Enaknya Rutin 'Mengabadikan' Sesuatu...



Kata 'mengabadikan' pada judul di atas kayaknya terdengar hiperbol. Ya, kan, pas besok hari kiamat tiba, semuanya lenyap. Termasuk kenanganmu bersamanya. Lenyap. Semua lenyap!

Tapi 'mengabadikan' yang aku maksud di sini lebih cocok untuk disebut merekam (Video dan suara. Untuk foto dan tulisan, anggap aja juga merekam).

Entah kenapa, dari dulu aku selalu suka dengan hal-hal yang berbau merekam. Sebenernya, aku pengen banget bisa lihat wajah kakek-kakekku dan nenek-nenekku yang meninggal sebelum aku lahir. Tapi nggak bisa, karena nggak ada yang merekam beliau. Kalaupun ada, foto. Tapi sejauh ini nasib foto jaman dulu sering berakhir usang, raib, lalu wajah-wajah leluhur terlupakan gitu aja dalam ingatan kepala.

Aku lahir saat Bung Karno sudah cukup lama wafat. Tapi, aku hafal dengan wajah dan suara beliau. Ini karena apa? Ya, merekam.

Aku lahir saat Imam Syafi'i telah sangat lama wafat. Tapi, hingga hari ini aku sering tercerahkan oleh petuah-petuah bijak dan kedalaman ilmunya. Ini karena apa? Ya, sebut saja menulis. Tapi mari kita samakan: merekam.

Aku lahir 10 tahun setelah John Lennon meninggal. Tapi, hari ini aku masih ingat seperti apa keindahan suaranya saat menyanyikan lagu Imagine bersama The Beatles. Ini karena apa? Ya, karena John Lennon menyanyi. Lalu direkam.

Aku lahir setelah ayahku lahir. Jarak kelahiran kami jauh. Tapi jarak kelahiran ayahku hanya satu tahun dengan waktu wafatnya Ki Hajar Dewantara. Aku tahu seperti apa wajah Ki Hajar Dewantara. Pertama kali aku dikenalkan oleh uang pecahan dua puluh ribu rupiah. Lalu pencarian kulanjutkan melalui internet, dan menemukan foto aslinya. Kadang sering kepikiran kalau beliau mirip Pramoedya Ananta Toer. Meski semakin kesini entah kenapa malah lebih mirip foto orang di sampul belakang iqro.


source: jurukunci.net

Tapi nggak apa-apa. Yang jelas, aku masih bisa mengingat seperti apa wajah Ki Hajar Dewantara. Itu karena apa? Karena aku mencintaimu karena Allah.

Maaf, yang barusan agak korslet. Maksudnya, aku masih ingat karena wajah Ki Hajar Dewantara difoto. Atau, seperti kesepakatan diatas: direkam.

AKU INGIN SEPERTI MEREKA!

Aku ingin, anak-anakku, cucu-cucuku, cucunya anakku, cucunya cucuku, cucu cahyati dan semua orang meletakkan wajah, suara serta tulisanku ke dalam benak mereka. Itu harapanku.

Kalau nggak terwujud? Ya, nggak apa-apa. Namanya juga harapan. Karena kalau ada jaminan terwujud, itu namanya kepastian.

Tapi sebetulnya untuk wajah, suara dan nama nggak begitu penting kalau jangkauannya semua orang. Nggak dikenal juga nggak apa-apa. Karena aku nggak begitu pengen terkenal. Aku cuma ingin anak dan cucuku turun-temurun tahu bentuk kakeknya nggak cuma dalam bentuk 2 dimensi. Tapi 3 dimensi. Itu aja, minimal.

Kalau yang jangkauannya semua orang, aku lebih suka menitikberatkan pada 'pengaruh kebermanfaatannya'.

Wajah, suara dan namaku tak masalah jika tidak dikenal khalayak lebih luas. Tapi jangan sampai nggak ada hal-hal bermanfaat yang bisa meningkatkan kualitas hidup orang lain. Bukankah khairunnas anfauhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?


source: goinswriter.com

Memulainya dengan menulis adalah permulaan yang sangat tepat, menurutku.

Aku pernah 'mengabadikan' suaraku melalui lagu. Aku memulainya dengan menulis. Ya, menulis lagu.

Aku pernah 'mengabadikan' tulisanku melalui buku. Aku memulainya dengan menulis. Ya, menulis buku.

Aku pernah 'mengabadikan' polah tingkahku melalui video. Aku memulainya dengan menulis. Ya, menulis script video.

Aku pernah 'mengabadikan' wajahku melalui foto. Aku memulainya dengan nyari pinjeman kamera orang buat motret mukaku.

Enaknya rutin 'mengabadikan' sesuatu...

Foto 10 tahun lalu yang dilihat kembali hari ini, bisa menjadi penghantar untuk masuk kembali dan bernostalgia bersama kenangan masa lalu. Entah itu masa kecil, masa bersama orang-orang tersayang, atau masa-masa paling indah kisah-kasih di sekolah.

Tulisan 10 tahun lalu yang dibaca kembali hari ini, bisa menjadi pintu masuk untuk menyelami pola pikir masa lalu saat tulisan tersebut ditulis. Karena apa yang dituliskan merupakan pantulan dari apa yang dipikirkan.



Video 10 tahun lalu yang ditonton kembali hari ini, bisa menjadi jalan untuk bercengkrama dengan kepribadian di masa lalu. Bisa jadi, saat diri ini direkam 10 tahun lalu, pribadi saat itu adalah pribadi alay yang kalau sekarang ditonton bakal berkomentar:

"Ah elah, kenapa dulu aku kayak gitu sih? Kenapa Ya Allah? KENAPAAAAA?!!!"

Rekaman suara 10 tahun lalu yang didengar kembali hari ini, bisa jadi penawar rindu akan indahnya masa lalu dan bersyukurnya akan hari ini. Indah karena masa itu adalah masa-masa polos yang tahunya cuma ngelayap - pulang sebentar - ngelayap lagi - pulang - ngelayat, kalau ada tetangga yang meninggal. Bersyukur karena keindahan masa lalu terselamatkan. Meski nggak semua, tapi paling tidak bisa jadi penawar rindu akan indahnya masa lalu.

Enaknya rutin 'mengabadikan' sesuatu...

Mari rajin-rajin mengabadikan: write your own story!

Sering-sering foto itu boleh. Asal jangan keseringan ngupload di sosmed. Sering juga boleh sih. Tapi sebentar lagi pasti banyak yang nge-mute/unfollow/unfriend dan semacamnya.

Sering nulis itu baik. Syukur-syukur ngeblog dan nulis buku. Rajin 'nyampah' di sosmed? Boleh. Tapi bentar lagi pasti banyak yang nge-mute/unfollow/unfriend dan semacamnya.

Sering-sering ngrekam dalam bentuk video juga bagus. Syukur-syukur bikin video yang bermanfaat. Insya Allah nggak ada yang nge-mute/unfollow/unfriend dan semacamnya.

Sering-sering ngrekam suara juga keren. Bikin podcast atau lagu, misalnya. Apalagi kontennya bermanfaat. Wih, Insya Allah nggak ada yang nge-mute/unfollow/unfriend dan semacamnya.

Lalu gimana?

Ya nggak gimana-gimana. Berkarya aja terus. Kalau mau ngeshare di sosmed, sewajarnya. Biar nggak di mute/unfollow/unfriend dan semacamnya. Akan lebih baik lagi kalau memilih untuk fokus kepada apa yang penting.

Kalau semuanya penting?

Fokus kepada yang nilai pentingnya lebih besar. Dampaknya lebih luas dan lebih baik.

Status atau tweet bisa jadi penting. Lebih baik lagi kalau dilengkapi dengan menulis di blog. Akan sangat baik jika diakhiri dengan menulis buku.

Merekam suara bisa jadi penting. Lebih keren lagi kalau dilengkapi dengan membuat podcast, membuat lagu lalu direkam, dan semacamnya.

Merekam polah tingkah bisa jadi penting. Akan sangat keren lagi kalau dieksekusi jadi film atau video bermanfaat lainnya.

Memfoto juga bisa jadi penting. Namun alangkah baiknya jika memfoto objek yang baik-baik dan mendatangkan manfaat bagi sesama.

Harus selalu ada embel-embel 'bermanfaat' ya?

Enggak kok. Nggak harus. Kalau begitu semua, nanti segala sesuatunya jadi serba serius. Bukankah saat capek kerja, badan butuh istirahat? Bukankah saat pikiran jenuh, seseorang butuh piknik? Bukankah untuk membuka hati kepada orang yang baru, syarat utamanya adalah menutup rapat-rapat bayangan orang lama? Bayangan Pak SBY! Mari kita fokus kepada Pak Jokowi dan mendukung pemerintahan beliau.


Jadi, ayo rajin-rajin mengabadikan. Sebelum semuanya terlambat dan pintu kesempatan ditutup. Abadikan sebanyak-banyaknya. Sepuasnya! Tapi ingat, apa-apa yang terabadikan (apa yang kita tanam) secara otomatis akan berubah menjadi aset.

Jika yang ditanam baik, lalu banyak orang mendapat manfaat kebaikan, si penanam kebaikan akan panen pahala. Selamanya! Bahkan ketika si penanam kebaikan telah menyatu dengan tanah, namun benih-benih kebaikan yang dulu ia sebar masih mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, pahala kebaikan akan terus mengalir kepadanya.

Hal ini juga berlaku sebaliknya.

Tepat sekali memang, nasehat Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin - Ali bin Abi Thalib:

"Setiap penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti."




Sumber foto paling atas: ngonoo.com

2 komentar:

  1. yeah... mengabadikan hal-hal yang menyenangkan itu memang perlu. foto kek... tulisan kek... video kek.. diabadikan dalam bentuk apapun. dan setuju, seniman itu bakal mati. tapi karyanya akan abadi..

    BalasHapus
  2. Aku lebih seneng sama foto. Entah kenapa ngerasa lebih dapet aja momennya daripada video. :P

    BalasHapus