Sarapan Pagi Penuh Duka



Hari ini, kami (sekeluarga) bertolak ke Ngawi, dalam rangka silaturahim lebaran ke rumah simbah—ayah dari bapak. Ini merupakan agenda wajib keluarga setiap tahun.

Biasanya, kami berangkat dini hari, dan sampai di Ngawi subuh. Lalu waktu antara pagi hingga sore digunakan untuk keliling silaturahim: ke rumah saudara-saudara, rumah teman-teman bapak semasa kecil, serta banyak lagi.

Tempat pertama yang hari ini dikunjungi ialah rumah Pak Musthofa, guru mengaji bapak semenjak kecil hingga remaja.




Di sana, kami dijamu sebagaimana tuan rumah menyambut tamu pada umumnya. Diawali dengan suguhan minuman serta camilan, dan diakhiri dengan sarapan.

Ketika kami sedang asyik makan, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan lubang anus, yang bersumber dari pantatnya Zahro—anak pertama kakak saya, Mbak Saadatul Awaliyah. Sontak, kami semua langsung tertawa, lalu menghardiknya dengan ucapan:

"Tidak sopan!"

"Zahro, lain kali kalau merasa akan menerbitkan gas dan menguarkan bau mematikan, segera amankan diri. Pindah tempat!"

"Kentut boleh. Pastikan, setting berada pada mode silent!"

Dan, cecaran semacamnya.




Mendengar teror yang sedemikian masif dan datang dari berbagai penjuru tersebut, Zahro tidak mau ambil pusing. Dengan enteng nan tak berdosa, ia menjawab:

"Aku tidak tahu. Tadi ia (pantatnya) kentut sendiri."

Kami tergelak mendengar jawabannya yang brilian. Sungguh di luar dugaan! Saya yakin, jawaban seperti itu, baru terjadi sekali, dalam sejarah hidup anak manusia.




Sembari melanjutkan makan, pikiran kami bergumam: bagaimana bisa, ada ledakan yang berasal dari pantatnya sendiri, namun tidak diketahui oleh empunya? Apakah pikiran dan pantatnya diproduksi oleh pabrik yang berbeda?

Saya rasa, hanya Tuhan dan Zahro yang sanggup menjawabnya.

0 komentar:

Posting Komentar