti yang membangun adalah jin, orang-orang di masa depan bisa beranggapan bahwa Alfamart itu yang membangun adalah jin. Dan Meikarta, dulunya adalah bekas kerajaan Nabi Sulaiman. Menurut saya, pemilihan diksi “Meikarta” di LPLK Jogja ini lebih menyenangkan. Ledakan tawanya lebih menjadi, dibandingkan ketika di Stand Up Gunung lalu ia bilang kalau: jangan-jangan di masa depan orang mengira Indomaret itu bekas kerajaan Nabi Sulaiman. Kemudian untuk bit yang lawakannya berkembang, bagian ormas keagamaan yang baru-baru ini dibubarkan. Tawa saya betul-betul meledak saat Iqbal bilang:

“Haduh… belum sempet punya lebaran sendiri, udah dibubarin!”

Sarkas nan tajam saudara-saudara!

Setelah bit tersebut, saya semakin excited menyimak, lantaran bagian tengah ke belakang adalah bit-bit yang baru saya dengar malam itu. Ada sarkas-sarkas lainnya yang Iqbal taburkan. Contohnya ketika Iqbal membandingkan bagaimana orang-orang zaman dulu melakukan uzlah (menyendiri atau mengasingkan diri) demi mendekatkan diri kepada Allah, dan orang-orang sekarang cara mendekatkan dirinya aneh-aneh, seperti membayar listrik via aplikasi islami yang melayani pembayaran segala macam kebutuhan sehari-hari yang katanya memiliki tujuan mulia “Berjamaah Membeli Ulang Indonesia” itu.

Sarkas lain yang menurut saya cukup menarik ialah ketika Iqbal membahas kelakuan banyak ustadz yang sering pakai gimmick, katanya:

“Ustadz pakai gimmick itu enggak apa-apa. Asal gimmicknya jangan sampai lebih terkenal (atau lebih tinggi) daripada ilmunya.”

Dan banyak lagi keprihatinan Iqbal terkait sengkarut di balik orang-orang yang belakangan ini banyak mengeksploitasi agama demi meraih apa-apa yang menjadi tujuan atau kepentingan pribadinya.

Rasanya tidak salah bila pada Kamis tanggal 29 September 2016 silam dan hari-hari setelahnya timeline twitter saya banyak diisi pujian untuk penampilan Iqbal di Wang Sinawang Stand Up Comedy Show. Karena setelah menonton penampilannya di LPLK Jogja kemarin, sepertinya saya juga tergoda ingin ikut memujinya!


***


sumber foto, twitter: Maylingga V.M dan T i k a B u d i

0 komentar:

Posting Komentar