Cerita Pendek Yang Pendek: "Misteri Hilangnya Sempak"



Sudah tak terhitung, berapa kali saya mendengar anak-anak pondok mengeluh: sempakku hilang! Beruntung, sampai hari ini saya belum pernah mengalaminya. Jika Anda bertanya "Apa resep manjur agar sempak tidak hilang?", tentu jawaban saya adalah "Jangan punya sempak!"

Beberapa dari mereka yang hilang sempaknya, mengalami kesedihan cukup mendalam. Bahkan ada yang sampai depresi dan nyaris berniat bunuh diri, mengikuti jejak Freddie Prinze, Kurt Cobain, dan Robin Williams. Namun niat itu segera sirna lantaran di pesantren pernah dijelaskan bahwa bunuh diri termasuk dalam dosa besar.

Di antara mereka yang bermuram durja, ada beberapa yang kemudian senyumnya merekah. Mereka adalah para korban yang kembali menemukan sempaknya—tentu bukan melalui mimpi. Sebuah peristiwa mengharukan yang tentu pertemuannya akan lebih baik lagi bila ditayangkan dalam program semacam Tali-Temali Kasih.

Apakah sampai di sini masalah lantas selesai?

Jawabannya tidak, karena keluhan selanjutnya muncul: sempakku ketemu, tapi kendur!

"Untuk sempak yang hilang, sementara belum ada jawaban pasti: baik penemuan berupa barang bukti maupun penetapan tersangka. Karena untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka, setidaknya butuh minimal dua alat bukti," kata saya saat konferensi pers, di depan para santri yang menjadi korban, dan didampingi keluarganya yang menangis sesenggukan. "Namun untuk sempak yang telah kembali ke pelukan, dan pulang dalam keadaan kendur, sepertinya saya tahu siapa pelakunya." Saya mengatakan ini sembari mengumpankan senyum. Sebuah ekspresi yang jelas-jelas berbanding terbalik dengan anak-anak pondok yang berbadan tambun. Salah satunya, Nur, bocah di sebelah saya ini.

0 komentar:

Posting Komentar