Kelas #6 Kopdar Fiksi: Menulis Novel Teenlit


Kayak-kayaknya udah lama nggak ikutan kelas kopdar fiksi. Padahal baru kelas #5 doang. Tepatnya pas kelas nulis buku horor. Bukan apa-apa sih, selain emang karena sampai saat ini aku belom ada ketertarikan dalam menulis horor, juga karena pas masuk kerja. Pulang kerja, acara udah kelar. Jadinya nggak bisa ikutan.

Jadinya bisa ikut lagi pas kelas #6 ini: "Menulis Novel Teenlit."

Ada banyak hal loh yang harus kita pelajari dalam menulis novel teenlit. Seperti kita ketahui (padahal kamu belom tau, kan? Hahaha) pasar novel teenlit itu remaja. Usia-usia SMA gitu lah. Maka dari itu ada banyak hal yang harus kita tau tentang anak SMA jaman sekarang. Gimana bahasa ngobrolnya, apa aja pelajarannya, kemana mereka main, dan sebagainya.

Oiya sampe lupa ngenalin. Mentor di kelas menulis kali ini namanya Mbak Sienta Sasika Novel. Ini dia orangnya:


Entah apa maksud dari kata Novel pada nama belakangnya. Mungkin itu merupakan satu hal yang menyebabkan Mbak Sienta jadi jago nulis novel. Sepertinya aku harus ganti nama jadi:

Ahmad Mufid Novel Komedi

deh. Siapa tau setelah 7 hari ganti nama, bangun tidur mendadak nggak ada novel komedi disamping tempat tidurku. Bisa jadi itu gara-gara pasca ganti nama, lupa bikin kenduri.


Selain riset tentang hal-hal yang berkaitan dengan anak SMA atau remaja, kita juga tetep harus berpegang teguh pada dasar-dasar pembuatan novel. Dan ini berlaku untuk novel apapun. Baik itu komedi, fiksi, maupun lainnya. Jadi proses kreatif yang Mbak Sienta jelaskan seperti ini:


Ide

Premis cerita. Rumus premis: karakter utama + tujuan + konflik.

Misal: 

"Seorang cowok yang pengen menikahi seorang cewek, tapi nggak direstui orangtuanya."

Itu premis yang mainstream banget sih. Tapi seenggaknya bisa buat contoh.

Sinopsis

Ringkasan cerita dari awal sampe akhir. Sinopsis ini beda loh ya, sama blurb. Kalo blurb (yang di sampul belakang itu), emang harus dibikin penasaran. Tapi kalo sinopsis, harus tuntas nan ringkas. Mulai dari pengenalan karakter, konflik hingga penyelesaian.

Draft

Outline cerita. Tepatnya, kejadian demi kejadian yang terjadi pada setiap BAB. Jadi ini bisa memudahkan kamu saat menulis nanti. Sehingga kamu jadi tau, harus nulis apa lalu menutupnya dengan cara bagaimana. Kalo Raditya Dika, dalam e-book menulis kreatifnya pernah bilang gini:

"Jika jumlah cerita ada 100%, pembagiannya 25% untuk pengenalan tokoh, 50% konflik dan 25% penyelesaian."

Writing

Ya nulis itu sendiri. Jago nulis itu urusan belakang. Yang penting bisa disiplin nulis dulu tiap hari. Rata-rata penulis sih selalu meluangkan waktu 2 jam sehari buat nulis.

Editing

Mengedit tulisan. Sebaiknya, kalo pas nulis, jangan sambil ngedit. Nulis ya nulis aja. Secepat mungkin. Cara melatihnya bisa dengan menulis lewat 3 kata. Setelah tulisan itu selesai, endapkan selama 1 hingga 2 minggu. Nggak usah diapa-apain. Baru setelah 2 minggu, di edit. Tujuannya, biar editanmu jadi ciamik!

Sending

Ngirim ke penerbit! Selamat berjuang. Semoga naskahmu diterima. Tapi kalo enggak, jangan kuatir. Karna kamu masih bisa menerbitkannya secara mandiri melalui self publishing. Bisa lewat nulisbuku.com, bukuindie.com maunpun self publishing  lainnya. Nggak usah kebergantungan banget lah sama penerbit major. Yang penting kan, bikin karyanya. Bukankah begitu?


Biar lebih greget, kami semua ditantang bikin outline. Nggak banyak sih, cuma 2 BAB doang kok. Dan ini sifatnya masih kasar. Karna bikinnya spontan juga. Hanya untuk latihan. Sekalian koreksi ditempat. Mumpung ada mentornya. Dan inilah kami yang lagi serius bikin:


Setelah semua selesai nulis outline sebanyak 2 BAB, beberapa peserta diminta untuk membacakan outline yang mereka bikin. Boleh dong ya, kalo aku ngeshare outline yang aku bikin. Hehehe...


BAB 1

Roni adalah Ketua BEM yang perfeksionis. Saat ini, ia tengah menyukai seorang mahasiswi baru yang jago main musik. Namanya Nadia.

BAB 2

Pada saat Roni jadi pembicara di acara kampus, ia marah sekali ada peserta seminar yang datang terlambat. Saat rapat berjalan kondusif, tiba-tiba ada satu peserta yang datangnya telat banget. Nadia.


Begitulah, outline yang kubikin kemarin.

Dan ini dia, pembahasan outline-outline yang udah dibaca. Sekaligus sesi tanya-jawab, baik dengan Mbak Sienta maupun Mas Bara:


Ada banyak hal yang ku peroleh dari acara kopdar fiksi kemarin. Makannya kalo kamu pengen banget belajar nulis, ikut yuk di kelas berikutnya. Buat kamu yang tinggalnya diluar Jogja, Jakarta dan Pontianak, jangan putus asa. Pasti selain kopdar fiksi, bakal ada kelas-kelas menulis lainnya di kotamu. Entah itu dari penerbit maupun komunitas yang ngadain acara. Selain itu kamu juga bisa mengandalkan internet buat nambah wawasan.

Adzan Maghrib pun berkumandang. Bersamaan dengan ini, acara menulis novel teenlit juga berakhir.

Sebelom pada pulang, kami pun foto bareng dengan Mbak Sienta dan Mas Bara. Entah siapa itu yang dibelakang. Heboh banget. Mangap muluk. Kayaknya belom pernah kemasukan ular tangga deh mulutnya. 


Semoga bermanfaat, dan sampai jumpa di kelas kopdar fiksi berikutnya! :')







Sumber foto: @benzbara_

2 komentar:

  1. kalo lagi deadline bang, rasanya kaya di tonjok tapi pake sarung tangan berkulit duren. sakit. HADUH, ada solusinya ngga bang buat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kok kayaknya aku belum layak buat ngasih tips-tips tentang itu. Bukti gerakanku belom keren-keren banget deh. Hahaha...

      Tapi kalo menurut beberapa penulis, mereka selalu punya target buat nulis tiap hari. Sehari 2 jam. Ada juga yang ditarget. Misal, 1 buku: 1 bulan nulis, 1 bulan editing, layout, cover, dll. Gitu. Sekitar 2-3 bulan, diperkirakan kelar. Gitu. Hehehe...

      Hapus