"INI HARI TERAKHIR!!! AYO KE ARTJOG FAIR!!!"



“INI HARI TERAKHIR!!! AYO KE ARTJOG FAIR!!!”

Itu isi BBM Bondan semalem waktu ngajakin ke Artjog Fair. Aku ngebacanya sambil lari-lari ke Masjid di daerah Pogung, Jogja. Shalat Maghrib. Sebenernya, abis pulang kerja emang aku niatnya ke Pogung doang, ada urusan. Mendadak jadi nambah agenda buat ke Artjog. Padahal sekujur badanku capek parah abis kerja seharian.

“Gapapa deh, ini setaun sekali. Hari terakhir pula.”  Pikirku semalem.

Sebelom ke Artjog, aku mampir makan dulu. Karna emang seharian belom makan, dan kondisi perut sedang dalam taraf lapar selapar-laparnya lapar.

"Pernah makan ayam geprek?"  Tanya Bondan.

"Udah. Dulu. Baru sekali."  Jawabku.

"Di depan sini ada warung ayam geprek. Kalo pengen makan pedes, kamu bisa pilih pedes yang level berapa."  Jelas Bondan, bak sales tambal ban.

Aku pun langsung ayo-ayo aja. Buatku, yang penting perut terisi. Mau makan krupuk, makan tempe sampe makan temen pun aku mau. Pokoknya, yang penting bisa bikin kenyang.

"Pilih mana Mas: Nggak pedes? Pedes? Ato pedes banget?"  Tanya Mas-Mas pelayan warung makan.

Jujur, aku orang yang kurang berani makan pedes. Agak suka pedes, tapi nggak demen banget. Makannya pas dikasih 3 pilihan itu, satu-satunya kalimat yang berputar di otak adalah:

"Yang pedesnya sedang-sedang saja, ada nggak Mas?"  Pengennya sih nanya gitu. Tapi di menu, adanya cuma 3 pilihan itu.

"Pedes, Mas."  Jawabku.

Nggak lama kemudian, ayam geprek yang kugadang-gadang pun datang:


Sepiring nasi featuring  ayam geprek yang rona pedesnya bahkan udah meruap-ruap di tenggorokan sebelom ditelen

GILAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!!!!!!
PEDESNYA NAMPOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLLL!!!

Kata dokter, abis makan pedes, baiknya minum aer anget. Biar pembuluh darahnya melebar. Lalu rasa pedesnya cepet ilang. Penjelasannya gini:


"Saat kita minum air hangat setelah makan pedas, terjadi pelebaran pembuluh darah di mukosa. Dampaknya, suplai oksigen dan makanan dari pembuluh darah ke sel mukosa kembali lancar. Pelepasan mediator inflamasi dari sel mukosa juga berkurang,”


Beda lagi kalo sama yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah,yang bersumber dari `Aisyah r.a. Gini:


“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.”


Yaudah deh, akhirnya aku milih es jeruk manis:


Biarlah, apapun yang terjadi. Mau cepet ato lama pedesnya ilang, yang penting ada minuman :)

Setelah perut siap buat diajak kerjasama, kami langsung to the point ke tujuan utama. Rintangan dan badai yang menghadang mampu kami lewati, dan akhirnya nyampe juga di ‘Taman Budaya Yogyakarta’. Baru aja mendarat, kami udah disambut beginian:


Ini ceritanya Kabinet pemerintahan kita lagi baris


Muka-muka menteri kita serem juga yaa


Ajedah, ini malah ada menteri yang lagi ngaji

Boneka-boneka itu dibikin dari karung goni, yang entah didalemnya di isi apa. Jumlah mereka cukup banyak. Pesan dari boneka-boneka ini ngegambarin kabinet di pemerintahan Indonesia yang cerdas, tapi nggak membumi.

Boneka-boneka itu letaknya didepan gedung. Jadi buat yang isi kantongnya miris pun bisa menikmati hasil karya satir para seniman, meski didepan doang. Aku? Beli tiket dong. Meski ditombokin 1000 perak sama Bondan. Ini tiketnya mau selfie dulu.


Foto selfie tiket Artjog

Pas masuk, liat hasil karya pertama, serem juga rupanya. Semacam hijabers. Coba liat gambar dibawah dengan seksama. Antara yang keliatan, sama yang di layar, gerakannya beda, kan? Nggak kompak ah.



Di tembok-tembok juga ditempel gambar-gambar semacam mural. Gambar yang mungkin sering kita liat di tembok pinggir jalan. Nggak tau deh ya ini gambar karakter kartun apa. Aku sih foto aja:


Beuh, kurang menggoda apalagi cobak senyumnya

Didalem banyak karya bagus. Semuanya keren. Tapi yang kupoto cuman beberapa. Karna kalo poto pake kamera hpku, syaratnya: lighting harus cerah. Kalo enggak, hasilnya, parah. Makannya yang kupoto yang lightingnya bagus aja. Salah satunya ini:


Koki London rambutnya cihuy abis yaa...

Dari si empunya, karya di atas dikasih deskripsi begini:


“Ide ini muncul ketika saya makan di sebuah restoran ternama di London. Sang koki terlihat sangat bangga dengan pekerjaannya, yang membuat saya teringat nasehat orang tua-tua dulu bahwa kalau mau merantau salah satu syaratnya adalah harus pandai memasak. Memasak hanyalah sebuah metafora tentang perilaku karena erat hubungannya dengan cita rasa. Kadang-kadang yang enak bagi kita belum tentu enak untuk orang lain, jadi kita diharapkan untuk mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain karena itulah esensi “memasak”.


Selanjutnya, masih ada lagi. Entah apa ini:


Ini mungkin lagi semacam kuda-kudaan gitu

Yang jelas, sama si pembuat karyanya juga dikasih deskripsi.

Mereka masih muda dan mereka anak-anak
Dan percaya apa yang mereka lihat
Untuk melakukan apa yang mereka telah diberitahu
Dan mereka pergi dengan mata terbuka
Beberapa berusia delapan atau sembilan atau sepuluh tahun
Dan mereka mati seperti lalat
Dan tidak ada yang tahu, siapa mereka
Mereka lebih kecil dari senjata yang mereka main-mainkan
Mereka buta dan tidak bisa melawan, mereka ingin perang
(Anak-anak di medan perang, tolong jangan pergi)

Beranjak ke hasil karya berikutnya. Ada yang berbentuk foto. Dan menurutku, pesan yang disampein dapet banget. Cetar. Nih:


Keren deh, kalo bule jadi babu. Kita bisa punya TKI (Tenaga Kerja Irlandia)


Pesan yang disampaikan:

Mentalitas bangsa kita masih merupakan mentalitas bangsa yang terjajah. Hampir 7 dasawarsa merdeka dan Indonesia masih saja merujuk dan bergantung pada bangsa lain bahkan untuk mengelola diri kita sendiri. Kenyataan ini berbanding terbalik terhadap berbagai slogan kebangsaan yang selalu digadang-gadang para peserta pemilu yang baru saja berlalu. Sebuah pemaparan yang terlalu naif dan klise.

Our Glorious Days mencoba mengembalikan harkat dan martabat bangsa dan menghadirkannya sebagai ‘bukti baru’ bahwasanya sejak dahulu kala kita adalah bangsa yang kuat dan berdaulat serta mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri.


Cakep abis nih kursi buat kayang


Kursi-kursi bos. Game Mario Bos


Hayo, ada yang bisa ngartiin 2 gambar diatas? Terka-terka aja dulu.

Gimana?

Udah?

Udah nemu deskripsinya?

Nah, kalo kamu udah punya deskripsi sendiri tentang 2 foto diatas, coba deh, cocokin sama deskripsi dari sang pembuat karyanya:

Kursi memang beruntung dibandingkan dengan jenis mebel lain karena ia memiliki makna simbolis yang paling bergengsi. Dalam dunia politik, orang saling berebut kursi yang diartikan sebagai kekuasaan, yang tidak lepas dari sebuah jabatan.

Gimana? Sama nggak? Aku juga sebelomnya nerka-nerka loh. Kalo iya, berarti sama. Iya, tebakanmu sama kayak yang bikin karya. Aku malah nerkanya:

“Anda ingin memiliki kursi plastik? Pastikan itu produk tupperware. Karena jika pecah, diganti. Jika rusak, diganti. Dan jika hilang, lapor aja dulu ke kantor Polisi. Siapa tau sama Pak Polisinya nggak bakal diganti.”

Oke istirahat bentar. Foto dulu ah:


Ini masih di Artjog kok, bukan di sarkem

View background foto diatas berasa kayak pernak-pernik di video klip-video klip musik gitu ya. Penuh hiasan, gemerlap dan remang-remang.

Sebage orang yang doyan baca buku, wajib dong, foto bareng buku segede gini:


Ini buku apa kasur sih? Segede gini


Ada filosofinya nih: "Ekspresi berat, bukanlah berat bukunya. Melainkan, isinya." Keren nggak?


Deskripsi:

“Karya ini merupakan bentuk pendekatan terhadap objek-objek lain di sekitar kita, dengan tujuan menggali nilai dan pesan dibalik suatu objek maupun narasi. Melalui karya ini kita diajak untuk meraba, mendengar dan membaca serta merenungkan hal-hal yang terjadi agar kita bisa lebih menghargai dan mawas diri.”

Kalian udah pernah liat mobil Formula 1 secara langsung?
Kalo belom, bisa lah, dateng ke rumahku. Kebetulan di garasi ada tuh. Gambarnya!

Tapi kalo mobil Formula 1 yang bentuk kayu, pernah liat? Nih:


Balapan yok, kamu naek mobil F1, aku naek mobil gilingan gabah


Deskripsi:

“Formula 1 adalah sebuah ironi besar dari budaya global abad ini yang menggaungkan kampanye “go green”. Pada lomba ini kita dapat melihat persaingan bisnis, strategi, teknologi dan prestise yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar dunia. Kharisma yang dihadirkan Formula 1 melahirkan sebuah mitos dengan upacara-upacara magis yang terasa dekat dengan kita, menciptakan totem modern yang menginspirasi karya ini, yang juga merupakan sebuah permainan dari limbah kayu yang menciptakan interpretasi baru tentang mitos, ruang imajinasi serta ruang persepsi.”

Capek nggak bacanya?
Aku sih, yang nulis, capek. Makannya pengen poto-poto dulu. Yuhuuu...



Ini ekspresinya udah 11-12 lah sama pemenang piala oscar de la hoya


Semoga 6 Juni besok bisa maen lagi

Alhamdulillah, nggak sia-sia. Meski badan capek dan mata udah pengen merem, tapi puas. Ini hari terakhir, dan aku bisa ngedapetin momennya. Lalu cerita ke kalian. Biar yang nggak sempet dateng ke Artjog bisa ngerasain atmosfernya disana. Gitu.

Thanks, Bondan, udah ngajakin ke Artjog. Tapi tunggu dulu, di tiket ini ada tulisannya apasih?


Itu kok tanggalnya ......

Itu kayaknya, terakhir Artjog tanggal 22 deh, bukan hari ini.

Aih, gebleee.............eek.

BONDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.....AAAAANNNN!!!
*berubah jadi Hulk*


4 komentar:

  1. Wis teko moco iki wae rasah adoh-adoh nang Jogja.. :))

    BalasHapus
  2. merasa gagal jadi mahasiswa seni rupa gara-gara belom main ke sini :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... sebagai mahasiswa seni rupa, kamu 'murtad' Coy :)))

      Hapus