Cerita Pendek Yang Pendek: "Karma Santri Tidur."



Pada bulan-bulan selain bulan ramadan, di pondok, salah satu kajian kitab setiap bakda subuh ialah Tafsīr al-Jalālayn. Kitab yang secara harfiah berarti: "tafsir dua Jalal", yakni sebuah kitab tafsir al-Qur'an terkenal, yang awalnya disusun oleh Jalaluddin al-Mahalli pada tahun 1459, dan kemudian dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Jalaluddin as-Suyuthi pada tahun 1505.

Setiap kali kajian kitab ini, saya kerap mendapati Mas Nang—demikian, saya biasa memanggil orang di samping saya yang mengenakan batik ini—tertidur tatkala mengaji. Sampai-sampai, membuat saya, pada hari-hari berikutnya, ketika akan mengaji dan kebetulan Mas Nang masih terjaga, saya kerap membisikkan kalimat bernada sarkastis ke telinganya:

"Nemenin Mas Nang ngaji sambil tidur, ah!" Saya mengatakan itu, sembari duduk di sampingnya.

Boleh dibilang, untuk kajian kitab yang selain bulan ramadan ini, saya jarang sekali tidur ketika mengaji. Tapi saat saya sering memutuskan untuk duduk di sebelah Mas Nang, lagi dan lagi, saya selalu mendapatinya tidur setiap kali mengaji. Bahkan, pernah pada suatu pagi, saya dan para santri lainnya, secara diam-diam sepakat untuk meninggalkannya sendirian di tempat mengaji. Lalu di luar ruangan, kami terkekeh-kekeh, membahas Mas Nang seraya menunggunya keluar. Tak lama, ia pun keluar sambil berjalan dengan terseok-seok, kesemutan.

"Siapa Mas, yang membangunkan? Hahaha," tanya kami rame-rame.

"Gus Faik," jawabnya, disertai tawa memelas. Sebagai informasi, Gus Faik ialah guru kami yang mengampu kajian kitab Tafsīr al-Jalālayn. Beliau merupakan salah satu cicit dari KH. Moehammad Moenawwir bin Abdullah Rosjad, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Sekarang, pada bulan ramadan ini, jadwal mengaji cukup padat. Kajian dimulai sejak bakda subuh, dan baru berakhir pukul sebelas malam. Itu pun belum ditambah kalau kamarnya mendapat jatah tadarus, yang minimal dua juz. Bisa-bisa, mulai tidur sekitar jam setengah satu dini hari. Lalu mereka yang jatah ronda malam, akan membangunkan kami semua pada jam tiga dini hari, untuk makan sahur.

Para santri yang pada bulan-bulan lain sanggup terjaga selama mengaji, tentu akan tumbang dihadapkan dengan jadwal mengaji ramadan yang demikian padat. Termasuk saya.

Pada awal-awal ramadan, para santri hadir dengan semangat menggelora, mata menyala-nyala. Lambat laun, satu per satu dari kami layu, mulai tertidur tatkala mengaji. Saya pun.

Kajian kitab Tafsīr al-Jalālayn yang biasanya pagi hari, pada ramadan ini berganti jadwal menjadi pukul dua siang.

Beberapa hari lalu, ketika kajian kitab ini, saya tertidur pulas sekali. Tentu dengan posisi duduk yang masih menghadap kitab. Saking nyenyaknya, kemudian saya terbangun dalam keadaan ruangan kosong, dan pintu-pintu tertutup.

"Asem, ditinggal!" Saya berjalan keluar dengan kaki sempoyongan. Apalagi kalau bukan gara-gara kesemutan? Saya betul-betul merasakan apa yang saat itu Mas Nang rasakan. Ya, beberapa teman sudah berada di luar ruangan, menyambut saya dengan terpingkal-pingkal. Menodong dengan pertanyaan ini dan itu.

Sejak kejadian itu, sampai hari ini, bila pada jam mengaji (apa pun) kok kebetulan saya duduk di samping Mas Nang, kepadanya saya membisikkan:

"Mas, mau ngaji sambil tidur?" Mas Nang hanya tertawa, tak menjawab sepatah kata pun. "Kalau iya, saya temani," pungkas saya.

0 komentar:

Posting Komentar