Alasan Kenapa Harus Menulis Tepat Sasaran



Seperti gambar diatas, tanggal 29 Agustus lalu Kopdar Fiksi kembali ngadain acara di Milk Bar. Tiap pertemuan, Kopdar Fiksi selalu bikin acara yang berbeda. Kalau kemarin tentang menulis komedi dan yang ngisi adalah Mbah @deritamahasiswa, maka sekarang tentang menulis tepat sasaran. Pengisinya Mas @benzbara_ yang notabene adalah editor Gagas Media. 

Tapi sebetulnya jawaban tentang judul diatas cuma simpel:


Question: "Kenapa harus menulis tepat sasaran?"

Answer: "Ya biar naskahmu bisa diterima penerbit yang tepat."


Namun untuk menjawab pertanyaan sederhana, biasanya nggak sesederhana itu. Ada banyak poin-poin penting yang meliputi jawaban singkat tersebut. Nah, apa aja hal-hal penting yang berkaitan dengan jawaban sederhana itu? Yuk ah, simak ulasannya: 'menulis tepat sasaran' dibawah ini. :D


Naskah kayak apa yang dicari penerbit?


Sesuai visi penerbit

Hal pertama yang harus dipenuhi penulis kalo pengen karyanya terbit ya bisa menyesuaikan dengan visi penerbit tersebut. Jadi penting buat tiap calon penulis atau penulis untuk mempelajari karakteristik masing-masing penerbit.

Karena Kopdar Fiksi ini merupakan kelas bentukan GagasMedia, maka visi yang pengen kucatut sebagai contoh dan kutempelin disini yang punya Gagas aja ya. Hehe.. 

Gagas Media memiliki visi jauh ke depan untuk mengangkat dunia buku di Indonesia sebagai sesuatu yang popular. Sesuatu yang digemari dan diminati oleh banyak orang sehingga buku sebagai sarana untuk mencerdaskan masyarakat tidak berjarak dengan masyarakat itu. Untuk mencapai tujuan ini, jembatan yang dipakai GagasMedia adalah melahirkan penulis-penulis muda yang bermutu dan mampu menulis karya yang digemari banyak orang. Sasaran GagasMedia adalah generasi muda yang selama ini masih berjarak dengan buku.

Untuk visi, kamu bisa ngecek website maupun twitter masing-masing penerbit. Karna tiap penerbit pasti punya visi yang beda-beda. Dengan itu, harapannya kamu nggak salah masukin naskah ke penerbit. Nggak mungkin kan, kamu masukin naskah soal tumbuh-tumbuhan di penerbit yang notabene sering nerbitin novel-novel remaja? Kecuali kalo novel remajanya tentang tumbuhan sih.

Memenuhi ketentuan teknis

Rata-rata ketentuan teknis tiap penerbit kayaknya hampir sama deh standarnya kalau ngirim naskah begini: Panjang naskah 75-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12. Jadi kalo pengen diterima ya harus sama. Jangan ngeyel pake font lain yang nggak ditentukan penerbit. Apalagi pake font yang beginian:

日本語を勉強しましょう

Diketik rapi

Ini mungkin sebelas - dua belas lah sama yang diatas. Cuma mungkin hal lain yang perlu ditambahkan adalah tentang penggunaan kata. Pastikan itu bahasa yang baku, bukan bahasa slang. Gitu.

Bagus

Penilaian bagus ini bisa dilihat dari berbagai aspek. Seperti: 

Ide menarik

Ini bisa dilihat dari premis novel kamu. Iya, kamu.

Cara bertutur

Ini berhubungan dengan gaya bahasa.

Plot seru

Ini adalah semaca outline. Urut-urutan cerita kamu dari awal sampai akhir. Inti dari plot seru, selain plotnya yang emang seru, juga ditambah dengan logika dalam cerita yang emang jelas. Roy Saputra (penulis buku Lontang-Lantung) pernah bilang:

“Karena logika cerita adalah hutang penulis kepada pembaca.”

Jadi karena hutang ya harus dibayar. Sebisa mungkin tulisan dalam outline yang kamu cecer-cecer dalam bentuk bab per bab itu betul-betul merupakan representasi dari plot tadi.

Tokoh kuat

Ini penting loh. Karena adanya tokoh yang kuat bisa bikin pembaca seolah-olah masuk dan menjadi pelaku atau aktor utama yang kamu pasang dalam novel tersebut.


Bentar ya, pijit-pijit jari dulu.

Oke, lanjut!


Biar naskah bagus, gimana?

Bawa ke salon dulu mungkin. Dicukur. Biar rapi.

Siapapun, kalo kepengen skilnya meningkat, nggak ada kunci apapun selain latihan. Bidang apapun deh. Jadi biar naskah kamu bagus ya sering-seringlah menulis. Kalo target kamu pengen nulis novel, apalagi itu adalah pengalaman kamu pertama kali menulis novel, cobalah untuk terlebih dahulu sering-sering nulis cerpen. Buat pemanasan. Biar ada semangat dan ada feedback langsung, baiknya sih lewat blog. Lalu mention penulis-penulis yang udah berpengalaman untuk minta pendapat. Semoga aja mereka nggak sibuk. Semoga!

Dan yang perlu jadi tambahan lagi adalah bacaan. Apa yang kita tuangkan dalam tulisan, semuanya berasal dari apa-apa yang pernah kita baca. Jadi selain latihan secara konsisten, tambah juga bacaan. Biar pikirannya kaya. Sehingga yang keluar dari otak untuk dituliskan pun banyak.


Hal lain, ada nggak?

Ada. 

Jadi selain hal-hal teknis diatas tadi, ternyata penerbit juga memperhatikan faktor-faktor lain yang kayaknya nggak relevan sama kita loh. Nggak relevan, tapi berdampak di masa depan. Contoh-contohnya:

Sikap

Sekarang kan eranya teknologi. Hanya butuh beberapa menit saja untuk tau kamu siapa? Lagi dimana? Dan semalam berbuat apa?

Karna selain memeriksa naskahmu, penerbit juga bakal liat twittermu, blogmu, masa lalumu bersama mantan. Pokoknya banyak lah. Nah, itu semua juga masuk pertimbangan akan diterima ato enggaknya sebuah naskah loh.

Kesabaran

Wah, ini jelas penting banget. Karna editor itu kerjaannya banyak. Nggak cuma mikirin naskahmu doang. Dia juga perlu untuk ngecek naskah lain, kadang nulis bukunya sendiri juga, dan stalking timelinenya mantan. Jadi kamu harus sabar. Jangan sebentar-sebentar mention, ngirim email ato telpon nanya:

"Mas/Mbak, perkembangan naskah saya gimana?"

Padahal, kamu belum ngirim.

Ya jelas kasian editornya dong. Makannya sebelum nelpon, pastikan dulu kalo kamu udah ngirim naskah. Emm, tapi inti sebenernya ya emang harus 'sabar'. Kalo naskah udah dimasukin, lalu 3 bulan belum ada kabar, nah, baru tuh. Silakan mention, ngirim email ato telpon nanyain.

Etika kirim naskah

Ngirim naskah ini juga ada etikanya loh. Jadi kalo kamu udah ngirim ke satu penerbit, ya jangan ngirim ke penerbit lain. Tunggu dulu sampe ada jawaban pasti tentang lolos ato enggaknya naskah kamu dari penerbit tersebut. Karna banyak kasus, penulis ngirim naskahnya ke banyak penerbit. Jadi ketika pihak penerbit nelpon kalo naskahnya diterima, terus dia jawab kalo udah diterima oleh penerbit lain. Hancurlah sudah. Nama kamu bakal di black list sama penerbit tersebut. Tuh kan, serem.


Udah ya, segitu dulu. Semoga bermanfaat. :)

2 komentar:

  1. Kalau ada di Bandung kabarin ya :) ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba follow @kopdarfiksi Mbak. Akan selalu ada update info disana. :D

      Hapus