Belajar Menulis Resensi


Membaca, memahami bacaan, dan menceritakan kembali apa yang telah dibaca adalah hal-hal yang berbeda. Belakangan ini aku mulai sepakat bahwa orang yang bisa menceritakan kembali apa yang dia baca dengan cara yang lebih baik, maka bisa dipastikan bahwa pemahaman dan membacanya baik. Kalau menceritakannya kembali saja buruk, ya sudah lah ya, kayaknya kamu juga tahu mesti jawab apa.

Dulu, aku termasuk orang yang malas membaca resensi. Di dalamnya, berisi detil-detil dalam buku, yang untuk menjabarkannya secara baik, memang harus memasukkan elemen-elemen tersebut. Bisa banyak, bisa sedikit. Ah, tapi itu tak penting menurutku. Karena yang lebih penting adalah; bagaimana dia menceritakan kembali atas buku yang telah ia baca. Jadi, dulu, kalau mau memutuskan untuk beli buku, pikiran pendekku biasanya mengikuti tentang seberapa ramai buku tersebut diperbincangkan. Lalu, aku pergi ke toko buku, melihat-lihat covernya, membaca-baca blurb-nya, dan kalau tertarik, aku langsung pergi ke kasir.

Kalau melihat diriku yang dulu berlaku seperti itu, aku seperti ingin mengumpat 'tolol' kepada diriku sendiri di masa lalu. Karena bahkan, pasar pun bisa di-setting sedemikian rupa. Percakapan-percakapan di sosial media dan situs-situs itu, sekarang semua orang bisa membayar mereka untuk memperbincangkan buku milik penulis yang ingin didongkrak penjualannya. Ah, tapi tak apa. Namanya juga proses. Jadi, aku tak lagi boleh meledek diriku di masa lalu. Lha namanya juga sedang berproses.

Karena dalam sehari aku cuma dapat jatah waktu 24 jam, aku juga hanya ada 1 orang, sementara buku-buku karya terbaik di dunia ini begitu banyak, maka mau nggak mau aku harus mencari titik-titik yang bisa meyakinkanku untuk bilang:

"Ini loh, baca buku ini. Buku bagus tuh!"

Nah, titik-titik itu bentuknya ada berbagai macam. Bisa melihat siapa yang ngomong, bisa membaca komentar-komentar di goodreads.com dan membaca resensi-resensi. Aku yang dulu nggak begitu mementingkan resensi, sekarang jadi berubah pikiran. Jangan sampai duitnya keluar untuk beli buku yang tak ingin dibaca, jangan sampai waktunya terbuang untuk membaca buku-buku yang memang tak ingin dibaca, begitu pikirku saat ini. Meskipun bisa beralasan;

"Aku pasti akan dapat suatu hal baru, atas keteledoranku ini."

Ya, benar. Tapi berapa persen sih manfaat yang diperoleh dari 'kesasar' itu, kalau dibanding madhorot yang dihasilkan akibat buang-buang uang dan waktu? Jadi, menurutku, penting banget untuk membaca resensi, sinopsis dan blurb sebelum membeli sebuah buku.

Aku lagi mau belajar menjadi pembaca yang baik, dan menjadi pemaham bacaan yang baik, agar bisa menyampaikan kembali dengan baik. Ya, rencananya aku mau menulis resensi. Entah nanti bukunya siapa yang mau aku kupas, dan seperti apa caraku mengupas, aku tak mau berekspektasi macam-macam.

Soal menulis resensi, aku belum ada debut sama sekali. Meski demikian, aku juga tak mau seperti diampuni atau dimaafkan, gara-gara masih menjadi penulis resensi pemula. Jadi kalau besok-besok aku menulis resensi, lalu di antara kamu ada yang tahu bahwa caraku menulis resensi salah, dan kamu sungguh bernafsu ingin membantainya, ya sudah bantai saja. Toh, aku akan tetap fokus kepada proses agar bisa menulis resensi dengan baik. Bukan fokus kepada bantaian-bantaian atau pujian-pujian.

Kayaknya segitu dulu. Sampai jumpa di postingan berikutnya, yang semoga saja aku sudah datang dengan membawa resensi buku. Bye!

0 komentar:

Posting Komentar