Lisin dan Validasi Ucapan-Ucapannya


Namanya Lisin, dia adalah sahabat saya sejak jaman masih sekolah, sampai hari ini. Sejak pertama kali kenal, saya kemudian tahu bahwa ia penggemar solawat Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf garis keras.

"Aku adalah salah satu jemaah Habib Syech jaman jumlah jemaahnya masih sekitar 1000-an. Pas masih sepi-sepinya," katanya kepada saya sekitar 6 tahun lalu. "Selama masih ada kendaraan, aku akan mengupayakan untuk selalu berangkat ke pengajian beliau," lanjutnya.

Memang, selama ini selalu ada kendaraan yang bisa mengantarkannya menuju ke pengajian Habib Syech. Dia bahkan pernah bercerita kepada saya bahwa ia pernah naik kereta api demi bisa menghadiri pengajian Habib Syech di sekitar Jabodetabek. Entah itu sungguhan atau tidak, saya tidak tahu. Sebagai orang yang sudah lama mengenalnya, sampai hari ini saya masih saja selalu gagal untuk mendeteksi apakah yang ia ucapkan itu sungguhan, atau rekaan. Keduanya seringkali dilafalkan dengan ekpresi wajah yang sama.

Semalam, kebetulan ia sedang tak ada motor. Ia merengek kepada saya agar bersedia mengantarkan ke pengajian Habib Syech yang diadakan di MTs HDWR Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul. Pengajian tersebut diadakan dalam rangka pelepasan calon jemaah haji 2016 KBIH NU HDWR.

"Bensin di motor kamu yang tinggal 2 strip itu, kalau dipakai untuk berangkat dari rumah menuju ke sana, tidak akan habis. Percayalah!" rayunya kepada saya.

Sebagai sahabat yang baik, saya tidak manggut-manggut begitu saja. Tapi saya malah menawarkan perubahan pola pikir yang saya harap, ke depan akan baik baginya, begini:

"Bagaimana kalau pemikirannya diubah menjadi: bensin di motor kamu yang tinggal 2 strip itu, kalau dipakai untuk berangkat dari rumah menuju ke sana, nanti bisa jadi full, setelahnya. Percayalah!"

Dia hanya ketawa-ketawa saja merespons ucapan saya. Namun dengan berat hati saya betul-betul tidak bisa mengantarnya, karena seperti biasa, setiap ba'da isya saya harus mengaji kepada Bapak. Mengaji kitab al-Durar al-Bahiyyah fiima yalzamu al-Mukallaf min al-‘ulum al-syar’iyyah, sebuah kitab yang disusun oleh Syaikh al-‘Allamah Abu Bakr Utsman bin al-‘Arif Billah Sayyid Muhammad Zainuddin Syatha al-Dimyathi al-Syafi’i.

"Tunggu aku sampai selesai mengaji, itu kalau kamu mau." Saya menawarkan jalan tengah, yang menurut saya, agar keduanya memperoleh porsi yang sama-sama terpenuhi.

"Duh, kalau harus menunggu, bisa-bisa sampai di sana pengajiannya sudah kelar!" katanya dengan nada yang mengandung kekecewaan. Itulah alasan mengapa saya betul-betul tidak bisa mengantarnya.

Semalam, setelah mengaji, saya membaca statusnya di facebook yang menjelaskan bahwa ia sedang berada di MTs HDWR Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul. Saya tidak tahu siapa yang mengantarnya. Tadi, seusai menunaikan salat subuh, saya bertanya kepadanya dengan ekspresi muka yang seolah-olah belum membaca statusnya semalam:

"Sin, semalam jadi ke pengajian Habib Syech?"

"Enggak. Habisnya, semalam kamu enggak mau nganterin!"

"Kok, semalam aku baca statusmu, kamu lagi di MTs HDWR Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul, menghadiri pengajian Habib Syech?" Kening saya mengkerut, berusaha mengaitkan kebenaran statusnya yang saya baca semalam, dengan jawabannya barusan. Lalu dengan cepat ia menata ekspresi wajahnya yang tadi sempat kikuk mendengar pertanyaan saya, kemudian menjawab:

"Oh, iya, jadi kok. Semalam aku jadi ke sana."

Saya tertawa dengan gaya tawa ala-ala curiga. Dan saya pun berlalu dari hadapannya dengan perasaan bahagia, bahwa sepertinya saya sudah mulai bisa mendeteksi validasi dari setiap ucapan-ucapannya.

0 komentar:

Posting Komentar