Tentang Berkarya


Hari ini aku bukan lagi pengen sok-sokan ngomong tentang berkarya. Cuma pengen berbagi tentang apa yang kurasain dan udah ku praktekkan dalam bikin karya. Ya, memang karya yang udah ku bikin juga belum seberapa. Tapi, semoga apa yang bakal kubagi ini akan ada manfaatnya. Tapi sebelom baca lebih lanjut, ada baiknya kamu ke dapur bentar buat bikin kopi. Karena postingan ini cukup panjang.

Udah bikin kopi?

Mari kita mulai...

Semuanya bermula ketika suatu hari aku tidur dan bermimpi bahwa aku meninggal saat usia 55 tahun. Saat terbangun, aku merenung sejenak dan mencoba-coba menerjemahkan arti dari mimpi tersebut.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan pikiran tentang kematian itu masih aja kepikiran. Kalo aku nyoba untuk memikirkan, maka pemikiranku tentang kematian semakin mendalam. Kalo aku berusaha untuk nggak mikirin, malah justru semakin kepikiran.

Sampai suatu hari, aku jatuh pada kesimpulan:

"Oke, hidup ini pendek. Entah berapapun nanti jatah usiaku, yang jelas, aku harus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi sesama, melalui bidang yang aku bisa. Aku nggak mau jadi seonggok daging yang pernah hidup, yang kayaknya orang pernah denger ada nama "Mufid" di dunia ini. Aku mau jadi yang berbeda. Aku mau jadi spesial!"


Source: beritasatu.com

Sebenernya, sejak kecil sampe sekitar usia 15 tahun, aku excited untuk jadi TNI. Pengeeeeen banget. Apalagi sejak nama Pak SBY mencuat, saat sebelum jadi Presiden, aku mulai sering-sering baca berita tentang beliau dan ngerasa ngefans kepada beliau. Ini semakin menguatkan cita-citaku untuk jadi TNI. Tapi, kedua orangtuaku selalu menolak mentah-mentah.

"Apapun alasannya, Ibuk dan Bapak nggak setuju kalo kamu jadi tentara. Bagaimana nasib istri dan anakmu kelak, kalo sering kamu tinggal untuk bertugas diluar kota?" jawab Ibuk saat itu dengan nada tegas, yang aslinya malah lebih mirip kayak pemain sinetron.

Terpaksa, mau nggak mau aku harus merelakan diri untuk membunuh mimpi pertamaku.

Pertanyaan kemudian berlanjut dengan:

"Aku mau ngelakuin apa?"

Untuk ngejawab ini, aku memutuskan untuk ikutan berbagai organisasi dan ekstra kurikuler. Aku pengen mengukur, dari semua yang aku ikutin itu, mana bagian yang paling kuat menarik minatku. Yang kalo aku makan, kepikiran. Yang kalo aku mau tidur, kepikiran. Dan ngelakuin aktivitas apapun kepikiran terus.

Mungkin kalo saat itu aku sering kepikiran kamu, aku malah pengen jadi kamu. Adududuuu ~


Source: jogjanews.com

Pertama, ketemu, musik.

Sebenernya, aku cuma suka nyanyi dan baca buku doang waktu itu. Tapi karena ada temen yang ngajakin ngeband, yaudah ikut aja. Dan, jadi vokalis. Karena emang cuma itu bisanya. Pengen belajar gitar, tapi sama Bapak nggak boleh main gitar. Bapak kayaknya masih meragukan boleh enggaknya orang Islam main gitar. FYI, Bapakku adalah seorang pemuka agama. Punya pondok pesantren. You know, lah. Pasti agak sensitif kalo sama hal-hal begituan.

Selama ngeband, aku selalu sembunyi-sembunyi. Cuma adik-adikku doang di rumah yang pada tau. Berangkat dari seneng baca buku, di band, aku adalah salah satu orang yang paling sering nulis dan bikin lagu. Ya, nulis dan bikin lagu inilah yang sering kepikiran tiap lagi makan, tidur, jalan-jalan dan kemanapun.

"Mungkin ini passion," pikirku saat itu. Gara-gara pemikiran ini, aku jadi makin rajin nulis dan bikin lagu.

Oh iya, aku mulai ngeband pas kelas 1 SMK. Minimal seminggu sekali selalu kami pake buat ngeband. Sewa studionya patungan. Sisa hari lainnya, sering kami pake buat gitaran bareng sambil nongkrong dan ngopi-ngopi.

Semakin hari, pikiran kami semakin realistis, bahwa kami nggak mungkin selamanya barengan. Karena pasti setelah lulus SMK semua bakal pada kerja dan sibuk mengurusi hidup masing-masing. Kami pun bertekad, gimanapun caranya, setelah Ujian Nasional dan sebelum pengumuman kelulusan, harus rekaman!

Kenapa dipilih waktunya sebelum pengumuman?

Karena kami pengen menghindari sesuatu yang nggak kami inginkan, seperti, ada yang nggak lulus UN.

"Meski kita berpisah, tapi karya ini akan selamanya kita kenang. Aku nggak mau, apa yang kita lakuin ini nggak berbekas apa-apa," kataku saat itu. Sok-sokan nada ngomongnya dibikin mirip di film-film. Padahal kalo hari ini dibayangin lagi, respon selanjutnya adalah:

"Anjir, najis banget! Kenapa dulu ngomongnya menye-menye gitu sih?!"


Singkat cerita, kita pun rekaman. Dan inilah hasilnya.


Ya, emang kualitas rekamannya biasa. Sesuai dengan keadaan kantong kami saat itu yang masih anak sekolah. Tapi, sampai hari ini, kami masih bangga mengenangnya.

Sekuat tenaga aku pengen bertahan meski sendiri. Tapi ternyata aku cuma mampu sampai satu lagu yang berjudul 'Merapi'. Lagu itu aku tulis dan bikin sendiri, lalu aku minta bantuan temen untuk mengaransemen musiknya.


Setelah itu, untuk kedua kalinya aku harus merelakan diri untuk kembali membunuh mimpi untuk serius bermusik.

Pencarian pun kembali berlanjut.

Saat kuliah, aku kembali brainstorming. Ikut berbagai organisasi dan komunitas, untuk mengukur, kali ini ketertarikan terkuatku jatuh kemana. Ternyata, dari sekian organisasi dan komunitas yang aku ikuti, nggak mengarahkanku kemana-mana. Aku sempet down. Hari demi hari cuma kuhabisin buat kuliah, ngerjain tugas-tugas, baca-baca buku di perpus dan join kegiatan organisasi serta komunitas yang aku ikutin.


Source: apus.libguides.com

Untuk menyalurkan keresahan-keresahan yang ada dalam kepala, dulu aku bikin blog yang hari ini aku malah udah lupa apa namanya. Padahal, dari blog itu aku mulai menemukan apa yang aku suka dan masih aku lakuin sampe hari ini. Menulis. Ya, menulis.

Dari dulu aku seneng baca-baca buku tentang pengembangan diri kayak "How to Win Friends and Influence People" karya Dale Carnegie, buku-buku "Chicken Soup" atau buku bisnis semacam "Rich Dad Poor Dad" karya Robert Kiyosaki dan sebagainya. Tapi entah kenapa, ketika aku menuangkan isi kepalaku dalam bentuk tulisan di blog, jatuhnya bukan ke motivasi atau pandangan bisnis. Melainkan, jadi lawakan-lawakan dalam bentuk verbal yang aku belom tau apa namanya. Sampe-sampe waktu itu sempet kepikiran, apa jangan-jangan jalan hidupku jadi penulis komedi ya? Kok, yang dibaca apa, yang ditulis apa.

Aku masih inget, karena kuliah di jurusan IT, dulu pas ngeblog sering nulis lawakan-lawakan yang sering pake istilah dalam IT. Yang kayaknya cuma orang IT doang yang bakalan ngerti. Tapi saat itu, aku belom ngerti ini lawakan jenis apa. Karena dari dulu lawakan yang aku tau cuma Warkop DKI (sebenernya Warkop dulu pernah stand up juga sih. Tapi karena ketimpa sama program-program lawak baru, jadi agak hilang gambaran di kepala tentang stand up versi Warkop), Srimulat, Ketoprak Humor, API (Audisi Pelawak TPI), OVJ dan semacamnya.


Source: smbp.uwaterloo.ca

Barulah ketika tahun 2011 pas nonton di youtube ada stand up comedy, aku mulai mengkait-kaitkan lawakan yang biasa kutulis di blog dengan apa yang kulihat di stand up comedy, lalu aku bilang:

"Nah, lawakan yang seperti ini loh. Yang seperti ini. YANG SEPERTI INI!!!"

Sumpah, waktu itu seneng banget bisa tau istilahnya. Ternyata, stand up comedy. YA, STAND UP COMEDY. Harus pake capslock nih. Sori ya! Biar senengnya kayak nyata gitu.

Dulu pas nulis di blog, aku belom ngerti sih format-format jokes dalam stand up comedy. Cuma, aku sering pake-pake istilah IT yang kutabrak-tabrakin sama hal-hal umum. Yang aku nganggep itu lucu, lalu diamini temen-temen sekelas yang baca blogku.

Gara-gara itu, kemudian aku mencari tahu tentang teori stand up comedy. Pertama kali ngerti formatnya pas si Raditya Dika ngetweet tentang format-format dalam stand up comedy. Telat banget asli. Karena banyak orang yang sebenernya udah tau ini sejak lama. Sebelum tahun 2010 malah. Nahasnya, aku baru tau tahun 2011. Huft. -___-

Saat itu aku masih banci tampil dan lebih seneng nonton di channel youtube stand up indo. Aku tetep lebih seneng nulis. Sampe-sampe suatu hari aku pernah denger Radit ngomong:

"Kalo pengen jadi penulis komedi, sebaiknya belajar stand up comedy dulu."

Mau nggak mau aku kudu mempelajari format-format stand up comedy, nulis meteri, lalu praktek di open mic.

Pertama kali tampil, pas di acara BEM sekitar akhir 2011. Sumpah, garing banget!

Tampil kedua, di acara #SelosoSELO yang diadain stand up indo Jogja. Aku masih inget, itu bulan Februari 2012. Ini ada tawanya, tapi dikit. Banyakan garingnya.

Di tahun yang sama aku nekat ikutan audisi di Jogja dan Jakarta. Dan nggak lolos. Sejak itu aku mulai belajar bener-bener dan mempelajari gimana para comic bisa pada dapet golden tiket. Lalu tahun 2013 aku ikutan audisi lagi dan hasilnya...


Seneng banget, meski akhirnya nggak lolos ke Jakarta. Tapi nggak apa-apa. Untuk soal-soal yang berbau perjuangan, enaknya emang selalu naruh "ikhlas" sebelom take action. Jadi apapun hasilnya, minumnya teh botol sosro jawaban dari perjuangan cuma berhasil (melewati etape tersebut) atau belajar. Udah, 2 itu aja. Dan sejauh ini, alhamdulillah selalu biasa aja. Nggak sampe nyakar-nyakar tembok. Kalo kecewa atau ada sedikit rasa sakit itu wajar. Manusiawi. Tapi itu nggak berlangsung lama, karena pekerjaan setelah itu adalah move on!

Awal 2014 yang dulu aku ngebayangin bakal ada di rumah karantina Kompas TV, berpindah ke tempat-tempat yang sering ngasih pelatihan kepenulisan. Ya, aku ngelanjutin buat ngejar apa yang aku suka. Nulis.

Sebenernya aku udah mulai memutuskan untuk nulis novel komedi sejak tahun 2012. Tapi waktu itu aku sama sekali belom ngerti gimana cara nulis novel yang bener. Pantesan pas beberapa kali masukin naskah ke beberapa penerbit ditolak melulu. Revisi, ditolak lagi. Revisi, ditolak lagi. Gitu aja terus sampe dinosaurus hidup lagi.

Orang pertama yang membuka pemahamanku tentang nulis novel yang bener adalah Bernard Batubara. Dari kelas menulisnya, aku jadi ngerti kalo nulis novel itu ada urutannya. Harus ada ide, premis, karakter, plot, dan semacamnya.

Lalu mulailah, novel komedi yang udah kutulis sejak tahun 2012 itu ku obrak-abrik. REWRITE TOTAL! Aku sempet ngedatengin Mas Bara di kantor Gagas Media sambil bawa naskah, cuma buat konsultasi premis doang. Dan setelah premisku dapet ACC, baru aku lanjut nulis sampe akhir tahun 2014. Kemudian pada tanggal 26 Januari 2015 hasilnya...


Ya, aku bikin buku.

Aku bikin novel komedi berjudul Pharmacophobia.

Rasanya? Seneng banget. Ini buku pertama, guys!

Semakin hari aku semakin seneng nulis. Udah gitu bayangan yang aku mimpi meninggal di usia 55 tahun itu kebawa-bawa melulu pula. Sampe akhirnya suatu hari aku nemu sebuah quote dari Pram yang kurang lebih menyandingkan antara "menulis" dan "kematian".


Bagian:

"Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

itu nonjok banget menurutku. Dan menurutku mereka-mereka yang 'bekerja untuk keabadian' itu nggak cuma penulis. Tapi pekarya. Ya, orang-orang yang berkarya itu, mereka benar-benar bekerja untuk keabadian. Entah mereka musisi, penulis, pelukis, apapun. Selama karya mereka masih hidup hingga lintas generasi dan zaman, mereka bekerja untuk keabadian.

Untuk urusan produktivitas dalam berkarya, hingga hari ini aku masih mengidolakan "Bob Dylan" dan "Iwan Fals", juga "Helvy Tiana Rosa" yang jumlah bukunya melebihi jumlah usianya ato "Stephen King" yang udah nulis lebih dari 50 buku. Coba tengok (di wikipedia atau sumber lain) track record mereka dalam berkarya. Terhitung dari tahun awal mereka berkarya, hampir jarang kita temui ada tahun yang kosong tanpa mereka menelurkan karya. Ada, emang, tahun yang kosong. Tapi jarang. Jarang banget!

Pas kamu baca sampe di sini, bisa jadi kamu bakal bilang:

"Kuantitas, kalo nggak dibarengi kualitas, percuma!"

Tapi, gini, aku punya pandangan yang berbeda.

Menurutku, karya itu bertumbuh bersama pekaryanya. Jika karya pertama buruk, besar kemungkinan karya kedua lebih buruk baik. Karya ketiga lebih baik dari karya kedua. Begitu seterusnya. Dengan catatan, si pekarya terus mengupgrade diri dengan cara belajar dan nambah referensi. Hal yang harus tetap dijaga adalah menyajikan yang terbaik yang kita bisa dan mampu. Karena semakin hari nilai dari "Lakukan Yang Terbaik Semampumu" itu akan terus naik standarnya. Seperti yang kubilang tadi:

"Karya itu bertumbuh bersama pekaryanya."

Terus belajar. Terus upgrade skill. Terus praktek. Terus. Terus. Terus. Perbaikan dilakukan, sambil melakukan.

Tapi ya nggak usah terlalu tegang juga. Sering-seringlah piknik. Orang yang bener-bener paham passionnya di mana itu kayaknya malah santai banget hidupnya. Nggak kayak orang yang pura-pura sok nanya ini-itu biar dikira punya semangat belajar yang tinggi, padahal setelah nanya nggak dipraktekin juga.


Sometimes, aku memimpikan pengen se-produktif Bob Dylan, Iwan Fals, Helvy Tiana Rosa dan Stephen King. Nggak melewatkan tahun tanpa nerbitin buku ato karya lainnya. Tapi mungkin, sampe saat ini, saat masih sendiri (belum berkeluarga), aku masih bisa sih nahan banyak keinginan demi nerbitin karya. Kayak nerbitin buku ato web series semacam #SantriFiguranBerkelakar gitu.

Namun ketika telah berkeluarga kelak, bagiku, prioritas utama tetep keluarga. Jadi kalo ada keinginan menggebu-gebu untuk bikin karya yang mengharuskan keluar duit, sementara di sisi lain istri ato anak juga butuh duit, maka dana akan aku alokasikan untuk bikin karya keluarga.

Apakah menikah itu menghambat untuk berkarya?

Menurutku, enggak. Enggak banget, malah. Karena penggambaran diatas, cuma, mendahulukan mana yang lebih penting aja. Sama kayak jika ada duit sejuta, penting mana antara buat bayar kuliah yang itu hari terakhir pembayaran, atau biaya cuci darah orang tua yang harus cuci darah hari itu, dan kalo nggak cuci darah, orangtua akan meninggal.

Orang yang akalnya sehat pasti akan milih yang terakhir.

Lagian, kalo aku udah nggak bisa berkarya yang ngeluarin duit, aku masih bisa berkarya lewat media-media yang gratis kok. Nulis-nulis di buku diary kayak zaman sekolah, ngeblog, stand up comedy dan pilihan-pilihan berkarya secara gratis lainnya. Yang penting, tetep berkarya!

Kalo dulu aku sering kepikiran tentang batas usia yang sampe 55 tahun, sekarang malah yang sering kepikiran adalah, aku terus berjalan maju dan nggak bisa berhenti ato mundur selangkah pun, lalu di depan sana ada sebuah tembok yang kelak akan menghentikan langkahku.

Tugasku ato mungkin tugas kita?

Mengisi langkah perjalanan maju menuju tembok itu dengan sesuatu:

1. Amal jariyah

Melakukan sesuatu yang ketika ditinggal mati, dan sesuatu itu masih digunakan lalu orang mendapat manfaat kebaikan, kita masih menuainya. Sama seperti aset (tanah yang disewakan, emas batangan, dll) yang meski nggak kerja, kita tetep dapet income.

2. Ilmu yang bermanfaat

Membagikan ilmu yang kita miliki untuk memajukan kualitas orang lain.

3. Anak soleh

Emm... bentar-bentar. Ini masih nyari calon Ibu yang mau diajak berkolaborasi untuk melahirkan anak soleh. -___-


Selamat berkarya, guys. Kita semkin dekat dengan tembok!

3 komentar:

  1. Apalagi yang bisa dilakukan seorang pengangguran selain berkarya :D sekarang aku sudah nganggur. Makanya ngebet banged berkarya hahaha. Denger lagu mu rasanya pie banged mas... wkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asem :|

      Itu lagu jaman masih alay, Jo :|

      Hapus