Tentang Kopi Hitam Beserta Candu Sialannya


Saya belum lama menjadi penikmat kopi. Belum ada 10 tahun. Kelasnya pun, sampai sekarang, masih kelas kopi sobek. Kopi yang dengan mudah bisa diperoleh di warung-warung. Bukan kopi yang untuk meminumnya, harus terlebih dahulu kopinya digiling secara manual menggunakan lesung dan alu, atau menggunakan alat penggiling kopi yang disebut kahve deÄŸirmeni. Lalu bersama gula dan air, kopi yang telah digiling itu ditaruh di sebuah bejana yang disebut ibrik. Bukan, saya belum mencapai kelas peminum kopi yang semacam itu, beserta seluruh metode-metode pembuatan kopi yang ada, seperti Neapolitan Flip, atau French Press, atau Drip Method dan kawan-kawannya itu. Sekali lagi, sampai artikel ini ditulis, kelas saya masih sebagai peminum kopi sobek.

Saya juga bukan peminum kopi yang memilih minum kopi hanya gara-gara ia sanggup mengurangi risiko diabetes tipe II dan mampu meningkatkan pembakaran lemak, serta kebaikan-kebaikan lain yang terkandung dalam kopi. Kalau sejak awal saya sadar bahwa meminum kopi bisa membakar lemak, maka minum kopi sudah pasti akan segera saya sudahi saat itu juga. Karena saya, lemak pun tak punya. Kurus kerempeng begini. Apanya yang mau dibakar? Tulang-tulang dalam tubuh saya? Tinggal kulit saja dong nanti.

Saya minum kopi, terutama kopi hitam, karena saya menyukai baunya. Saya suka membuat kopi dalam keadaan air yang baru saja mendidih. Lalu, kopi saya letakkan di samping tempat saya biasa membaca buku, atau menulis di laptop. Dan, akhirnya saya bisa konsentrasi membaca atau menulis dalam keadaan hidung sembari menikmati asap serta bau kopi yang menguar di udara. Sungguh, itu ialah saat-saat yang paling saya sukai.

"Bukankah itu akan mengganggu saat-saat kamu membaca atau menulis?" tanya seorang teman kepada saya. Menurut saya, tidak. Memang, apa bedanya menyedot bau kopi yang timbul dari gelas, dengan menghirup wangi parfum yang muncul dari pengharum ruangan otomatis macam air fresh spray yang bisa disetel jaraknya antara 5 menit sampai dengan 25 menit itu? Sama saja, bukan?

Suatu hari saya pernah pergi ke sebuah kafe, lalu memesan kopi Americano, yakni espresso yang dicampur dengan air panas. Ini adalah kopi hitam murni yang tidak terlalu kental, namun pahit. Nah, pahitnya inilah yang kemudian membuat saya harus meringis-meringis setiap kali menyeruputnya. Jujur, saya tidak biasa minum kopi dalam keadaan pahit. Semisal ada saudara atau teman yang menawarkan kopi racikannya sendiri pun, saya selalu berpesan kepadanya untuk jangan lupa menaburinya dengan takaran gula yang pas, sebagaimana kopi yang biasa saya seduh tatkala minum kopi sobek. 

Niat awal saya pergi ke kafe itu, sebetulnya hanya ingin coba-coba saja. Sok-sokan pengin naik level sebagai penikmat kopi. Namun pada akhirnya, balik lagi ke kopi sobek. Yah, mungkin maqam saya memang masih kopi sobek.

***

"Tidak, saya tak akan kecanduan. Percayalah!" kata saya suatu waktu kepada diri sendiri, ketika memutuskan ingin sering-sering minum kopi. "Toh, saya tahu benar apa yang saya pilih. Dan saya melakukannya dengan penuh kesadaran. Tidak, lah, saya tidak akan kecanduan kopi. Segala yang saya lakukan, pertama-tama, ada dalam kendali Tuhan. Selanjutnya, kendali ada pada diri sendiri," lanjut saya.

Saya pernah menjadi orang yang kebingungan dengan pertanyaan: apa passion saya? Lalu untuk mengatasi hal tersebut, saya memutuskan untuk mencoba berbagai bidang. Setelah ketahuan di titik mana saya paling kuat, maka di sanalah saya berlabuh, lantas mengabaikan bidang-bidang lainnya. Nah, inilah yang mula-mula saya lakukan ketika meleburkan diri ingin menjadi penikmat kopi (yang tak mau diserang candu), sebagaimana para penulis buku, atau orang-orang ronda di malam minggu, dan para warga NU. 

Saya mencoba berbagai merek kopi sobek: Good Day, Kapal Api, Coffemix, Nescafe, Kopi Luwak, Luwak White Coffe, Kopi ABC Susu, dan banyak lagi. Lambat laun, berbungkus-bungkus percobaan itu menyimpulkan dirinya sendiri: ternyata bau kopi hitam panas itu sedap sekali. Enak. Ia seperti merengek-rengek kepada hidung, merayu agar segera diminum. Maka, diputuskanlah, bahwa setiap ingin minum kopi, saya selalu memilih kopi hitam.

Tanpa terasa, hal sepele itu bertahan beberapa tahun. Selama itu pula, saya selalu sukses, andaikata napsu ngopi menyerang. "Tidak! Saya sedang tidak ingin minum kopi hitam! Kalau TIDAK, ya TIDAK!" kata saya pada masa-masa awal, ketika rasa ingin minum kopi tiba.

Di masa pertengahan, cecaran kepada diri sendiri itu semakin berkurang susunan kalimatnya. Hanya menjadi "Tidak! Saya sedang tidak ingin minum kopi hitam!" saja. Mula-mula saya sempat curiga dan khawatir: jangan-jangan, cemoohan kepada diri sendiri ketika ingin minum kopi hitam tersebut, kelak akan semakin menyusut kadar kegarangannya. "Tidak, saya tak akan kecanduan. Percayalah!" Saya menguat-nguatkan diri, menggunakan nasihat lama.

Beberapa hari lalu, pada suatu pagi, dua orang kawan saya di kamar Sunan Gresik, Kompleks Nurussalam, Pondok Pesantren Al-Munawwir di Krapyak, Yogyakarta, membeli kopi yang dibungkus dengan plastik. Satu kopi hitam, dan satu lagi white coffe. Di kamar, saya pura-pura menyibukkan diri, dan sedikit pun tak mempedulikan apa yang mereka minum. Namun sungguh sialan, saya tak bisa menolak kemauan asap-asap kopi yang memang secara ngotot ingin menelusup ke dua lubang hidung saya. Apa pun kegiatan yang saya lakukan untuk mengalihkan pandangan, selama saya masih berada di kamar, maka bau-bau itu tak akan lenyap. Brengsek!

Saya keluar, membawa laptop, lalu menulis di sebuah tempat yang sepi. Sampai pukul 2 siang, saya bisa menulis tanpa distraksi. Sampai pukul 3 siang, saya berdebat alot dengan diri saya sendiri, bahwa meskipun napsu ini ingin sekali minum kopi, tetapi saya tak mau menuruti.

"AKU TAK BISA DIPERBUDAK! KALAU TIDAK, YA TIDAK!" Saya mendebat diri keras-keras, dalam keadaan lidah serta perasaan tak keruan. Walau seperti apa pun, saya harus tetap kuat. Tak boleh menuruti. Saya harus minum kopi, kalau memang sedang ingin minum kopi. Bukan karena candu.

Tak lama kemudian, adzan ashar di masjid Al-Munawwir berkumandang. Saya menebak, muadzin menggunakan maqamat Nawahand dalam mengumandangkan adzan. Laptop saya shut down, lalu lekas bergegas ke masjid. Selepas menunaikan salat ashar, saya sudah mendapati diri, duduk di sebuah warung, memesan segelas kopi hitam.

2 komentar:

  1. Aku jugak sukak Americano. Tapi kalok orang Italia bilang itu bukan kopi. Hahah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kah? Malah baru tahu aku. Ngaahahaha.

      Hapus