"Bonus itu diambil, setelah syarat dipenuhi lebih dulu."


Pada suatu siang yang terik, ada sales datang ke rumah, menawarkan kompor gas. Saat itu, ibu sedang pergi bekerja. Di rumah, hanya ada bapak, dan saya yang kala itu baru pulang dari sekolah.

Dengan terampil sales itu menjelaskan mengenai fitur-fitur yang dimiliki oleh kompor gas tersebut. Lalu pada bagian akhir, ia berkata:

"Kompor gas ini harganya setengah juta. Namun jika bapak membelinya hari ini, maka kami akan memberikan voucher berupa diskon 50% yang itu berarti harganya cukup 250 ribu saja!"

Setelah diam cukup lama, kemudian bapak membuka suara,

"Bagaimana kalau saya mengambil voucher yang berupa diskon tersebut, namun tidak membeli produknya?" kata bapak. Bapak berharap, bisa mendapat uang 250 ribu tanpa membeli kompor gas tersebut. Terdengar kocak, namun memang begitulah adanya.

"Wah, tidak bisa, pak. Untuk bisa memperoleh voucher ini, bapak harus terlebih dahulu membeli kompor gas ini," sergah sales itu dengan nada sengit.

Siang itu, baik pihak sales maupun bapak saya, masih terus saja berdebat alot yang pada intinya sama: sales itu ingin agar kompor gasnya dibeli baru kemudian memberikan voucher, sedangkan bapak saya tetap keukeuh ingin mendapatkan cash dari nominal yang tertera pada voucher tanpa membeli kompor gas tersebut. Setelah capek meracau tanpa hasil, akhirnya sales itu memilih untuk pamit dengan muka penuh kekesalan.

Saya mengingat peristiwa di atas tatkala melamun di burjo (sebutan untuk warung makan di Jogja) tengah malam tadi.

Seumur-umur makan di burjo, setiap setelah pesan nasi-telur atau magelangan (pesanan saya jarang sekali jauh-jauh dari 2 itu), saya hampir selalu menjawab dengan "Minumnya air putih saja, mas." ketika Aa burjo (sebutan untuk penjualnya) menodong saya dengan pertanyaan "Minumnya apa, mas?". Ini bukan semata karena ingin hemat atau pelit, namun karena memang sejak kecil saya sudah terbiasa minum air putih setelah makan. Saya bahkan sampai hari ini setiap akan membayar dan ditanya "Apa saja?" oleh Aa burjo, selalu memasukkan air putih sebagai salah satu menu yang ikut saya telan. Saya hanya khawatir kalau setelah ditanya dan air putih tidak saya masukkan ke dalam hitungan -- meski pada umumnya memang gratis, ternyata itu bayar. Maka dari itu, untuk berjaga-jaga, saya tidak boleh luput untuk selalu memasukkan air putih ke dalam hitungan. Faktanya, selama ini, air putih di burjo selalu gratis. SELALU.

"Berarti air putih ini bonus," kata saya kepada diri sendiri. "Ia hanya bisa diperoleh kalau syarat sudah dipenuhi, yakni memesan (apa pun) terlebih dahulu di burjo, baru kemudian dianggap sah kalau ingin meminta air putih."

Sembari menikmati lezatnya sepiring magelangan tengah malam tadi, saya berpikir: bagaimana kalau saya bersikap seperti bapak ketika ditawari kompor gas oleh sales?

Kemudian saya membayangkan diri saya sedang berolahraga pada suatu pagi, lalu tatkala letih mendera dan rasa haus menimpa, saya mampir ke burjo, dan berkata:

"Aa, minta air putih, ya."

Setelah air putih itu saya tenggak, lalu saya cukup dengan mengucap "Terima kasih ya, Aa" kemudian ngeloyor pergi.

Dalam pikiran, saya menyangka sudah pasti akan diludahi. Atau minimal, si Aa akan mengumpat tiada henti. Gara-gara saya hanya memilih untuk mengambil bonus, tanpa melakukan syarat.

Ternyata, tak semua hal-hal yang gratis bisa diambil langsung dengan cara-cara gratis. Karena 2 contoh di atas membuktikan bahwa ada hal-hal gratis yang memang cara mengambilnya harus dengan membayar terlebih dahulu. Atau jangan-jangan "gratis" pada 2 contoh di atas sebetulnya ialah sesuatu yang sudah kita bayar karena telah memenuhi syarat? Wallahu a'lam bishawab.

0 komentar:

Posting Komentar