Zahro dan Pengetahuannya Akan Huruf-Huruf


Tadi pagi saya melihat ada 2 kardus wadah susu di meja dapur: Dancow dan Entrasol. Saat Zahro (Keponakan saya. Cerita lain soal Zahro juga bisa dibaca di sini) melintas di dapur, saya memegang kardus wadah susu Dancow dan pura-pura bertanya dengan suara agak dikeras-keraskan, disertai arah muka yang seperti tidak bertanya kepada siapa-siapa:

"Ini susu punya siapa ya?"

Zahro yang memang sejak tadi berniat hanya ingin lewat saja, tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke arah saya seraya berkata:

"Punya Zahro, Om. Itu nama susunya, Dancow."

Saya sempat kaget mendengar dia bisa menyebut nama Dancow. Tahu dari mana dia nama tersebut? Tapi setelah saya telusuri, ternyata yang memberi tahu nama Dancow itu adalah Umminya, yang notabene adalah Kakak saya, Mbak Sa'adatul Awaliyah. Namun, saya lagi-lagi berpura-pura tanya kepada Zahro:

"Kok bisa tahu kalau susu yang ini namanya Dancow, bagaimana cara membedakannya? Di meja kan ada dua kardus wadah susu: Dancow dan Entrasol." Tangan saya masih memegang kardus wadah susu Dancow.

"Lha ini, kan, ada tulisannya, Om." Tiba-tiba Zahro menyurukkan telunjuk tangan kanannya, mengarah tepat ke tulisan Dancow yang tertera pada kardus wadah susu. Saya tercengang. Padahal SD saja belum, kok sudah bisa baca ya, pikir saya kemudian. Saya berpikir demikian karena saya merasa saat masih seusia Zahro, saya belum bisa membaca dan menulis. Karena penasaran dengan kemampuannya mengenal huruf, saya pun mengujinya dengan tulisan yang ada di atasnya.

"Ini huruf apa?"

"N," jawab Zahro.

"Ini?"

"E." Dia menjawab dengan sedikit lebih bersemangat.

"Terus yang ini?"

"S."

"Yang ini?"

"T."

"Selanjutnya?"

Dia diam sejenak, lalu menjawab huruf 'i'. Kemudian saya menjelaskan kalau itu huruf 'L' versi yang kecil.

"Nah, yang terakhir?"

"E, lagi." Zahro mengakhiri ejaannya dengan raut wajah penuh kepuasan.

Saya benar-benar terpukau dengan kemampuannya, dari 6 huruf hanya ada 1 yang salah. Itu juga enggak salah-salah amat, karena ‘L’ versi kecil dan huruf ‘I’ besar memang hampir sama bentuknya. Kali ini saya berharap kembali dibuat berdecak kagum olehnya, kalau sampai ia betul-betul bisa membaca. Saya pun melontarkan pertanyaan terakhir:

"N-E-S-T-L-E, dibacanya bagaimana?"

"Dancow." Zahro menjawab secara polos, berbarengan dengan ekspresi wajahnya yang seolah tak berdosa. Saya menelan ludah, dengan tangan masih memegang kardus wadah susu Dancow. Sungguh, seandainya bungkus susu itu berupa kaleng, saya sangat ingin memukul-mukulkannya ke kepala saya.

0 komentar:

Posting Komentar