Hal-Hal Yang Paling Bikin Males



Ini pikiran yang tanpa pernah aku bilang ke diri sendiri untuk mempraktekkannya. Entah gara-gara buku yang aku baca, lingkungan, atau apapun yang aku tonton. Entahlah. Ini bener-bener entahlah. Kayak terinstal secara otomatis dan tahu-tahu sampai sekarang emang hal-hal ini yang selalu bikin males.

Emang sih, dalam hidup ini ada begitu banyak hal yang bikin males. Dan apa-apa yang bisa bikin orang males itu kan juga beda-beda. Males yang aku sampaikan di sini bukanlah males yang mager nggak mau ngapa-ngapain. Tapi males yang ...

Duh, yang gimana ya?

Ah, males jelasinnya.

Coba terjemahkan sendiri, males-males ini masuk kategori males yang gimana:

Ditawarin produk yang dalam promonya bilang: "Produk ini hanya diproduksi TERBATAS! Beli sekarang atau Anda akan menyesal seumur hidup!"



Nah, ekspresiku kayak gitu tuh kalau denger penawaran begitu.

Gara-gara kantong sering kering, mau nggak mau aku harus paham bener, mana keinginan dan mana kebutuhan. Tiap mau beli sesuatu, entah kenapa otak selalu membagi jadi 3 hal:

a. Nggak mendesak

b. Agak mendesak

c. Mendesak banget.

Masuk kategori manapun barang yang pengen kubeli, semuanya jadi batal cuma gara-gara trik promo di atas. Males banget deh, jadi objek trik marketing gitu. Mending nggak jadi beli. Atau kalau penting banget tapi ada tempat lain yang promonya nggak sok-sokan pake trik marketing, malah itu yang biasanya kubeli.

Ditawarin produk yang dalam promonya bilang: "Kami hanya memproduksi 1000 saja (atau semacamnya). DAPATKAN SEKARANG! ATAU ANDA TAK AKAN PERNAH MEMILIKINYA SAMA SEKALI!"


source: dumblittleman.com


Nah, kalimat-kalimat itu juga bikin males. Kalau situs online, biasanya langsung aku close dan pindah ke situs lain yang penawarannya biasa aja. Kalau offline, langsung pindah ke pedagang lain yang dagangnya biasa aja.

Ditawarin produk yang harganya disilang, sok-sokan ngasih diskon



Ah elah, kayak pembeli sekarang itu bego-bego aja. Oke, emang banyak sih yang tergiur. Tapi kalau aku sih males. Kayak pengen ngomong:

"Udahlah, nggak usah disilang-silang gitu kenapa? Langsung aja kasih harga pasti, tanpa ada embel-embel harga asli dan harga khusus. Wong harga aslinya aja emang di bawah harga khusus. Kadang jarak di bawah harga khusus, jauh malahan.

But, aku masih setuju dengan konsep perbedaan harga antara PRESALE dan OTS sih. Terutama untuk tiket.

Ditawarin produk yang dalam promonya bilang: "RIBUAN ORANG SUDAH MEMBUKTIKANNYA! KINI GILIRAN ANDA!"


source: squarespace.com


Sebagus apapun produknya, jarang banget aku tertarik dengan penawaran-penawaran kayak gitu. Lagi-lagi, kalau ada toko lain yang jualan tanpa memainkan banyak trik marketing malah justru aku tertarik beli.

Dikasih bonus kalau kerjanya bagus!



Ini mungkin beda dari kebanyakan orang. Tapi, maksudnya bukan biar dianggep beda juga.

Jadi gini...

Maaf, melenceng bentar ya!

Begini... begini... pertama-tama, aku suka bakpia.

Nah, kalau atasan menjanjikan bonus untuk kerja bagus itu entah kenapa aku malah ngerasa kayak atasanku lagi di belakang lingkaran api, dan dia bersedia melemparkan 1 bakpia kalau aku mau melangkah maju menuju lingkaran api tersebut, sambil bilang:

"Ayo masuk. Masuk. Ayo, kamu pasti bisa!"

Terus dia akan menambah jumlah lemparan bakpianya dengan syarat kalau aku mau maju lagi menuju lingkaran api itu. Parahnya, dia selalu menambah jumlah bakpia biar aku mau maju lagi, sementara, sambil aku maju, lingkaran apinya justru semakin dijauhkan dariku.

I hope you know what i mean, guys. :)

Semakin dikasih bonus, aku selalu pengen cepet-cepet resign. Dan aku, udah berkali-kali resign. Tempat-tempat yang nggak banyak muslihat semacam ini selalu menenangkan jiwaku.

Bukan apa-apa sih. Menurutku, cara terbaik untuk menghasilkan hal-hal terbaik adalah dengan mengumpulkan orang-orang terbaik di bidangnya. Orang-orang yang emang udah punya passion di situ. Trust me, orang-orang yang punya passion itu malah sering bekerja lebih dari yang diminta.

Oh ya, ucapan APJ Abdul Kalam pada gambar di atas itu juga aku setuju banget.

Dikasih sanksi kalau kerjanya jelek!


source: teropongbisnis.com


Ini juga salah satu hal yang paling bikin gatel buat resign. Semakin diancam dengan sanksi, aku malah semakin ingin melanggar, biar dapet sanksi tersebut. Nggak selalu sih. Tapi mostly, iya!

Terlebih pas atasan ngancem mau mecat, berasa pengen teriak ke telinganya:

"PECAT AKU SEKARANG PAK! PECAT AKU! PECAT AKU!"

Begini, untuk urusan kerja, aku selalu mengutamakan kesukaan. Gaji kecil, tapi suka dengan kerjaannya, selama ini sih bahagia. Tapi gaji gede dan pekerjaannya bukan yang disuka, kantong mungkin akan aman-aman aja. Nyari pasangan juga kayaknya gampang (sudut pandang ini bukan berdasar bahwa wanita itu matre, tapi wanita berpikir jauh ke depan, karena mereka hanya ingin yang terbaik untuk keluarga dan terutama: anak-anaknya kelak). Namun pikiran seringkali kalang kabut, nggak pernah tenang.

Tapi yang harus selalu diperjuangkan adalah: pekerjaan yang disukai dan ada potensi uang di sana (happynomic). Syukur-syukur, potensi uangnya gede. Dan aku akan menggandeng erat-erat tangan orang yang bersedia mendaki bersamaku untuk meraih itu dan mengejar pencapaian-pencapaian lainnya. Pria nelangsa, mungkin udah biasa. Tapi dalam senelangsa-nelangsanya hidup, sebisa mungkin jangan biarkan wanita yang bersedia mendaki bersamamu ikutan nelangsa. Sebisa mungkin. Iya, sebisa mungkin. Gimanapun caranya!

Diancem putus


source: jassnight.files.wordpress.com


Seingatku, seumur hidup aku baru sekali menjalani hubungan asmara. Itu pun milihnya agak lama, dan selama menjalani, aku selalu menekankan bahwa aku menjalani ini dengan serius. Ya, dengan rencana pernikahan.

Selama perjalanan, aku mengupayakan segala sesuatunya sebaik yang aku bisa. Mulai menata untuk jadi pribadi yang lebih baik dan mempersiapkan rencana finansial yang baik. Ini bukan demi pasangan. Tapi karena menurutku, ya emang seharusnya tiap orang itu ya kayak gini. Jadi mau punya pasangan atau enggak, ya emang seharusnya setiap orang berkewajiban melakukan itu. Bukan untuk siapapun. Hanya untuk dirinya sendiri. Selalu! :)

Nah, kalau udah usaha kayak gitu dan tiap bertengkar selalu diancem putus, aku malah justru jawab:

"Putus? Yaudah kalau itu emang mau kamu."

Bukan apa-apa. Maksudku, kalau emang sejak awal diniatkan serius, apapun yang terjadi, harusnya kedua belah pihak selalu mengupayakan untuk bersama dong. Sampai kapanpun!

NO DRAMA!

Tapi kalau udah diancem putus, males banget lah nanggepin. Mending itu tadi:

"Putus? Yaudah kalau itu emang mau kamu."

Kalau endingnya beneran putus, sedihlah. Karena itu manusiawi. Tapi sebentar aja, abis itu bangkit lagi. Hidup ini terlalu singkat untuk mementingkan orang lain yang tidak mementingkan kita.

Ingat, jangan pernah tinggalkan nilai-nilai baik yang selama ini dipraktekkan. Terus bangun pribadi, terus bangun kemapanan. Bismillah, orang yang tepat sudah dipersiapkan.

Kembali soal putus.

Iya, aku tahu. Wanita itu kadang kayak gitu karena cuma pengen ngelihat perjuangan pria. Tapi menurutku, ada begitu banyak media sih untuk membuktikan itu. Kayak pas anniversary, ulang tahun, cara meredakan pas lagi ngambek dan masih banyak lagi selain ngancem putus.

Girls, dengan cara-cara itu kamu juga bisa melihat bagaimana pria berjuang loh.


Menuliskan ini emang mungkin jadi semacam simalakama. Kalau nggak ditulis, isi otak ini udah sejak lama pengen dicurahkan. Kalau ditulis, eh besok-besok tahu-tahu ikut praktek trik marketing yang kayak gitu. Tapi entahlah.

Semoga kalau aku punya usaha dan punya karyawan, mereka nggak berlama-lama ikutan kerja bareng. Malah justru baiknya berdikari aja. Oke, tips ini salah banget sih buat pengusaha yang pengen menciptakan pasukan khusus. Cuma, aku selalu percaya aja kalau tiap ada yang pergi, akan ada yang masuk. Biar nggak kalang kabut, ya yang mau cabut dikasih amanah untuk ngajarin yang baru, sebelum meninggalkan. Biar ada estafet.

Atau, bikin SOP kerja di tiap posisi secara lengkap. Jadi kalau sewaktu-waktu ada yang mengundurkan diri, karyawan baru yang masuk cukup bisa belajar dari buku SOP dan tanya-tanya dikit sama karyawan lain yang udah senior.

Tapi kalau emang karyawannya yang memilih untuk mengabdi sampai kapanpun, itu haknya karyawan juga sih. Cuma kadang-kadang kalau sampai ada karyawan yang begini, suka pengen bilang ke pengusahanya:

"Cieee... triknya berjalan muluuus..."

*kemudian dia bilang "sssssttt" dan aku ditampol kepalanya*


Oh ya, kalau kamu, apa aja hal-hal yang bikin males? Share dong. Hehe.

0 komentar:

Posting Komentar