Senja Bersama Aam dan Pengamen di Alun-Alun Selatan Yogyakarta


Beberapa petang yang lalu, saya bertemu dengan Aam (salah satu bos Inovasee) di alun-alun selatan Yogyakarta, dan memutuskan untuk makan di warung yang menggelar tikar di lapangan. Kami makan beralaskan rumput, beratapkan langit, dan sinar rembulan petang itu juga turut menyirami bumi bagian alun-alun selatan Yogyakarta.

Orang-orang yang duduk di meja sekitar kami, rata-rata berpasang-pasangan. Maka dari itu, agar terhindar dari prasangka-prasangka yang tidak diinginkan, kami duduk agak berjauhan, dengan dibatasi oleh meja, serta memasang muka sok cool. Selain itu juga demi menghindari terjadinya gesekan antar kulit.

Disela-sela makan, datanglah pengamen. Usianya mungkin sekitar empat puluhan. Mulanya, ia menantang saya dan Aam dengan pertanyaan:

"Mau request lagu apa?"

"Bapak sudah menguasai lagunya siapa saja?" Saya menantang balik. Tak mau terlihat lemah, beliau pun menjawab dengan menggebu-gebu:

"Oh, banyak! Saya bisa lagu-lagunya Sheila on 7, Ada Band, Dewa 19, Noah, ayo kamu mau siapa lagi? Sebut! Mau request lagu apa? Sebut!"

"Ya sudah, saya mau lagunya Ada Band yang feat. Gita Gutawa: Ayah - Yang Terbaik Bagimu."

Pengamen yang usianya menjelang senja itu pun mencoba mengulang-ulang judul lagu yang saya sebutkan tadi, sembari mengais-ngais ingatannya, dan menggenjreng-genjreng gitarnya secara asal. Pandangan matanya berputar-putar. Bingung.

"Wah, kalau lagu yang itu, kok kayaknya saya belum pernah dengar, ya?" dalihnya. Kemudian, demi mengurangi perasaan gagalnya, ia pun berbasa-basi, bertanya ini dan itu kepada saya. Pertanyaannya dimulai dengan,

"Tinggal di mana, Mas?"

"Di situ, Pak." Telunjuk tangan kanan saya menunjuk ke sebuah arah. "Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak," lanjut saya.

"Mondok di situ?"

"Iya, Pak, mondok. Ya masa kiainya. Kalau saya kiainya, ke sini sudah pakai sorban, baju koko, sarung, dan menenteng tasbih, Pak!"

Setelah mendengar jawaban saya, pengamen itu pun kemudian bercerita kalau dulunya ia juga seorang santri di sebuah pondok pesantren di Banyumas. Seperti orang tua pada umumnya, ia bercerita kalau menjadi santri jaman sekarang itu enak, tidak seperti santri pada jaman dahulu.

"Di sini, cuma mondok saja, atau sambil sekolah?" tanyanya lagi.

"Sambil kerja, Pak," jawab saya. Beliau pun kaget.

"Oalah, sudah kerja to? Saya kira kalau sampeyan masih sekolah."

Saya menahan tawa cukup lama, mendengar jawaban beliau. Soalnya, setiap kenal dengan orang baru, kebanyakan dari mereka menyangka kalau rentang usia saya masih sekitar 19-22 tahun. Intinya, sedikit lebih muda dari usia saya sesungguhnya. Tetapi ini, bapak-bapak pengamen ini, menyangka kalau saya masih sekolah. Wah, saya bahagia. Hahaha.

Tak lama kemudian, bapak-bapak pengamen yang belum sempat saya tanya namanya itu pun pergi, berpindah mengamen ke meja lainnya. Sementara ekpresi wajah saya masih saja sumringah, terngiang oleh jawaban beliau bahwa saya masih sekolah tadi. Lalu Aam pun langsung menodong saya dengan pertanyaan:

"Bahagia, sesederhana itu, ya?"

Saya tidak menjawab. Saya hanya terus ketawa 'hahaha' seraya menatap mukanya yang setua usianya. Atau mungkin, malah lebih tua? Entahlah. Biarkan masyarakat yang menilai.

***

📷: Aam

0 komentar:

Posting Komentar