Kelas #9 Kopdar Fiksi: Memahami Genre Dalam Menulis


Nggak kerasa, udah 4 bulan aja nggak ikutan acara kelas menulis dari @kopdarfiksi. Kalau ibarat calon bayi, ini adalah saat yang tepat untuk meniupkan ruh. Terakhir ikutan, tepatnya tanggal 16 Oktober 2014 saat Kelas #6 Kopdar Fiksi.

Alasan kenapa hari ini pengen ikut, gara-garanya penasaran:


"Emang, tiap genre itu ada rule-rule yang harus dipatuhi, ya?"

"Kalo ada, apa aja sih?"


Nah, akhirnya sore tadi bisa mendarat dengan damai di Milkbar, Jogja.

Pembicara acara sore tadi, namanya Mbak Yoana Dianika ( @cerberus404 ) yang seperti pada gambar di atas, setahuku, udah nulis 2 buku: Devil's Game & Hujan Punya Cerita Tentang Kita yang notabene 2 buku tersebut punya genre berbeda. Jadi, tepat, lah, kalau Mbak Yoana Dianika yang jadi pembicara. Udah ada buktinya.



Tapi, kenapa buku yang dipajang di atas, judulnya Lovely High School dan Devil's Game? Mana buku Hujan Punya Cerita Tentang Kita? Entahlah, berapa jumlah karya Mbak Yoana ini. Yang jelas, ia adalah mentor yang cocok untuk acara tadi. Menguasai banget soalnya.

Yuk, lanjut!

Ada 5 genre yang jadi bahasan tadi. Ini dia:



Sejak berangkat dari rumah, aku berharap bakal ada pembedahan tentang genre komedi. Biar se-alur gitu, dengan buku novel komedi pharmacophobia yang udah ku tulis. Ternyata, pas acara, malah nggak ada bahasan tentang genre komedi. Disitu kadang saya merasa sedih. :(

Oke, tapi nggak apa-apa. Justru ini baik. Malah bisa nambah wawasan mengenai genre-genre lain yang belum ku ketahui, atau mungkin ada rencana pengen mengawinkan dengan genre yang udah ku pelajari.

Tadi, pada masing-masing genre ada penjelasan detailnya sih. Tapi kayaknya nggak mungkin kalau semuanya ku  share  di sini deh. Kepanjangan. Makanya, besok-besok, kalau ada acara kelas menulis, ikutan, ya? Cihuy!

Banyak orang mungkin nganggep kalau genre  fantasy  dan  science fiction  itu sama. Padahal, enggak sama sekali. Mereka punya pakemnya masing-masing. Ini yang ku  share, perbedaan dalam bentuk tabel aja, ya.


Lalu berikutnya, yang sering di kaitkan dan di anggap mirip adalah genre  horror  dan  mystery. Berikut pakem-pakemnya pada kedua genre tersebut.


Setelah acara selesai, berikutnya adalah sesi tanya-jawab tentang materi yang tadi dijelasin. Cukup banyak pertanyaan yang terbit dari para peserta. Ada yang nanya:

"Perlu nggak sih, nulisin genre kita di buku. Buat ngasih tau pembaca. Misal: romance-mystery?"

Jawabannya:

"Sebenernya, bebas sih. Tapi baiknya, nggak begitu perlu deh. Karena, terkadang, pembaca selalu punya terkaan sendiri terhadap genre buku yang telah mereka baca. Jadi, biarkan pembaca menilai sendiri, genre apa buku tersebut, tanpa harus di beri tahu melalui pembubuhan."



Ada juga yang nanya:

"Jika kita ingin mengawinkan 2 genre, apakah kedua pakem-pakem dalam kedua genre tersebut harus di masukkan semuanya, atau beberapa saja?"

Jawabannya:

"Meskipun 2 genre, pasti ada 1 genre yang di fokuskan. Misal: horror-comedy. Kalau di fokusin ke horror, berarti comedy hanya sebagai bumbu pemanis biar makin seru dan berwarna."

Itu aja ya, tanya-jawab yang ditulis.



Setelah sesi tanya-jawab selesai, Mas Bara, selaku MC acara ini, maju. Tiba-tiba dia bawa banyak kertas yang udah di linting kayak kalau lagi arisan, dan semua wajib ngambil satu-satu. S-E-M-U-A. Baik itu peserta, MC, maupun pembicaranya sendiri. Eh, tapi kecuali Mbak-Mbaknya yang jual minuman di Milkbar sih.

Setelah dibuka, rupanya kertas itu berisi genre menulis. Meski kertasnya banyak, tapi isinya hanya 5 genre diatas tadi. Setiap yang kebagian genre tersebut, harus menuliskan  1 atau 2 paragraf yang membentuk sebuah cerita, dengan sebuah kata kunci, dan penyampaiannya harus sesuai dengan genre yang diperoleh.

Kata kunci yang sepakat dipilih tadi adalah:

KUNCI

Jadi mereka kudu nulis dengan dasar kata itu. Dan, semua pun mulai berpusing ria selama 20 menit untuk bikin 1 cerita singkat berdasar kata 'kunci' tadi.


Yok... yok... yok... yang kepalanya mulai berasap,  ambulance  udah siap-siap di depan Milkbar. Tapi lewat doang sih.

Oh iya, meskipun kamu nggak nanya, tapi kebetulan aku dapet genre  mystery. Tadi, pas buka kertasnya, aku langsung membatin:

"Duh, mampus aku. Nggak pernah nulis mystery sama sekali. Mau nulis apa ini?"

Harus ada masing-masing genre yang mewakili, dengan membacakan cerita singkat yang ia tulis. Apesnya, untuk genre  mystery, aku salah satu yang mewakili. Dan ini cerita singkat genre  mystery  hasil karyaku tadi:




Misteri Hilangnya Kunci Gudang Sekolah

Pagi itu, guru olahraga geger lagi. Gara-gara, saat ingin mengambil bola basket di gudang, kuncinya tidak ada. Satpam yang biasa membawa kunci pun mengaku kalau ia sudah seminggu ini nggak membawa kunci gudang.

Sudah seminggu ini pula, sekolah geger gara-gara hilangnya kunci ini. Karena selain gudang nggak bisa dibuka, namun faktanya, setiap malam para siswa yang rumahnya di sekitar sekolah dan sering lewat, mengaku melihat kalau pintu gudang, setiap malam, selama seminggu ini, selalu terbuka.

Ternyata, kuncinya, dibawa satpam yang  shift  malem.




Gimana, serem nggak  guys?

Guys?

Halooo...

Guys?

Guys?

Yah, malah masuk  ambulance.









Sumber gambar-gambar: @benzbara_  &  @bukune

0 komentar:

Posting Komentar