Materi Pengajian Andalan Bapak


Saking seringnya mengantarkan bapak mengisi pengajian, membuat saya nyaris hafal materi pengajian beliau. Salah satu materi yang hampir pasti beliau bawakan adalah sebuah pertanyaan mengenai waktu. Kira-kira begini:

"Jam ada berapa?" tanya bapak ke para jemaah pengajian.

Mendapati pertanyaan seperti ini, jawaban yang diberikan ada berbagai macam. Ada yang menjawab dua belas, dan ada yang menjawab dua puluh empat. Kalau jemaah sudah mulai beradu opini satu sama lain, atau bahkan sampai jambak-jambakan, di situ bapak saya mulai terkekeh jemawa, menikmati pertikaian satu sama lain. Lalu beliau akan datang sebagai penengah yang bijak. Penengah yang siap memberikan jawaban, dan jemaah mau tidak mau harus mengakui bahwa itu sebagai jawaban yang paling benar. Bagaimana tidak mau mengakui, kalau yang menjawab adalah si pemberi pertanyaan itu sendiri?

Pada titik ini, sebetulnya mulut saya sudah gatal, geregetan ingin menjawab. Tapi kalau saya jawab, sudah pasti itu namanya membuka kartu. Kepercayaan diri siap menjawab yang semula ditunjukkan oleh bapak saya tadi bisa-bisa runtuh seketika kalau sampai saya nekat menjawabnya. Jadi, saya lebih memilih untuk menahan diri.

"Jam ada tiga, pak, buk, jemaah sekalian. Kok bisa tiga? Ya, tiga itu: jam tadi, jam sekarang, dan jam nanti. Kita tahu kalau tadi masih hidup. Sekarang? Masih hidup juga. Tapi kalau nanti? Tiada yang tahu, pak, buk, jemaah sekalian." Para jemaah pun manggut-manggut, bahkan beberapa simbah-simbah ada yang bahagia mendengar jawaban tersebut. Sama seperti bahagianya Guglielmo Marconi ketika berhasil menemukan radio.

Saya khawatir, kalau di kemudian hari mendengar pertanyaan tersebut terlalu sering, akhirnya saya tak tahan dan bernafsu menjawab.

"Jam ada berapa? Siapa yang bisa jawab?" begitulah pertanyaan yang saya bayangkan akan terjadi pada suatu hari nanti.

"Saya, pak." Saya tunjuk tangan.

"JANGAN DURHAKA KAMU!" Saya yakin, mungkin itu jawaban yang akan terlontar dari bapak, tatkala mengetahui saya turut ingin menjawab. Namun tentu, kalau sampai ini betul-betul terjadi, bapak akan mengijinkan saya untuk menjawab. Demi biar tidak malu di depan jemaah.

"Ada berapa?" tanya bapak lagi, dalam dunia bayangan saya.

"Ada empat." Mendengar ini, mungkin bapak akan terkejut. Tapi saya tak peduli dan ingin lanjut menjawab.

"Apa saja?" Kalau saya menjawab empat, sudah pasti giliran bapak saya yang akan dibuat penasaran.

"Jam tadi, jam sekarang, jam nanti, dan jamsostek," begitu saya akan menjawabnya. Ya, tentu saya hanya akan melakukan itu dalam dunia imajinasi, bukan kenyataan.

Oh ya, ngomong-ngomong, foto bapak saya adalah yang paling kanan. Kalau yang memegang mic, itu guru bapak. Mbah Muhsin, begitu biasa kami menyebut. Lalu yang paling kiri, itu adalah adik kandungnya bapak. Zainuri, namanya.

0 komentar:

Posting Komentar