Lomba Memasak di Kompleks Nurussalam Putra


Hari Raya Idul Adha 1437 mungkin sudah berlalu. Tapi setidaknya, suasana hari raya masih tersisa di dalam benak.

Bagi saya, ini adalah perayaan Idul Adha paling berbeda sepanjang hidup. Sejak lahir, saya selalu merayakan Hari Raya Idul Adha di rumah. Pernah sekali memang selain di rumah. Waktu itu ketika ada acara di kampus. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2012. Namun setelah itu, Idul Adha kembali selalu saya rayakan di rumah. Tapi tidak dengan tahun 2016 ini, yakni tahun dimana ketika saya tinggal di Krapyak, Yogyakarta. Menjadi santri di kompleks Nurussalam, Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Suasana yang berbeda, tentu berbeda pula bagaimana mengisinya. Kalau di rumah, setelah salat ied biasanya saya pergi ke tempat penyembelihan hewan qurban, selayaknya warga dusun pada umumnya. Lalu setelah itu, pulang ke rumah, tidur, dan bangun-bangun sudah dalam keadaan daging-daging qurban tadi siap lahap. Lebih terlihat seperti pemalas, memang. Tapi itulah yang selalu terjadi dari tahun ke tahun.

Tahun ini, mulai dari bagaimana hewan qurban itu bisa dibeli, sampai akhirnya bisa dinikmati bersama, semuanya dipikirkan dan dilakukan secara mandiri oleh para santri. Entah itu patungan dana, atau menawarkan kesempatan berqurban ke sana-kemari agar rencana qurban terealisasi.


Tahun 2016 ini, Nurussalam berqurban 1 sapi dan 1 kambing. Kepada si penjual sapi, kami sekalian pasrah untuk menggorok leher keduanya, serta menguliti sapinya. Sisanya, termasuk menguliti kambing dan memotong-motongnya untuk dibagi rata, dikerjakan oleh seluruh santri secara gotong royong.

Kemudian, daging yang sudah dipotong-potong dan dibungkus plastik, kami bagi secara merata hingga ke rumah-rumah warga sekitar. Sampai di sini, secara logika, seharusnya para santri sudah capek. Namun yang saya lihat pada raut muka mereka justru sebaliknya: mereka penuh gairah, tak sabar menunggu malam datang.

Ada apa dengan malam?

Tradisi di kompleks Nurussalam Putra, setiap Idul Adha tiba, diadakan lomba memasak antar kamar. Jurinya adalah pihak ndalem (keluarga Pak Kiai).

Sebetulnya, sejak pagi para santri memang seperti terbagi dua kelompok: kelompok yang menguliti hewan qurban dan membagikannya, serta kelompok yang bertugas menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan untuk lomba memasak pada malam hari. Sehingga, ketika waktu lomba tiba, tak ada kamar yang kocar-kacir akibat belum siapnya perlengkapan memasak.


Seusai menunaikan salat maghrib, kamar kami, kamar Sunan Gresik, sudah berunding kecil-kecilan. Diskusi itu dimulai dengan pertanyaan:

"Nanti mau masak apa?"

Jawaban kami, yang saya yakin juga jawaban seluruh kamar, adalah:

"Masak sate!"

Mainstream, memang. Kami ingin bikin sesuatu yang berbeda, tapi belum tahu mau masak apa selain sate. Ya sudah, inilah yang akhirnya pertama kali kami eksekusi.

Di tengah-tengah proses menggodok daging qurban, yang kata teman saya bernama Fayyun "biar empuk", saya teringat dengan seorang penjual ayam goreng ala-ala KFC (Kentucky Fried Chicken) di depan kompleks. Sesaat itu juga, saya langsung bilang:

"Bagaimana kalau selain sate, kita juga bikin ayam goreng macam KFC?"

Semua mengangguk tanda setuju, dan salah seorang teman kamar saya yang bernama Misbach segera pergi ke Alfamart untuk membeli tepung ayam goreng Sajiku.

Mas Jamal, rekan di kamar sekaligus ustaz kami, menambahkan saran:

"Bagaimana kalau dibagi dua kelompok: sebagian bikin sate, dan sebagian lainnya mengolah daging macam ayam goreng KFC?"

Lagi-lagi, tanpa pikir panjang, kami langsung mengangguk setuju.

Dalam perkembangannya, masing-masing kelompok dari kamar kami rupanya memiliki kreasi sendiri-sendiri. Kelompok yang tadinya bertugas membuat sate, mulai berinisiatif untuk menambahnya dengan steak. Lalu kelompok yang tadinya bertugas membuat daging macam ayam goreng ala-ala KFC, mulai berkreasi membuat bola-bola daging. Ya, begitulah saya menyebutnya. Karena memang itulah nama yang sementara ini, menurut saya, pas. Bola-bola daging merupakan olahan yang berasal dari daging apa saja (dalam hal ini: daging kambing dan daging sapi). Kemudian daging itu kami potong kecil-kecil, lalu dicelupkan ke tepung Sajiku yang sudah dipersiapkan tadi, dan... selanjutnya ialah menggorengnya.

Setelah dua kelompok dari kamar kami selesai memasak, akhirnya kami berkumpul di dalam kamar, berunding: ini akan dibikin bagaimana? Karena selain kelezatan dari daging yang kami masak, penilaian juga ditekankan pada estetika, bagaimana kami menata hasil-hasil olahan daging tadi menjadi satu-kesatuan sajian yang menarik dalam sebuah piring.


Kami sampai berdebat, bahwa seharusnya sate-sate ini ditata begini, bukan begitu. Atau steak ditaruh di tengah, jangan di pinggir. "Bola-bola daging hanya dipilih yang memiliki tekstur yang baik saja. Yang jelek, jangan!" begitu kata beberapa dari kami, yang alasan sebetulnya dari memberi saran tersebut ialah agar bola-bola daging yang teksturnya jelek itu diperbolehkan untuk kami makan. Lantas, bagaimana dengan nasib daging-daging yang diolah menjadi semacam ayam goreng tetapi bentuknya besar (jauh lebih besar dari bola-bola daging) tadi? Akhirnya, kami memakannya. Karena kalau pun ditata, kami bingung untuk menaruhnya di bagian mana. Alih-alih membuat sajian menjadi cantik, daging-daging besar itu malah merusaknya. "Sudah, ini enggak usah!" demikian kata Mas Saipul (tidak pakai "Jamil" karena ia memiliki orientasi seks yang normal), salah seorang senior di kamar Sunan Gresik.

Perundingan alot itu pada akhirnya menghasilkan sajian ini:


Selanjutnya, hal yang bisa kami lakukan ialah berdoa, semoga ketika penilaian, juri dari pihak ndalem merasa puas dengan apa yang kami masak. Saya adalah perwakilan dari kamar Sunan Gresik, yang membawa makanan itu ke dewan juri agar dicicipi. Jujur, saya juga was-was. Khawatir kalau rasanya tak seperti yang juri harapkan. Ah, tapi tidak apa-apa. Yang penting kami sudah mencoba sebisanya.


Setelah juri memberikan penilaian, kami tak diperkenankan untuk melihat hasil penilaian. Oleh dewan juri, kertas penilaian itu dilipat, diberikan kepada perwakilan panitia tanpa seorang pun melihatnya. "Hasil penilaian ini, akan diumumkan bersamaan dengan hasil perlombaan pada bulan Agustus lalu," begitu kata Prabowo, sang ketua panitia lomba 17-an dan panitia lomba memasak daging qurban.


Saya kemudian membawa piring yang tadi berada meja juri tersebut ke kamar. Di kamar, teman-teman sudah menyambut saya, memberondong dengan pertanyaan:

"Bagaimana tadi penilaiannya?"

"Apa yang dicicipi? Sate? Steak? Bola-bola daging?"

Itulah pertanyaan mereka. Ketika saya menjawab "sate", mereka langsung meraih sate yang ada di piring tadi, lalu mencobanya.


" Ugh, dagingnya alot ternyata!" kata Mas Jamal, diiringi dengan gelak tawa. Yang lain kemudian mencoba makan steak yang mereka bikin.

"Waduh, ini alot juga!" kata Mas Robith, salah seorang senior, yang juga sekaligus ustaz kami. Jadi bisa disimpulkan, kalau pun yang juri makan itu sate atau pun steak, hasilnya tetap sama saja.

"Nah, kalau yang ini, enak!" seloroh Mas Saipul. "Iya nih!" Fayun menimpali. "Eh iya, enak!" sahut Udin, salah seorang santri yang juga mahasiswa baru jurusan olahraga di UNY. "Empuk juga!" kata Azharin, santri paling muda di kamar kami. Akhirnya, kami semua tertarik untuk menghabiskan bola-bola daging itu. Kami senang, karena memang enak sekali. Tetapi kami juga sedih, karena bukan itu makanan yang dicicipi oleh dewan juri.


2 komentar: