Cerita Pendek Yang Pendek: "Tamasya Perpustakaan Bersama Sahril"



Di pondok, saya memiliki seorang kawan bernama Sahril. Ia adalah santri yang dikenal rajin dan istiqomah dalam beribadah. Maka tidaklah mengherankan bila teman-teman di pondok kerap memanggilnya "Syekh", yang dalam Bahasa Arab berarti kepala suku, pemimpin, tetua, atau ahli agama Islam. Itu panggilan yang (menurut kami) layak disematkan kepadanya.

Dalam praktiknya, terkadang kami menambahi panggilan untuknya menjadi "Syekh Ril", bahkan ada pula yang memanggilnya "Syekh Ril Noah". Bermacam-macam. Saya malah sering tergoda untuk menerkanya wali, lantaran kelakuannya yang berbeda dari kebanyakan manusia. Namun apa daya, saya bukan wali. Sehingga tidak berhak untuk melegitimasi ia sebagai wali. Senada dengan ucapan Abu Yazid al Busthami, bahwa para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya, dan tidak akan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Jadi, ya sudahlah, tebakan-tebakan itu saya biarkan berkecamuk dalam pikiran saja.

Sabtu lalu, Sahril mengajak saya untuk mengunjungi Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. "Ingin mencari referensi untuk mengerjakan tugas akhir," tuturnya. Meski terkadang, saya melihat, ada batasan tipis antara ingin mencari referensi di perpustakaan dengan kehendak cuci mata. Tapi saya iya iya saja menjawab ajakannya.

Karena merasa menjadi pihak yang mengajak, maka dia pulalah yang menyiapkan kendaraan. "Pakai motornya Hartono (kawan pondok saya yang lain) saja. Ini kuncinya," katanya sembari menunjukkannya ke hadapan saya. Saya pun oke oke saja. Lha wong cuma diajak.

Kami berangkat bakda salat zuhur. Sesampai di pintu masuk dekat Bundaran UGM, saya melihat Sahril melewati petugas portal tanpa ada yang memberhentikan, tanpa ada yang memberinya karcis parkir. Padahal kami bukan mahasiswa UGM.

"Allahu Akbar!!! Syahril betul-betul wali!!!"

Dia hanya ketawa-ketawa saja mendengar teriakan saya. Setelah menengok ke belakang, saya baru sadar kalau rupanya, yang ia lewati adalah jalur KIK—Kartu Identitas Kendaraan, yakni jalur khusus untuk dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan mitra UGM.

"Wong edan! Salah masuk kita Ril. Harusnya kita lewat jalur NON KIK."

Saya kira Sahril akan berhenti, berbalik, lalu meminta karcis parkir. Ternyata tidak. Dia ngeloyor saja seolah tak berdosa, kemudian memarkirkan motor di samping perpustakaan.

"Duh, bagaimana nanti ini Mas?" tanyanya kepada saya. Saya kemudian melihat ke pos satpam perpustakaan.

"Tuh, baca!" Telunjuk tangan kanan saya mengarah ke papan di samping pos satpam perpustakaan, yang menjelaskan bahwa untuk bisa keluar, harus menunjukkan STNK.

"Tapi aku enggak bawa STNK, Mas," tukasnya dengan airmuka memelas. "Wali kok melas," batin saya. Sambil berusaha menenangkan diri, saya menjawab: "Ya sudah. Nanti tinggal menjelaskan saja kepada petugas portal." Saya yakin, kalau ia benar-benar wali, prosesnya nanti akan lebih banyak dimudahkan. Tanpa dicurigai. Kami pun lantas memilih untuk melupakannya sejenak, dan fokus kepada tujuan utama: mencari referensi untuk mengerjakan tugas akhir.

Tak dinyana, rupanya perpustakaan UGM sudah tutup! Kami harus segera mencari solusi. Saya pun menanyakan sesuatu kepadanya.

"Kamu sudah pernah ke Perpustakaan Kota Jogja yang letaknya di Jl. Suroto, belakang toko buku Gramedia di Jl. Sudirman?"

"Pernah," jawabnya.

"Cari di situ saja gimana?"

"Sudah pernah Mas. Perpustakaan lainnya saja."

"Perpustakaan Grhatama Pustaka BPAD DIY, pernah?"

"Mana itu Mas?"

"Dekat JEC."

"Oh, belum."

"Ke situ?"

"Oke."

Kami pun bersiap menuju Perpustakaan Grhatama Pustaka BPAD DIY. Proses untuk keluar dari lingkungan UGM akhirnya berjalan cukup mudah. Kepada satpam perpustakaan, kami cukup bilang kalau tadi lupa meminta karcis parkir. Ditambah, kami juga lupa membawa STNK. Kami juga mengatakan hal yang sama kepada petugas portal parkir dekat Bundaran UGM. Bedanya, mereka meminta kami untuk menunjukkan kartu identitas lainnya. Setelah menunjukkan, dan dibolehkan keluar, kami pun segera bergerak menuju Perpustakaan Grhatama Pustaka BPAD DIY.

Jarak antara Perpustakaan UGM ke Perpustakaan Grhatama Pustaka BPAD DIY, cukup jauh juga. Sesampainya di sana, saya melepas helm dan segera turun dari motor. Sahril, yang masih duduk di jok motor, menatap Perpustakaan Grhatama Pustaka BPAD DIY dengan penuh optimis. Dia berharap, referensi yang ia cari, ketemu di sini. Saat turun dari motor, ia berteriak:

"Mas, kuncinya hilang!!!"

"Hah, hilang bagaimana?" Saya kemudian menuju ke arah motor yang mesinnya masih menyala. Dan, ya, betul-betul hilang.

Saya kira ia akan melanjutkan kepanikannya. Namun setelah menyadari kalau kuncinya hilang, ia malah dengan santainya mengajak masuk ke perpustakaan.

"Nanti pulangnya gampang. Motor ini, menyalakan mesinnya, bisa menggunakan sembarang kunci kok," tukasnya.

Ketika ia mengucapkan "bisa menggunakan sembarang kunci", maka inilah kunci yang pertama ada dalam pikiran saya:



"Enggak Ril, kita pulang saja. Ya, meskipun kamu wali, memangnya kamu bisa menjamin, kalau mesin motor ini dimatikan, lalu kita masuk perpustakaan, terus nanti pas pulang dan mencari sembarang kunci, lalu mesin motornya bisa menyala?" Saya kemudian kembali memakai helm. "Pulang saja ya. Asli, aku enggak mau dorong motor dari sini sampai pondok."

Sahril akhirnya menurut, dan ia bersedia kembali datang ke perpustakaan hari Senin. Selama perjalanan pulang, saya melontarkan berbagai ancaman:

"Awas kalau sampai mesin motornya mati! Awas!"

"Kalau sampai mesin mati, aku naik GoJek."

Dan ancaman-ancaman lainnya.

Sungguh, saya tidak mau mendorong motor dari Perpustakaan Grhatama Pustaka BPAD DIY sampai Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

0 komentar:

Posting Komentar