Cerita Pendek Yang Pendek: "Bapak-Bapak di Warung Kopi"




Di sebuah warung kopi tempat bapak-bapak biasa nongkrong, ada dua bapak (Pak Sardi dan Pak Suketi) sedang mengobrol—yang sebetulnya lebih cocok untuk disebut berdebat. Mereka saling mengunggulkan anaknya, yang kini sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Setiap Pak Sardi menceritakan kepintaran anaknya di sekolah dalam hal mata pelajaran, langsung dibalas oleh Pak Suketi, dengan memamerkan kepiawaian anaknya di bidang olahraga. Dan seterusnya. Tidak habis-habis, karena yang mereka perbandingkan adalah dua hal yang berbeda.

Merasa tidak mau kalah, Pak Sardi berusaha mencari titik lemah yang dimiliki anak Pak Suketi. Hingga terjadilah percakapan berikut ini:

"Bagaimana bisa, Sekolah Dasar yang seharusnya cukup ditempuh 6 tahun, malah anak Anda menempuhnya selama 7 tahun?" tanya Pak Sardi, dengan disertai senyum licik.

"Anak saya memang tinggal kelas, sih. Satu kali, ketika kelas 4 Sekolah Dasar. Namun bukan berarti Anda bisa sewenang-wenang menghina anak saya. Memangnya, anak Anda menempuh Sekolah Dasar selama berapa tahun?" Sampai di sini, Pak Suketi sebetulnya sudah kehabisan akal, harus menjawab bagaimana lagi. Namun karena tidak mau terlihat kalah, beliau menjawab sekenanya, memasukkan unsur ketidakterimaan kalau anaknya direndahkan.

"Oh anak saya? Cukup 5 tahun saja, karena ia mengikuti program akselerasi." Inilah jawaban yang sejak tadi Pak Sardi siapkan, untuk memukul telak Pak Suketi.

Bingung harus memberi respons apalagi, Pak Suketi kemudian memilih diam, menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Bila ini sebuah film India, ingin sekali Pak Sardi menari-nari, merayakan kemenangan. Namun belum sempat ia membayangkan dirinya menari-nari bersama ibu-ibu kompleks, tiba-tiba Pak Suketi melontarkan pertanyaan:

"Apakah Anda tahu alasan sebenarnya, mengapa anak Anda bisa menempuh Sekolah Dasar selama 5 tahun?"

"Hah, alasan? Ya akselerasi itu, Pak. Tidak ada alasan lain." Pak Sardi menjawab dengan raut wajah setengah panik. Mengapa akselerasi harus ada alasannya, tanyanya kepada diri sendiri. Akselerasi, ya akselerasi saja. Kalau ada alasan, maka satu-satunya alasan ialah karena anaknya pintar. Itu saja, tidak ada yang lain, batinnya.

"Bukan. Akselerasi hanyalah alasan luar saja, dibalik alasan yang sesungguhnya, yang tidak pernah publik ketahui," kata Pak Suketi dengan nada dan ekspresi muka meyakinkan bak sales panci yang dua minggu lalu menyambangi rumahnya.

"Lantas, apa jawaban dari pertanyaan: mengapa anak saya bisa menempuh Sekolah Dasar selama 5 tahun?"

"Jawabannya adalah: karena jatah 1 tahun yang seharusnya ditempuh oleh anak Anda, telah ditempuh oleh anak saya, dengan penuh keikhlasan. Camkan itu!"

Pak Sardi menganga, memikirkan ulang jawaban Pak Suketi barusan. Sampai-sampai ia bertanya kepada dirinya sendiri:

"Apakah program akselerasi ini semacam subsidi silang?"

Kemudian, dengan gagah berani Pak Suketi meninggalkan warung kopi. Melangkahkan kaki dengan penuh keyakinan. Seratus meter tepat di tempat beliau berdiri sekarang, ibu-ibu kompleks sudah menyambutnya, siap untuk mengajaknya untuk menari ala-ala film India.

***

sumber foto: RumahMesin.com

0 komentar:

Posting Komentar