Cerita Pendek Yang Pendek: "Alasan Tidak Betah"



"Aku lebih betah di pondok, ketimbang di rumah," cerita seorang kawan saya (dari lain kompleks) di pondok suatu ketika. Ia mengucapkan ini berkali-kali, yang mana menurut hemat saya, menandakan ia sangat betah di pondok dan sangat tidak kerasan berada di rumah. Saat itu, ingin sekali saya bertanya:

"Mengapa kamu tidak betah di rumah?"

Namun apa daya, pertemuan kami berakhir sebelum saya sempat menanyakannya. Sehingga saya cuma bisa membenamkan pertanyaan tersebut dalam kepala.

Suatu hari, saya, dia, dan teman-teman lainnya yang satu daerah, mengadakan acara ziarah kubur keliling ke makam para ulama. Kami pergi menggunakan sepeda motor, saling berboncengan. Karena salah satu tempat tujuan kami ada yang dekat dengan tempat tinggalnya, teman saya itu pun mengajak kami untuk mampir ke rumahnya.

Mula-mula, kami disambut oleh bapaknya, dan diajak berbincang-bincang beberapa menit. Dalam sekian menit tersebut, percakapan berlangsung dua arah. Tidak lama kemudian ibunya datang. Beliau berbicara (maaf, mungkin lebih tepatnya: berceramah) lama sekali. Sampai-sampai kami tidak diberi ruang untuk berbicara. Dalam durasi yang lama tersebut, beliau bercerita tentang masa mudanya, hal-hal yang beliau perjuangkan dan telah menuai buahnya hari ini, dan memotivasi, dan banyak lagi lainnya. Saya nyaris berasumsi: ini kami lagi bertamu, atau sedang menghadiri acara 'Golden Ways' sih?

"Sebentar ya Nak, jangan pada pamit dulu. Ibu mau ke belakang. Sebentar..." potong beliau.

Dalam jeda singkat tersebut, dia (teman yang di awal telah saya ceritakan) berkata dengan nada pelan sekali kepada saya:

"Kang Mufid, sekarang kamu tahu kan, alasan kenapa saya enggak betah di rumah?"

Tawa saya meledak mendengar pertanyaannya yang retoris. Padahal sejatinya, saya sungguh turut berdukacita atas nasibnya.

***

PS: Foto, bukan representasi cerita. Hanya kebetulan saja ketemu foto yang sepertinya pas. Lalu, saya mengunggahnya.

0 komentar:

Posting Komentar