#PertamaKali Nonton Teater Berbayar


Pertama kali dapet info acara ini dari grup facebook kantor yang awalnya ngajakin nonton bareng di moviebox hari Senin 15 September 2014. Tapi nggak jadi. Akhirnya diganti nonton ini. Agak gimana gitu ya sama judulnya. Masak pertama kali nonton teater berbayar. Nah, sebetulnya itu adalah sesuatu yang nggak biasa buatku. Iya, karena biasanya gratisan.

Pertama kali nonton teater itu waktu pas di kampus, jaman masih kuliah. Saat itu aku terkesan banget dengan ekspresi-ekspresi dan emosi pemainnya yang total banget. Nangis ya beneran sampe keluar air mata seperti seolah nggak ada yang ngeliatin, pas seneng ya girangnya lepas banget. Seolah semuanya natural. Padahal, orang-orang yang biasanya pada suka nangis sambil nyedotin ingus itu kalau disuruh nangis diatas panggung juga kayaknya nggak bisa deh. Termasuk yang nulis ini.

Dulu kalau di kampus namanya 'Teater Manggar'. Mereka selalu tampil total tanpa pernah memungut sepeser pun ke penonton. Pernah sih waktu itu mereka bikin aksi ngumpulin dana. Tapi uang yang terkumpul mereka sumbangkan. Salah satunya waktu gunung merapi meletus. Salut!

Kemarin, sesampainya di lokasi, langsung dikasih semacam buku panduan:


Meski ini pengalaman pertama nonton teater berbayar, tapi sebenernya ini gratisan juga sih. Soalnya yang ngebayarin Pak Bos. Hehehe... Tapi kan intinya berbayar, entah siapa yang mau bayarin. Haha... Dari sini juga aku jadi bisa bandingin kualitas nonton gratisan waktu pas masih kuliah, sama kali ini yang nontonnya berbayar. Beda banget lah.

Oiya, ini penampakan tiketnya:


Sebelom masuk ke cerita pementasan drama, kayaknya aku pengen main tebak-tebakan dulu deh. Nebak premis cerita. Bukan sombong ato sok, cuma pengen mraktekin ilmu yang kudapat dari ikutan kelas kopdar fiksi dan beli e-booknya Raditya Dika aja. Hehehe...

Rumus premis cerita = Karakter Utama + Tujuan + Halangan

Jadi kurang lebih premis cerita pementasan drama 'LUH' ini:

"Seorang Ibu yang ingin mencari anaknya, tapi nggak tau entah kemana karena lama tak bertemu, plus sikap suaminya yang sudah tak lagi mengharapkan kembalinya sang anak."


Agak panjang ya?

Biar enakan, kupecah jadi gini aja,


Karakter Utama: 

Ibu (Nenek Mirah)

Tujuan: 

Mencari anaknya (Irawan) yang hilang 

Halangan: 

20 tahun nggak ketemu Irawan, yang pasti udah lupa bentuk mukanya, dan sikap sang suami (Kakek Sarjono) yang selalu mengendorkan tujuan.


Awal cerita datanglah sang pemeran utama: Ibu (Nenek Mirah).


Di kedatangan awal ini ia menceritakan tentang tempat tinggalnya 20 tahun silam. Dulu ia adalah seorang wanita kaya istri pejabat. Lantaran suaminya korupsi dan tertangkap, semua gemerlap yang ditawarkan kehidupan padanya pun berubah drastis. Sekarang ia jatuh miskin dan harus hidup terlunta secara nomaden atau berpindah-pindah. 

Namun kali ini, ia kembali ke daerah tempat tinggalnya dulu, yang sekarang sudah banyak berubah. Tempatnya sudah tak seramah dulu. Karena sekarang banyak gedung-gedung tinggi dibangun disana. Bisa dikatakan ini adalah pesan satir atas maraknya pembangunan gedung dan hotel di Jogja.

Nggak lama kemudian, datanglah sang suami. Kakek Sarjono.


Kakek Sarjono dan Nenek Mirah bernostalgia mengingat masa lalu jaman masih pedekate. Nenek Mirah seneng digodain Kakek Sarjono. Quality Time yang dulu sangat tak pernah mereka lakukan saat masih kaya.

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari percakapan 2 pemeran diatas. Meski kondisi finansial mereka nggak semakmur dulu, namun sekarang mereka bisa hidup bahagia. Dulu mereka nggak pernah bisa bersendau gurau bersama karena masing-masing punya kesibukan. Mirah muda sibuk belanja dan liburan, lalu Sarjono muda sibuk korupsi demi memenuhi keinginan-keinginan istrinya. 


Ditempat tersebut, mereka sering bergurau di taman dan melempar gombalan-gombalan romantis. Di usia yang telah renta ini mereka kembali memeragakan rayuan-rayuan yang sudah bertahun-tahun mereka lupakan.

Seperti apapun keadaan mereka sekarang, Kakek Sarjono tetap bahagia karena masih memiliki Nenek Mirah. Begitu pula sebaliknya.


Kini, meski mereka terkoyak, namun hidupnya cukup tenteram meski harus makan dan minum dengan mengais sisa-sisa dari tempat sampah. Bagi Kakek Sarjono dan Nenek Mirah, itu sudah menjadi konsumsi mereka sehari-hari. Jadi nggak ada lagi hal yang perlu untuk mereka keluhkan, selama masih ada yang bisa dimakan.


Entah kenapa tiba-tiba Nenek Mirah teringat dengan Irawan, anak semata wayangnya. Kakek Sarjono yang dari dulu nggak pernah lelah untuk menasehati istrinya agar tak lagi mengingat anaknya pun kini melakukan hal yang sama.

Sekonyong-konyong Kakek Sarjono berusaha meminta Nenek Mirah agar melupakan Irawan, namun Nenek Mirah tetap enggan. Ia yakin kalau Irawan masih hidup. Dari pembahasan tentang Irawan inilah pertengkaran tersulut. Kakek Sarjono tak ingin istrinya stres karena memikirkan anaknya yang telah pergi entah kemana. Bahkan saking tak ingin istrinya stres, Kakek Sarjono bilang kalau Irawan sudah meninggal.

Mendengar itu, Nenek Mirah tersinggung. Marah besar, lalu pergi dengan membawa tekad kuat bahwa ia berjanji akan mencari Irawan sendiri. Dalam lubuk hatinya masih meyakini bahwa Irawan masih hidup. Nenek Mirah pun pergi dan meninggalkan Kakek Sarjono sendirian.


Kakek Sarjono masih memegang teguh pendiriannya bahwa Irawan telah meninggal. Namun saat Nenek Mirah memutuskan untuk pergi, ia sedih. Meratap. Menyesali apa yang telah ia perbuat dulu. Korupsi.

Ya, bermula dari korupsilah semua malapetaka ini dimulai. Tuntutan Mirah muda yang begitu tinggi membuatnya harus menghalalkan segala cara dengan jabatan yang dimilikinya. Tak ayal, tindakannya membuat ia harus meringkuk dalam jeruji besi dan semua hartanya mengalami penyitaan. Anaknya hilang entah kemana, sementara satu-satunya yang masih ia miliki hanyalah Mirah.


Dalam peratapannya kepada Tuhan tersebut, datanglah seorang banci bernama Irawati yang mengganggu pertaubatannya. Selain pertaubatannya yang diganggu, kenyamanan Kakek Sarjono juga diganggu. Awalnya cuma diganggu-ganggu biasa. Tapi lama-kelamaan Irawati malah nawarin 'surga dunia' ke Kakek Sarjono. Kaki Kakek Sarjono dipeluk, celananya dibuka, dan ..........

*maaf, selanjutnya lupa ceritanya. Pokoknya gitu*

Kakek Sarjono pun lari terbirit-birit dan meninggalkan Irawati sendirian.


Dalam kesendiriannya tersebut, Irawati bercerita tentang hidupnya yang sehari-hari selalu dipenuhi oleh kebahagiaan akan 'surga dunia'. Namun lambat laun ia menyadari bahwa itu semua hanyalah kesemuan belaka. Karena sesungguhnya Irawati tercabik-cabik dalam menjalani kehidupannya.

Sebetulnya, ia terlahir sebagai pria normal. Namun semua berubah saat Ayahnya korupsi dan seluruh asetnya disita. Ia lari saat rumahnya tengah disegel. Beruntung, karena setelah melarikan diri ada seorang pria yang bersedia memungut dan menjadikannya anak angkat.

Tapi keberuntungan itu hanya sebentar, karena sesaat setelah dipungut, ia baru tau kalau rupanya sang Ayah angkat suka main cabul. Sodomi. Dari sinilah kepribadian Irawan mulai mengalami porak poranda. Ia tak tau lagi mana yang benar dan mana yang salah. Semua yang dilakukannya hanya atas dasar nafsu. Hidupnya dipenuhi dengan sifat-sifat 'kebinatangan'.

Gara-gara perbuatan bejat Ayah angkatnya itulah ia merasakan ada kenikmatan. Irawan ingin merasakannya lagi dan lagi. Hingga akhirnya ia mendandani dirinya layaknya seorang wanita, yang mungkin lebih cocok untuk disebut banci. Nama Irawan pun digantinya menjadi Irawati. Dimulai dari sini, ia mulai menjajaki karir sebagai seorang banci jalanan. Profesi yang siapapun pasti enggan menyandangnya. Tapi tidak untuk Irawati. Baginya, kenikmatan yang bisa ia peroleh dari menjadi seorang banci jauh lebih penting ketimbang sebuah kehormatan itu sendiri.

Ketika peratapannya tersebut, Nenek Mirah mendengar, lalu datang.


Sadar ada yang datang, Irawati cepat-cepat mengusap air mata yang berlinang di pipi kasarnya. Nenek Mirah kembali lagi karena yang dilakukannya tadi hanya untuk menguji kesetiaan Kakek Sarjono. Dan sesampai ditempat semula malah bukan Kakek Sarjono yang ia dapati. Melainkan, seorang bencong.

Nenek Mirah ngobrol banyak hal dengan Irawati. Tanpa terasa, obrolan mereka mengalir hingga Nenek Mirah kelepasan cerita tentang anaknya yang sudah 20 tahun ini menghilang. Dari kota ke kota Nenek Mirah mencari Irawan namun tak ketemu juga.

Merasa ada kesamaan dengan cerita masa kecilnya, Irawati mulai sadar kalau bisa jadi Nenek Mirah jangan-jangan adalah Ibunya. Namun Irawati tak mau cepat-cepat menerka. Setelah ia bertanya kepada Nenek Mirah tentang ciri-ciri Irawan, barulah ia sadar kalau ternyata yang dimaksud adalah dirinya.

Perlahan-lahan Irawati menjelaskan. Namun Nenek Mirah menolak mentah-mentah. Ia bersikeras kalau anaknya bukanlah seorang banci. Anaknya adalah laki-laki normal yang tampan nan lucu. 


Mati-matian Irawati mencoba menjelaskan. Hingga pada akhirnya ia menyanyikan lagu sebelum tidur, lagu yang sering Nenek Mirah lantunkan sewaktu Irawan masih kecil. Ya, lagu yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Meski demikian, Nenek mirah tetap tak percaya. Irawati pun mengeluarkan bukti lain: sapu tangan. Itu adalah pemberian sang Ibu sebelum akhirnya berpisah 20 tahun lalu.

Sampai disitu Nenek Mirah belum mau percaya. Ia beranggapan kalau Irawati pasti nemu sapu tangan tersebut di jalanan. Terakhir, Nenek Mirah menantang kalau memang bencong tersebut ialah anaknya, Irawati harus menunjukkan tahi lalat di badannya. Karena Irawan punya tahi lalat, yang pasti letaknya hanya Nenek Mirah dan Irawati yang tahu. 

Irawati menyanggupinya. Baju dibuka sedikit. Tahi lalat yang ada di samping perut ia tunjukkan kepada Nenek Mirah. Dari sinilah kemudian Nenek Mirah percaya. Meski berat untuk mengakui kalau sekarang anaknya berubah menjadi banci, namun Nenek Mirah tetap menerimanya. Bagaimanapun, Irawati (Irawan) adalah darah dagingnya sendiri.


Irawati berlutut memohon maaf kepada Nenek Mirah. Isak tangis dan air mata berderai disini. Bukan hanya dari para pemain, tapi juga beberapa penonton yang menyaksikan pada malam itu. Ini diperparah dengan adanya iringan musik yang bernada sendu. 

Alunan musik yang mengiringi tiap adegan membuat cerita ini hidup dan nyata.


Setelah tangis haru melewati masa buncahnya, Kakek Sarjono pun datang. Nenek Mirah mencoba menceritakan perihal berita bahagia itu. Namun Kakek Sarjono menolak mentah-mentah dan sama sekali nggak mau mengakui bahwa Irawati adalah Irawan. Anak yang mereka cari-cari selama ini.

Keributan besar terjadi. Pertengkaran antara Kakek Sarjono dan Nenek Mirah tak terelakkan. Menyaksikan ini semua, Irawan sebisa mungkin mencoba melerai. Hingga akhirnya malah Irawan yang beradu mulut dengan Kakek Sarjono lantaran membela Nenek Mirah yang terseok tak sanggup meladeni keras kepalanya Kakek Sarjono.

Saking tak tahannya, Nenek Mirah memilih untuk mengambil jalan pintas: 

menusuk diri.


Baik Kakek Sarjono maupun Irawan berusaha menahan. Namun Nenek Mirah tetap nekat. Hingga sebilah pisau itu pun langsung di arahkan ke perutnya. Melihat Nenek Mirah tersungkur, Kakek Sarjono dan Irawan hanya bisa menangis sedu menyesali keributan yang mereka ciptakan. Sesal pun timbul karena tak memperhatikan keinginan Nenek Mirah yang sebetulnya hanya ingin keluarga mereka utuh kembali.


Saat air mata memuncak, Nenek Mirah bangun, dan mengaku kalau ia hanya berpura-pura menusuk diri. Kakek Sarjono dan Irawan merasa jengkel-jengkel bahagia dikerjain Nenek Mirah. Dalam suasana itu pula tawa bahagia penuh haru tercipta. Semua saling berpelukan atas utuhnya keluarga mereka meski dalam kondisi finansial yang berbeda. Tapi dari sini mereka belajar, bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan. Seluruh harta yang mereka miliki dulu tak akan sanggup untuk membayar kebahagiaan mereka sekarang.


TAMAT!


Jadi gitu cerita pementasan drama 'LUH' yang ceritanya ditulis oleh Pulung L. A. Kalau ingat nama Pulung jadi keinget sama finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 3 deh. Tapi sekarang kita lagi bahas teater. Hahaha...

Sebagai penutup, saya ucapkan selamat kepada Teater Lilin Yogyakarta yang telah mempersembahkan sebuah mahakarya pementasan drama. Semangat berkarya! Ditunggu karya-karya berikutnya. Dan inilah mereka semua:

0 komentar:

Posting Komentar