Cerita Pendek Yang Pendek: "Ketiduran" dan "Mengigau"


KETIDURAN

Pada suatu malam, ketika diundang tahlilan di tempat warga yang rumahnya berada tepat di depan kompleks pondok, para santri terpaksa harus menyusun formasi duduknya sedemikian rupa, lantaran santri yang hadir lebih banyak ketimbang kemampuan ruangan dalam menampung. Sehingga, formasi duduk yang umumnya melingkari ruangan, menjelma bak barisan mahasiswa baru yang sedang duduk berbaris di lapangan.

Mata saya yang semula masih bisa diajak kompromi, lama-kelamaan menunjukkan titik tumbangnya dengan cukup memalukan. Tatkala doa-doa sedang dirapalkan dan tangan saya menengadah, saya tidur, kebablasan, hingga kepala saya membentur punggung Mas Robith (senior saya di pondok) yang posisi duduknya tepat di depan saya. Karena tidak ingin dianggap sedang tidur, saya langsung teriak "Aamiin" keras-keras, berkali-kali, dan sesekali kembali menyundulkan kepala ke punggung Mas Robith. Agar sundulan pertama tadi tak dianggap sebagai ketiduran.

***

MENGIGAU

Saya kerap mengigau. Ini terjadi sudah lama, sejak saya masih kecil. Di rumah, dulu sering terjadi, ketika Bapak atau Ibu membangunkan untuk salat subuh, tiba-tiba saya langsung mengajak beliau masuk ke sebuah percakapan. Lalu saat mulut saya nyerocos bercerita, dengan jelas saya melihat raut muka beliau yang bila diterjemahkan seperti tengah berkata:

"Ini bocah ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"

Namun ketika dituduh mengigau, saya segera memasang kuda-kuda, menjawab tidak dan memberi penjelasan (yang saat itu, menurut saya) logis. Meskipun setelah terjaga beberapa jam, saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:

"Aku tadi ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"

Di pondok, sebulan ini sedang berlangsung muharaman. Acara perlombaan yang kemarin saya ceritakan itu. Ada enam belas lomba yang dipertandingkan: Kaligrafi, Musabaqoh Hifdzil Quran, Voli, Musabaqoh Syarhil Quran, Cerdas Cermat Pesantren, Dramatikal Fiqih, Musabaqoh Qiroatul Kutub, Kreasi Syiir, Tarik Tambang, Masak, Video Ke-Krapyak-an, Kebersihan Kompleks, Sepak Bola, Tenis Meja, Kreasi Busana Bahan Bekas, dan Bulu Tangkis.

Didapuk menjadi salah satu panitia bagian perlombaan, membuat saya harus lebih banyak berpikir tentang perlombaan, sampai ke teknis detailnya. Saat terjaga saya memikirkan lomba. Saat tidur saya memimpikan lomba. Saat lomba, saya menginginkan tidur. Sebuah tidur yang nyenyak. Meski gagal.

Suatu malam, saya terbangun dari tidur. Di kamar, ada Udin (teman sekamar) yang sedang terjaga. Tanpa babibu, saya langsung mengajaknya bicara:

"Pokoknya pemain kita harus lengkap, Din. Besok, kompleks kita tanding sepak bola melawan kompleks anu. Anak-anak bisa dikondisikan, kan?"

Udin mengernyitkan dahi. Sepertinya sedang mencoba mencerna maksud ucapan saya. Dalam keadaan yang demikian, saya yakin, pasti isi kepalanya sedang berkata:

"Ini bocah ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"


***

(Foto di atas, bukan saat kejadian berlangsung. Hanya berusaha mencari foto yang pas saja, agar tidak seperti selebgram-selebgram itu)

0 komentar:

Posting Komentar