"Ya, saya juga pernah melakukannya. Kamu?"


Dalam bukunya yang berjudul Contagious, Jonah Berger, seorang professor dalam bidang marketing pada Wharton School di University of Pennsylvania, mengemukakan bahwa menurutnya, ada 6 prinsip yang membuat sesuatu mudah populer, dibicarakan, diceritakan, dan bahkan ditiru. Ia menyebutnya dengan STEPPS: Social Currency - Mata Uang Sosial, Trigger - Pemicu, Emotion - Emosi, Public - Umum, Practical Value - Nilai Praktis, Story - Cerita. Tapi, pada postingan ini saya tidak akan menjabarkannya secara gamblang. Karena penjelasan detil, bisa kamu baca sendiri pada bukunya. Namun, mari kita bahas satu hal saja dulu: Social Currency - Mata Uang Sosial.

Pada poin tersebut, Jonah Berger menjelaskan bahwa kebanyakan orang lebih suka tampak cerdas daripada tampak bodoh, lebih suka tampak kaya daripada tampak miskin, lebih suka dianggap hebat daripada kampungan, atau tambahan dari saya: lebih suka resepsi pernikahan megah meski berhutang, daripada tampak biasa saja padahal menggunakan uang sendiri. Apa yang kita pakai, baca, di mana menempuh pendidikan, dengan siapa berteman, tempat mana yang pernah dikunjungi, referensi apa yang pernah ditonton dan dengarkan, serta apa yang diperbincangkan, berpengaruh terhadap kesan orang lain kepada kita.

Penjelasan di atas sebetulnya sudah cukup menohok buat saya. Namun ternyata itu belum cukup. Jonah Berger masih menambahnya dengan studi kasus yang dilakukan oleh sekelompok psikolog dari University of Illinois. Jadi ceritanya mereka merekrut pasangan-pasangan mahasiswa yang kemudian disuruh memasak untuk sebuah acara. Para mahasiswa itu disuruh ke dapur yang di sana sudah tersedia setumpuk sayuran hijau, ayam yang masih segar, dan udang-udang gemuk.

Kemudian sesuatu yang menarik terjadi. Ketika para mahasiswa itu mengambil tumpukan sayur dan ayam segar, mereka kaget karena dibaliknya terdapat beberapa ekor kecoa. Aslinya, kecoa itu memang sengaja ditaruh oleh para psikolog. Namun karena penelitian sesungguhnya dilakukan setelah peristiwa ini, maka para psikolog itu memilih untuk tetap merahasiakannya dengan mengatakan,

"Pasti ada seseorang yang sengaja bercanda!"

Sungguh, betapa untuk membuktikan bahwa seseorang itu berbohong atau tidak, mereka (para psikolog) pun juga harus berbohong, mencari kambing hitam. Tapi karena pada postingan ini saya sedang tidak ingin membahas tentang dosa atau neraka, maka mari kita lanjutkan saja bahasannya.
Setelah kegaduhan pasca kecoa jahanam itu, para psikolog tersebut mengajak para mahasiswa untuk masuk ke ruang sebelah. Dalam perjalanan menuju ruang sebelah, para psikolog menghamburkan diri beserta mahasiswa (penyamar) suruhan mereka. Semuanya bertugas menanyai para mahasiswa yang kena jebakan kecoa tadi: bagaimana ihwal kecoa yang menggemparkan tadi? Ternyata, bagaimana mahasiswa itu menjawab, berbeda dengan bagaimana peristiwa sebenarnya terjadi.

Ketika ditanya oleh mahasiswa penyamar, para mahasiswa itu menjawab dengan kemasan kalimat agar pendengar terkesan dan terhibur. Kecoa yang ukurannya biasa, dikatakan lebih besar. Kecoa yang jumlahnya beberapa, dikatakan lebih banyak. Para mahasiswa membesar-besarkan detil cerita hingga tampak lebih istimewa.


Menurut Jonah Berger, manusia tidak begitu ingat detil cerita. Ingatannya lebih seperti rangka dinosaurus yang coba dirangkai oleh arkeolog. Dalam pikirannya terdapat unsur-unsur utama, tetapi ada beberapa bagian yang hilang. Nah, bagian yang berlubang itu kemudian diisi oleh kemampuan mengarang manusia. "Kita membuat tebakan (karangan) yang terpelajar," demikian kata Jonah Berger. Sebagian detil tersampaikan, sementara detil lain dibesar-besarkan. Makin lama, cerita makin istimewa. Kalau di Indonesia, telinga kita pasti akrab dengan akronim gosip: digosok makin sip!

Saya jadi teringat dengan banyak hal yang saya lakukan, hal-hal yang berhubungan dengan Social Currency - Mata Uang Sosial. Ijinkan saya menggunakan contoh paling dekat, kejadian yang baru-baru ini saya alami.

Pada bulan Ramadan tahun 1437 Hijriyah, saya resmi menjadi santri Pondok Pesantren Al-Munawwir di Krapyak, Jogja. Saya merasa excited untuk menimba ilmu di sini, karena memang saya yang meminta. Bertahun-tahun kedua orangtua selalu menyuruh, namun selalu gagal. Jadi, tentu mereka menyambut dengan riang gembira permintaan saya tersebut. Saya memiliki alasan mengapa harus mondok di pesantren. Tetapi saya tidak akan membahasnya pada tulisan ini.

Saya mengisi Ramadan di sini dengan penuh semangat. Hampir setiap waktu mengaji selalu bisa saya ikuti. Kalau memang ada yang bolong sampai saya tidak ikut, hanya satu atau dua kali saja. Sebagian besar saya ikuti dengan semangat yang meletup-letup, sebagian lainnya saya ikuti dalam keadaan terkantuk-kantuk, karena memang jadwal mengaji pada bulan Ramadan di sini padat sekali. Dari pagi sampai malam.

Saat pulang ke rumah pada tanggal 26 Ramadan, saya tak sabar bercerita kepada orang-orang rumah mengenai hal-hal yang saya temui di pondok, yang tidak ada di pondok atau masjid depan rumah saya. Saya bilang kalau di Krapyak (sebutan lain untuk pondok saya), adzan di masjid pusat selalu merdu, sedangkan di masjid depan rumah tidak. Dan memang demikianlah adanya. Saya juga mengatakan bahwa imam di masjid pusat selalulah yang bersuara merdu. Padahal tidak. Memang banyak yang merdu, tetapi yang tidak pun juga banyak. Namun saya hanya mengatakan yang merdu saja. Saat saya menceritakan hal ini, adik saya sudah menebak-nebak: apakah imam di masjid pusat Krapyak saat membaca alfatihah atau surat menggunakan maqamat (lagu) Jiharkah? Ataukah maqamat Nawahand? Ataukah Hijaz? Atau lainnya?

Ketika pulang ke rumah beberapa hari lalu, adik saya yang perempuan, Himmah namanya, bertanya kepada saya:

"Mas, apakah di pondok Krapyak ada TV untuk santri?"

Saya menjawab:

"Ada TV, tapi di warung-warung dekat pondok."

Saya sengaja menjawab demikian, karena ingin menggambarkan Krapyak secara serius. Isinya para santri yang bersungguh-sungguh menimba ilmu. Jauh dari barang-barang elektronik macam televisi, dan hanya fokus mengaji. Padahal, di pondok, terutama kompleks saya, ada 2 buah televisi. Di kamar bawah, dan di kamar atas. 

Saya tidak berbohong kepada adik perempuan saya. Hal yang saya lakukan hanyalah menyamarkan kenyataan, agar terbentuk sebuah kesan yang saya maksudkan tadi. Ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Jonah Berger mengenai Social Currency atau Mata Uang Sosial. Jadi kalau ada pertanyaan:

"Apakah kamu juga pernah mempraktikkan Social Currency - Mata Uang Sosial, seperti yang dicontohkan Jonah Berger dalam bukunya?"

Maka jawaban saya:

"Ya, saya juga pernah melakukannya. Kamu?"

2 komentar:

  1. Pernah kayaknya. Tapi apa sama persis sama yg Berger maksud, aku kurang tau ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Coba diinget-inget lagi. Misal kita pas ngumpul bareng temen, lalu tiba-tiba ngeluh bilang:

      "Ah, sumpah, aku capek banget!"

      Yang tujuannya biar ditanyain:

      "Kamu, capek kenapa?"

      Terus kita menjawab dengan menceritakan penderitaan-penderitaan kita, itu udah termasuk Social Currency - Mata Uang Sosial, loh. Hehehe.

      Hapus