5 Cara Mudah Bagi Santri Agar Namanya Segera Dikenali Pak Kiai


Pada sebuah pesantren, seringkali begitu banyak jumlah santri, sementara jumlah kiai bisa dihitung dengan jari. Tentu sebuah pekerjaan berat bagi seorang kiai untuk menghafal nama santri satu per satu. Namun setidaknya, ada 5 cara yang bisa santri lakukan agar namanya bisa diingat oleh kiai:

1. Menjadi santri yang paling pintar.

www.lemka.net

Santri paling pintar, memungkinkan untuk diingat namanya. Contoh sederhana: apabila ada permasalahan-permasalahan yang belum ketemu jawabannya, biasanya, kepada santri paling pintar itulah mula-mula sang kiai akan mengadakan diskusi. Soal akan terpecahkan masalahnya atau tidak, itu urusan yang berbeda. Tetapi yang jelas, dengan menunjuk salah seorang santri yang pintar tersebut, setidaknya sang kiai membaca akan ada kemungkinan memperoleh solusi. Dan, satu lagi, santri itu pasti akan segera diketahui namanya.

2. Menjadi santri yang paling rajin dan aktif.

www.jadagram.com

Meski peribahasa berkata 'rajin pangkal pandai', namun pada kebanyakan kasus banyak orang yang tampaknya saja rajin. Sibuk ini dan itu. Sementara yang masuk ke pikirannya? Entahlah. Kan, raga bisa saja berada di majelis tempat mengaji. Namun imajinasi liar ke sana-kemari.

Namun meski demikian, sikap rajin seorang santri tersebut akan menjadi nilai tersendiri bagi seorang kiai. Apalagi bila ditambah ia aktif, seperti dengan menjadi Lurah Pondok, misalnya, atau menjadi pengurus di lini-lini lainnya. Niscaya ia akan sering berinteraksi dengan sang kiai. Dan imbasnya, lagi-lagi, namanya akan segera diingat.

3. Menjadi santri yang paling berbeda.

facebook.com/zainal.kamore

Seth Godin, seorang pakar marketing modern, memaparkan sebuah teori bernama: The Purple Cow. Atau gampangnya: Jadilah sapi ungu!

Contoh sederhananya, apabila pada sebuah kandang ada banyak sapi, yang tentu kebanyakan berwarna putih, lalu ada seekor sapi berwarna ungu, maka tak perlu waktu lama: fokus sepasang mata pasti akan segera menatap kepada sapi yang berwarna ungu tersebut. Mengapa sapi itu diingat? Ya karena ia berbeda.

Di pesantren tempat saya menimba ilmu, kompleks Nurussalam Putra, Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, ada seorang santri bernama Zainal Kamore (foto dalam postingan ini) yang berasal dari NTT. Bentuk wajahnya, jenis rambutnya dan warna kulitnya, sangat khas NTT. Sementara santri-santri lain wajahnya cetakan-cetakan Jawa.

Menurut kawan saya yang bernama Nurcholis, apabila si Kamore (panggilannya) ini tidak mengaji, maka Pak Kiai (Abah) akan menanyakannya. Sementara jika santri lain yang tidak mengaji, Abah tidak begitu hafal. Mengapa Kamore mudah dikenali? Ya, lagi-lagi, karena ia berbeda.

Itulah pentingnya menjadi berbeda. Tentu, yang di atas hanyalah contoh. Menjadi berbeda juga bisa diterapkan pada medium lain.

4. Menjadi santri ndalem.

www.jadagram.com

Santri ndalem adalah santri yang kerap membantu kegiatan di rumah Pak Kiai. Mulai dari membuatkan minum ketika datang seorang tamu, membetulkan genteng saat ada yang bocor, dan banyak lagi.

Frekuensi interaksi santri ini dengan keluarga kiai termasuk yang paling sering. Sehingga, mudah bagi para santri ndalem untuk segera dikenali namanya.

5. Menjadi santri yang bisa menyetir mobil.

inspirazis.blogspot.com

Pak kiai tak hanya mengajar ngaji di pesantren saja. Kadang beliau mengisi pengajian di tempat lain. Kadang juga ada acara-acara lain yang mengharuskan beliau menempuh jarak jauh. Sehingga, beliau butuh seorang sopir untuk mendampinginya bepergian.

Tentu, semakin sering seorang santri (yang bisa menyetir mobil) didapuk untuk menjadi sopir, maka berbandinglurus dengan kemungkinan Pak Kiai segera mengetahui namanya. Kalau di pesantren tempat saya menimba ilmu, mungkin Mas Aziz bisa dijadikan contoh.

Ada cara lain, mungkin?

***

📷 (thumbnail) : www.youtube.com

0 komentar:

Posting Komentar