Cerita Pendek Yang Pendek: "Kisah Pendek Tentang Jarak Antar Karpet Yang Sangat Pendek."



Ketika masih duduk di bangku MTs—setara SMP, saya pernah mengalami sebuah kejadian yang sampai hari ini, begitu susah untuk dilupakan.

Jadi begini kisahnya. MTs tempat dulu saya menimba ilmu, mewajibkan seluruh siswanya untuk salat zuhur berjemaah di musala yang letaknya masih di lingkungan sekolah. Setiap bel istirahat kedua berbunyi, yakni sekitar pukul dua belas siang, beberapa guru 'ngoprak-oprak' seluruh siswa agar segera mengambil air wudhu. Sementara beberapa guru lainnya, bertugas di dalam musala, merapikan barisan.

"Shaf paling depan, penuhi dulu. Baru belakangnya, sampai penuh juga. Lalu belakangnya lagi. Dan seterusnya," begitu kira-kira, komando yang biasa guru teriakkan, dalam rangka merapikan barisan kami.

Saat itu, yang berada tepat di belakang saya adalah salah satu senior di sekolah yang cukup dikenal badung. Karena merasa tidak memiliki masalah dengannya, tentu saya pun merasa santai saja.

Keadaan yang semula santai tersebut, kemudian menjelma menjadi tidak santai lantaran ketika bangkit dari sujud, tanpa sengaja pantat saya menyundul kepalanya. Setelahnya, saya melakukan gerakan demi gerakan salat dengan diliputi kecemasan tiada tara, khawatir kalau-kalau sebentar lagi ia melancarkan pembalasan.

Rupanya konsep 'Law of Attraction' atau hukum tarik-menarik yang Rhonda Byrne tulis dalam bukunya yang berjudul 'The Secret' itu—dan ia bikin film-nya dengan judul yang sama pula, ada benarnya juga dalam kasus yang saya alami ini. Pembalasan yang tadinya hanya ada dalam pikiran saya, akhirnya terwujud dalam bentuk bogem mentah secara semena-mena ke pantat saya, tatkala gerakan salat sampai pada gerakan sujud, yang mana, saat itu pantat saya sedang dalam kondisi njengking se-njengking-njengkingnya njengking.

Teriak aduh? Tentu tidak. Apalagi kok bilang 'iyung' dalam tempo sekeras-kerasnya. Karena itu sama dengan mengundang bentuk-bentuk bogem yang lain, yang dieksekusi langsung oleh guru-guru, dalam rangka menghukum siswa-siswa yang 'guyon' selama salat. Akhirnya, saya lebih memilih untuk meringis seraya mengelus-elus pantat, yang kalau saja siang itu saya diijinkan memelorotkan celana, pastilah ada bekas merah di bagian pantat yang baru saja ketiban sial tersebut.

Kalau disodori pertanyaan: apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Tentu saja jawaban saya: salah satunya, jarak karpet antar shaf yang demikian sempit.

Jujur, sampai hari ini, setiap kali akan bangkit dari sujud, saya masih merasa insecure:

"Duh, jangan-jangan, kalau saya bangkit sekarang, kepala orang di belakang saya bisa kesundul."

"Duh, jangan-jangan, kalau saya bangkit sekarang, kepala saya, kesundul pantat orang yang berada di depan saya."

Saat terpenjara dalam keadaan demikian, saya hanya berharap agar orang yang di depan maupun di belakang saya, tidak se-pemikiran dengan saya. Karena kalau sampai se-pemikiran, tentu tidak akan ada yang segera bangkit-bangkit dari sujud.

Terakhir. Ketika pada akhirnya, lagi-lagi kok pantat saya tidak sengaja menyundul kepala orang di belakang saya, atau jari-jari kaki saya menyenggol kepalanya, maka tatkala gerakan telah mencapai sujud, isi kepala saya seperti secara otomatis memberikan instruksi:

"Bersiaplah Fid, sebentar lagi, sesuatu akan terjadi, menimpa pantatmu! Bersiaplah! BERSIAPLAH!"

0 komentar:

Posting Komentar