Zahro dan Kemalasannya Berwudu



Seperti yang sama-sama kita tahu, bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim yang mukallaf, artinya ia baligh (telah sampai umur), berakal laki-laki atau perempuan—dan lainnya, serta suci. Maka jelas, bahwa salat tidak diwajibkan bagi mereka yang non-Islam, perempuan yang berhaidh dan bernifas, orang gila, anak-anak, dan sebagainya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Safinatun Najah, bahwasanya tanda-tanda baligh (mencapai usia remaja) seseorang itu ada tiga, yaitu: laki-laki atau perempuan berumur lima belas tahun, keluarnya air sperma terhadap laki-laki dan perempuan yang bermimpi (junub) ketika melewati usia sembilan tahun—dengan hitungan tanggal Qomariyyah (Hijriyah), dan keluarnya darah haidh sesudah umur sembilan tahun—dengan hitungan tanggal Qomariyyah (Hijriyah). Itu berarti, untuk anak-anak di bawah usia sembilan tahun, tidak dikenakan wajib salat.

Namun meski demikian, kakak saya, Mbak Saadatul Awaliyah beserta suaminya, Mas Imam Muslim, berusaha membiasakan Zahro (anak pertamanya) untuk mengerjakan salat wajib sejak dini. Metodenya ialah menggunakan Da'watul Maqool, yakni mengajak secara lisan untuk melaksanakan salat, dengan cara serta ucapan yang baik, dan pada waktu yang tepat tentunya.




Tetapi, ya, namanya juga belum wajib. Sehingga fokusnya ialah: yang penting Zahro mau terbiasa salat dulu. Kemudian untuk hal-hal yang berhubungan dengan syarat salat, kaifiyyah salat, dan sebagainya, bisa sambil jalan.

Suatu hari ketika usia Zahro masih sekitar lima tahun, Abinya—begitu Zahro biasa memanggil ayahnya—menyuruh Zahro agar segera mengerjakan salat. Namun sebelumnya, dengan suara yang intonasinya agak berbeda, menyuruh untuk berwudu terlebih dahulu. Ya, wudu. Ini mengingat kebiasaan Zahro yang jarang wudu sebelum salat. Sudah diingatkan saja, kadang ia masih mencari-cari alasan agar tidak mengerjakan. Apalagi tidak.

"Nek ajeng salat niku, wudu riyen, cah ayu. Salat kok mboten wudu niku, kados tiyang ingkang eek, terus mboten cawik," kata Abinya.

(Kalau mau salat itu, wudu dulu, anak cantik. Salat kok tidak wudu itu, perumpamaannya seperti orang yang buang air besar, lalu tidak cebok)




Tanpa berlama-lama, Zahro pun langsung menimpali komentar Abinya:

"Wong kulo we nek eek cawik kok."

(Saya, kalau buang air besar, cebok kok)

Kalau saja kala itu Mas Imam membatin, mungkin suara batinnya kurang lebih begini:

"Itu cuma perumpamaan, Zahro. Perumpamaan! Titik fokusnya pada ke-tidak-wudu-anmu itu lho. Bukan pada ke-tidak-cebok-anmu! Iya, Abi tahu, kamu selalu cebok, setelah buang air besar. Kan, Abi juga yang nyebokin."

Jadilah, yang tadinya Mas Imam niatnya ingin memberi nasihat, malah akhirnya harus terpingkal-pingkal mendengar jawaban Zahro.

Hari ini, hari ketika saya menuliskan kisah ini dan usia Zahro sudah enam tahun, saya mendengar Mbak Saadatul Awaliyah tengah mengomel. Penyebabnya, gara-gara Zahro akan salat. Padahal, sebelumnya ia telah tertangkap basah kentut, dan belum mengambil air wudu.

NB: Zahro, yang paling kecil, duduk di depan. Mengenakan baju oranye, kerudung putih.

0 komentar:

Posting Komentar