Cerita Pendek Yang Pendek: "Siapakah Kakaknya Nur yang Sesungguhnya?"



Mayoritas penghuni kompleks pondok saya adalah mereka yang sudah kuliah. Anak-anak sekolah hanya minoritas. Lebih minoritas lagi, anak-anak sekolah dengan kelakuan atau bentuk tubuh yang unik. Berbeda.

Beberapa minggu lalu, ada anak lulusan SMP masuk. Nur, nama panggilannya. Bentuk tubuhnya gempal dan pendek. Bila ia sedang tertawa, saya kerap kesulitan untuk membedakannya dengan Narji Cagur. Kehadirannya, menambah populasi manusia kenyal di kompleks saya, selain Irfan dan Ubed—santri 'berisi' (baca: gelonggongan) lainnya.

Sore tadi, setelah mandi, saya memutuskan untuk sikat gigi di tempat wudu, yang letaknya antara kamar mandi dan jalur keluar-masuk menuju tempat wudu. Saya memilih untuk sikat gigi (dan cuci muka) di luar, dalam rangka: demi menebang potensi mengularnya antrean mandi.

Langkah Ubed menuju ke kamar mandi terpaksa harus terhenti karena ukuran tempat wudu yang sempit itu telah saya kuasai. Pada saat yang sama, ketika saya sedang sikat gigi, Nur yang baru saja keluar dari kamar mandi juga kesusahan untuk lewat lantaran terhalang oleh badan saya. Jadilah Ubed berseloroh:

"Minggir, adikmu mau lewat tuh!"

Saya yang sudah selesai sikat gigi pun segera berkumur, lalu memastikan pernyataannya:

"Adikku? Serius, Bed?" Saya mengumpankan senyum sarkastis. Setelah memberi jalan agar Nur segera lewat, saya berkata pelan kepada Ubed:

"Bed, kamu salah besar, kalau menyangka Nur sebagai adikku. Aku kira, seluruh santri di kompleks ini pun lebih tahu: siapa di antara kita yang lebih cocok untuk disebut sebagai kakaknya Nur?"

Ubed hanya diam. Akhirnya saya pun memberi ruang, agar ia bisa melintas. Dari belakang, saya menyaksikan badannya yang geyal-geyol, yang bila diberi efek slow motion, pasti akan menimbulkan pergerakan lemak yang jenaka.

0 komentar:

Posting Komentar