Cerita Pendek Yang Pendek: "Cara Elegan Bertanya Usia Kepada Seseorang."


Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta memiliki banyak sekali Kompleks. Kalau Nurussalam Putra adalah nama Kompleks saya, maka ada pula Kompleks lain yang bernama Madrasah Huffadh. Sebuah Kompleks yang terkenal dengan penghuninya yang para penghafal Al-Qur'an.

Pada suatu petang, ada seorang teman dari Kompleks Madrasah Huffadh yang bertanya sesuatu yang sensitif kepada saya.

"Mas, usia kamu berapa?" Itulah pertanyaannya. Kurang ajar sekali, belum lama kenal kok berani-beraninya langsung tanya usia, batin saya.

"Rahasia!" Saya menjawab dengan ketegasan yang sedikit pun tak menampakkan keraguan, sebagai bentuk upaya untuk menutup-nutupi.

"Oh, ya sudah kalau begitu. Ngomong-ngomong, kamu punya adik berapa, Mas?" tanyanya lagi.

"Dua." Saya menjawab dengan menyodorkan dua jari, seperti yang dilakukan oleh para bintang iklan Yakult saat mereka berkata "saya minum dua" dalam iklannya.

"Mereka masih sekolah, ya?"

"Adik kedua, masih sekolah. Kelas 3 Madrasah Aliyah — setara SMA. Adik pertama, sudah kuliah. Sekarang lagi KKN."

"Cukup, Mas, cukup," katanya, sembari mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke hadapan muka saya.

"Cukup kenapa?" Saya bertanya dengan penuh kebingungan. Karena memang betul-betul tak mengerti maksud dari kata "cukup" tersebut.

"Cukup jawabannya. Karena sekarang aku sudah tahu, berapa kira-kira usiamu."

"Wooo... Jangkrik!"

0 komentar:

Posting Komentar