Validasi Kelebihan

sumber: derekodwyer.com

Sebetulnya, postingan kali ini seharusnya resensi. Namun apa daya, buku-buku belum selesai dibaca. Satu buku belum selesai, buku lain sudah melambai-lambai, ingin dibaca. Akhirnya, tergoda. Bagaimana mau menulis resensi kalau belum ada buku yang diselesaikan? Maafkan hamba-Mu yang lemah ini, Tuhan.

Belakangan ini, hidupku banyak dikepung oleh orang-orang yang membutuhkan, di sini aku menyebutnya: validasi kelebihan. Sebentar, sebentar, jangan buru-buru nge-close loh. Judulnya memang agak berat. Tapi, percayalah, isinya, akan lebih berat daripada ini. Enggak deng.

Jadi mula-mula, aku ingin menjelaskan apa yang aku maksud dengan validasi kelebihan. Sebetulnya, lebih enak langsung menggunakan contoh atau studi kasus, sih. Cuma, ya, baiknya dijelasin dulu aja kan ya? Baru setelah itu, menuju ke contoh-contoh kasusnya.

Intinya, validasi kelebihan adalah orang-orang yang ingin selalu diakui bahwa ia memiliki kelebihan, dan engkau harus mengetahuinya, mendengarkan petuah-petuahnya, lalu menurutinya. Orang-orang semacam ini keren, sebetulnya. Tapi kasihan.

Kerennya? Ia punya skil, relasi, insight, apa pun. Yang pada intinya, itu semua, membuatnya layak untuk disebut 'lebih' ketimbang yang lain.

Kasihannya? Ya bagian meminta validasinya itu. Bagian semacam butuh pengakuannya itu. Bagian ingin didengarkannya itu. Bagian ingin dituruti omongan-omongannya itu. Seolah-olah, seisi dunia ini, cuma dia sendiri yang bisa mengakses google. Seolah-olah, seisi dunia ini, cuma dia sendiri yang punya kenalan orang-orang keren. Seolah-olah, seisi dunia ini, cuma dia sendiri yang punya banyak pengetahuan bagus dalam kepalanya. Kemudian, secara bebas mengkhutbahkan isi kepalanya kepada orang-orang yang ia anggap jemaah yang tak tahu apa-apa.

Hari ini, orang-orang yang kamu anggap jemaah itu, juga bisa mengakses apa yang kamu akses, Bro. Bisa membaca apa yang juga kamu baca, Bro. Memiliki kesempatan yang sama untuk berkenalan dan membaur dengan orang-orang keren di luar sana, Bro. Jadi, mengapa masih seperti butuh validasi? Bukankah Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa:

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.

Jadi, mengapa tidak fokus kepada mengasah skil saja?

Hal satu dan hal-hal lain dalam hidup ini berbeda. Disiplin, pemikir hebat, berbakat, pekerja keras, dan lainnya, semua itu kotak-kotak berbeda. Jangan seperti merasa berada di satu kotak, lalu merasa paling kuat di salah satu kotak, dan seperti berhak menyemprot orang-orang yang berada di luar kotak kelebihannya.

Kotak itu berbeda-beda, dan setiap orang boleh memiliki salah satu, dua, dan bahkan seluruhnya. Setiap orang berhak memperjuangkan semua kotak-kotak itu, dan bergerak penuh ambisi layaknya orang tak terhancurkan. Unstoppable! Jangan seperti orang yang merasa paling berkuasa di satu kotak, lalu malas menempa diri di kotak-kotak yang lain. Kalau memang malas, ya malas aja. Enggak perlu mengampuni kemalasan melabeli diri:

"Aku lebih pada bidang ini, jadi maaf, aku tak akan mencoba bidang itu."

Orang-orang semacam ini, bisa terlihat dari beberapa contoh kasus:

1. Saat berada dalam percakapan, berhenti ngobrolnya adalah persiapan untuk ngomong lagi.

sumber: changetc.co.za

Pernah merasa, ketika ngobrol dengan seseorang, ia melontarkan pertanyaan, lalu saat kita menjawabnya, mulut dia bergetar tak sabar ingin membalas jawabanmu?

Nah, itu salah satu contoh orang-orang yang butuh validasi kelebihan.

2. Saat berada dalam percakapan, lawan bicaranya ngobrolin pencapaian atau kepemilikannya akan sesuatu, ia membalasnya dengan yang lebih besar atau lebih tinggi.

sumber: huffingtonpost.com

Pernah merasa, misal, pada suatu hari kamu seneng banget, lalu cerita:

"Aku bahagia banget, hari ini bisa ketemu Iwan Fals."

Sementara si lawan bicara, menimpalinya:

"Aku juga pernah waktu itu, duduk bareng. Tapi aku biasa aja sih."

Nah, orang-orang semacam ini, juga termasuk orang-orang yang butuh validasi kelebihan. Sebetulnya, bentuknya tak melulu harus kayak gitu. Bisa kok diganti objek lain. Kayak misalnya, ia menunjukkan pengetahuan-pengetahuannya, pencapaiannya, dan sebaainya. Namun pada intinya sama: mereka adalah golongan orang-orang yang butuh validasi kelebihan. Hahaha.

3. Memamerkan siapa temannya.

sumber: today.com

Kadang, bentuk pamernya, enggak melulu di sosmed, sih. Bisa juga pas ngobrol, bilang:

"Aku kalau sama Iwan Fals udah akrab. Ya, kita sering kok dulu ngopi-ngopi bareng. Sayangnya, aku enggak sempat mendokumentasikannya."

Guys, kayaknya enak banget ya, meneriakkan sesuatu ke orang yang lagi cerita kayak gitu dengan teriakan:

"SO?!"

4. Memamerkan pengetahuan-pengetahuannya.

sumber: preemploymentscreen.com

Orang macam ini, mungkin merasa kalau ia doang yang boleh mengakses google. Lainnya enggak. Orang macam ini, berpikir kalau buku-buku bagus itu, cuma dia sendiri doang yang baca. Lainnya enggak.

Yah, mau gimana lagi, namanya juga orang yang butuh validasi kelebihan.

5. Kamu mau nambahin, mungkin?

sumber: lifehack.org

0 komentar:

Posting Komentar