Pentingnya Debat Capres


Indonesia bentar lagi bakal punya Presiden baru. Sebelom pilpres, Capres-Cawapres harus melakoni serangkaian tes. Mulai dari tes kesehatan, tes psikologi dan tes... tes... tes... 1, 2, 3 dicoba. Iya, yang terakhir itu nyobain mic sebelom ngejawab pertanyaan dari moderator pas Debat.

Debat Capres menjadi sangat penting, karna lewat hal ini, mereka (Capres-Cawapres) bisa memaparkan visi dan misi untuk Indonesia kedepan. Juga, tujuan serta harapan mereka untuk Negara, dan gimana caranya mereka meraih apa yang mereka rencanakan melalui program-programnya.

Seorang anggota KPU - sebut saja Sahruni - bilang, kalo dana yang digelontorkan untuk sekali debat, mencapai 200 juta rupiah. Karna debat Capres bakal berlangsung 5 kali, jadinya semilyar deh. Uang sebanyak itu, kalo dibelanjakan batagor, bisa dipake buat mandi orang se-benua. Eh, tapi daripada beli batagor, mending untuk buka usaha. Lalu kalo udah untung, keuntungannya, baru buat beli batagor.

Setauku sih duit segitu pasti buat biaya akomodasi, konsumsi, honor moderator, undangan beserta bingkisannya buat mereka. Oiya satu lagi, ongkos parkir kendaraan di hotel. Nggak enak kan pasti, misal pas Pak Prabowo ato Pak Jokowi mau masuk ke mobil, tiba-tiba dicolek tukang parkir lalu bilang:

"Parkirnya Pak, lima ribu."

Sebegitu pentingnya Debat Capres, sampe-sampe KPU rela merogoh kocek yang nggak sedikit. Karna pasti, manfaat yang didapat jauh lebih banyak daripada biaya yang udah mereka keluarkan. Karna dari Debat Capres, rakyat bisa tau seperti apa pemimpinnya, apa aja program kerjanya, strateginya dan gimana mereka menghadapi masalah lalu menyelesaikannya.

Kayaknya sih biaya paling mahal ada di penyewaan hotel deh. Bayangin aja, hampir tiap kali debat, selalu di hotel keren, kan? Menurutku, demi menghemat keuangan Negara, daripada debat di hotel, alangkah baiknya para Capres ngadain kopdar aja. Lalu daripada debat, mending duduk bareng dengan kepala dingin, dan masalahnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Untuk tempat, bisa ketemuan di angkringan mana gitu. Lebih irit. Konsumsi yang mungkin berpotensi jadi pembengkakan dana, bisa diminimalisir. Karna kalo di angkringan, paling menu buat para tamu dan peserta debat cuma nasi kucing dan es teh.


Sampe hari ini, udah 3 kali debat Capres. Yang pertama, temanya: "Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan Bersih dan Kepastian Hukum." Tuh, nggak cuma kamu yang butuh kepastian. Hukum juga butuh. Oke, lalu kedua, temanya: "Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial." dan yang ketiga: "Politik Internasional dan Ketahanan Nasional."

Menurutku debat pertama, yang paling keren adalah Jokowi. Pada debat pertama, Jokowi keliatan lebih santai dan tenang. Mungkin ini karna pengalaman debat sama Ahok menuju DKI 1 kemaren masih membekas. Ngejawab pertanyaan dari Prabowo pun Jokowi terlihat tegas dan lugas. Lalu untuk debat kedua, menurutku yang paling keren adalah Prabowo. Jokowi disini keliatan plintat-plintut. Prabowo, menampakkan kesan bersahabat waktu bilang kalo dia setuju dengan pendapat Jokowi tentang ekonomi industri kreatif. Kemudian debat ketiga, yang keren, menurutku, moderatornya. Iya, Pak Hikmahanto Juwana keren kok semalem. Meski format debatnya mirip putaran kedua, tapi yang ketiga ini lebih berkembang ketimbang debat pertama dan kedua. Paling nggak, moderator nggak cuman jadi pemandu tepuk tangan lah.

Dalam debat semalem, juga dibahas tentang WTO. Untung deh, untung aja, nggak ada Capres yang nanya gini:

"WTO itu singkatannya apa ya?"

Kalo semisal ada, saranku sih untuk Bapak peserta debat, jawab aja:

"Tanya atasan saya!"

Buat yang belom tau, WTO itu singkatannya World Trade Organization (Organisasi Perdagangan Dunia). Awalnya, aku ngira kalo ini adalah organisasi perdagangan tingkat dunia, dimana para anggotanya memiliki bisnis menjual saham, properti dan batagor. Ternyata aku nggak sepenuhnya bener. Tapi yang lebih bener, menurut definisi kementrian luar negeri gini:


World Trade Organization (WTO) merupakan satu-satunya organisasi internasional yang mengatur perdagangan internasional. Terbentuk sejak tahun 1995, WTO berjalan berdasarkan serangkaian perjanjian yang dinegosiasikan dan disepakati oleh sejumlah besar negara di dunia dan diratifikasi melalui parlemen. Tujuan dari perjanjian-perjanjian WTO adalah untuk membantu produsen barang dan jasa, eksportir dan importir dalam melakukan kegiatannya.

Duh, malah jadi ngomongin asmara. Oke, sampe mana tadi? Oiya, debat semalem.

Nah, masing-masing Capres juga semalem diberi hak ngasih pertanyaan buat kompetitornya. Ada satu pertanyaan dimana Pak Prabowo nanya ke Pak Jokowi gini:

"Apa yang akan Bapak Jokowi lakukan, jika ada Negara lain yang menduduki provinsi Negara kita?"

Kalo aku jadi Pak Jokowi, pasti langsung kujawab:

"Ya nggak apa-apa. Kan, cuma duduk?"

Harusnya, Pak Prabowo juga nyinggung soal Ekonomi. Misal, nanya ke Pak Jokowi:

"Pak Jokowi, jika Ibu membeli kue seharga Rp5.500,00, sayuran seharga Rp3.275,00, dan buah jeruk seharga Rp7.850,00. Berapakah kira-kira uang yang harus dibelanjakan Ayah?"

Atau jika pembahasannya menyangkut soal agama, mungkin Pak Jokowi juga bisa melontarkan pertanyaan untuk Pak Prabowo. Contoh:

"Pak Prabowo, Jika ada nun mati bertemu 'ain, apakah hukum bacaannya?"

Dan dalam menjawab pertanyaan diatas, Pak Prabowo hanya perlu untuk fokus menjawab apa hukum bacaannya. Bukan malah bertanya:

"Nun mati dan 'ain ketemuan dimana Pak?"

Capres pun, jika merasa kompetitornya salah jawab, dilarang ngediemin sambil senyum. Itu sama aja dengan membiarkan kompetitornya berjalan ke arah yang salah. Jadi jika ada Capres yang sedang menjawab, Capres yang bertanya berhak teriak:

"Tidak... Tidak... Tidak... Bisa Jadi... Bisa Jadi... Bisa Jadi... Iya... Iya... Iya..."

Teriakan hanya boleh berhenti kalo Capres yang jatah jawab pertanyaan, udah ngasih jawaban bener. Ini dimaksudkan agar rakyat menerima argumen yang benar, valid dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Sebagai rakyat jelata yang bahagia, harapanku sih debat selanjutnya makin keren dan makin yahud. Udah keliatan lah dari debat pertama, ada perkembangan kualitas dari putaran demi putaran. Untuk para calon pemilih, saranku, kumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang pasangan Capres-Cawapres sebelom milih. Biar tanggal 9 Juli mendatang bisa nyoblos dengan hati yang mantap.

Jika melihat nasehat Surat Al-Ma'idah ayat 8, yang artinya:

"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Maka kita dianjurkan untuk milih pemimpin yang 'berlaku adil'. Di jaman yang begitu modern ini, tentu tantangan yang diperlukan lebih luas. Selain adil, tentunya juga yang cerdas, jujur, amanah dan bersih dari korupsi.

Nggak perlu musuhan, nggak perlu gontok-gontokan. Mari kita nikmati pesta demokrasi ini. Lagian, ngapain juga saling cela? Menurutku, program-program Pak Prabowo dan Pak Jokowi hampir sama kok. Kan, Pak Prabowo dalam 2 putaran debat ini juga sering bilang:

"Kita sependapat, Pak Jokowi."

Tuh, kan, hampir sama. :)

0 komentar:

Posting Komentar