Manfaat Ilmu Stand Up Comedy Dalam Kehidupan



Setiap bidang dalam hidup yang pernah saya pelajari, selalu mengajari banyak hal tentang hidup. Salah satunya: stand up comedy.

Menuliskan lawakan, itu akarnya keresahan. Ibarat memasak, teknik-teknik dalam menulis lawakan serupa dengan alat-alat yang akan dipakai untuk memasak. Sedangkan keresahan, adalah adonan yang akan dimasak. Yah, meskipun pada titik tertentu, akan ada ucapan: semua orang bisa memiliki alat-alat untuk memasak, tetapi tidak semua orang bisa memasak dengan enak. Namun inti pertamanya, untuk menuliskan lawakan, keresahan, harus hadir lebih dahulu. Bukan sejak awal meniatkan diri untuk mencari kelucuan.

Harus saya akui, semenjak belajar tentang stand up comedy, respons saya tidak pernah dongkol-dongkol amat terhadap hidup, bila ada keburukan yang menimpa. Seburuk apa pun kondisinya. Ya, seburuk apa pun. Karena modal alat-alat (teknik) yang ada, ditambah sedikit sense of humor, saya sanggup menyulapnya menjadi lawakan. Sampai di sini, kemudian saya harus setuju dengan ucapan Arya Novrianus, bahwasanya:

"Semua hal bisa dibecandain. Tapi nggak semua bisa menerimanya."

Keresahan demi keresahan, bagi yang paham ilmu stand up comedy, laksana adonan-adonan yang menunggu untuk dimasak, lalu disantap. Masalahnya, bagi beberapa pihak, ada yang enggan menyantap lawakan yang sebetulnya sudah mereka tolak sejak bentuknya masih berupa adonan. Untuk hal-hal yang (InsyaAllah) bisa diterima, biasanya saya melontarkannya, baik dalam bentuk celetukan maupun tulisan. Lalu untuk hal-hal yang mengkhawatirkan, namun saya membaca ada potensi komedi, saya biasanya mengolahnya, lalu membiarkan kepala saya sendiri yang menikmatinya. Karena mengetahui keresahan dan sadar ada potensi komedi, namun tidak mengolahnya, itu perumpamaannya seperti orang yang kebelet tapi ditahan-tahan.

Semakin buruk kondisi = semakin resah = semakin banyak hal yang bisa diolah menjadi materi lawakan. Sebelum belajar stand up comedy, kalau sedang kesal, terkadang saya meninju-ninju pohon menggunakan tangan. Macam orang gila saja. Kalau emosi belum reda juga, kaki pun ikut ambil bagian: menendang apa saja yang saat itu mengganggu pandangan. Saya jadi merasa hina, kalau mengingat-ingat beragam respons tolol yang pernah saya lakukan ketika dahulu dirundung amarah. Bagaimana tidak tolol? Kalau saya meninju pohon, atau menendang pintu, maka tidak serta merta si masalah akan menyelesaikan dirinya sendiri. Selesai, tidak. Sakit, iya.

Saya harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada siapapun yang pernah mengajari saya perihal ilmu-ilmu dalam stand up comedy. Meskipun sudah lama sekali saya tidak praktik (tampil) stand up comedy, tetapi ilmu-ilmunya masih saya pakai sampai hari ini. Sekedar untuk mengakrabkan pertemanan, menghangatkan tongkrongan, serta penetrasi media sosial yang belakangan frekuensi kegaduhannya masif sekali.

Dan pada akhirnya, sebetulnya, itu semua demi kesehatan pikiran dan jiwa saya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar