Belajar Nulis Cerita Lewat 3 Kata



Hari Jum’at 30 Mei lalu – tepat saat aku ulang tahun – aku sekeluarga pergi ke rumah kakak iparku di Jember. Jarak dari Magelang ke Jember yang ditempuh kurang lebih 16 jam itu pasti bakal hambar kalo di mobil nggak ngapa-ngapain. Untung ada buku A.S. Laksana – Creative Writing yang setia nemenin selama perjalanan.

Buku itu aku pinjem dari amnuhu, temen di komunitas Stand Up Comedy Magelang. Baru baca-baca di lembar pertama aja udah berasa ada aura kalo buku ini keren. Awalnya malah aku ngira kalo ini buku karya orang luar negri yang diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia. Ternyata buku ini ditulis sama orang Indonesia. Aku nebak gitu karna ngeliat dari bahasanya sih, yang rada-rada berbau gaya bahasa orang luar negeri.

Aku selalu terpukau dengan semua yang ditulis A.S. Laksana, bahkan dari awal bab buku ini. Ada pengalaman yang panjang dan kecintaan yang tinggi darinya terhadap bidang kepenulisan, sehingga buku keren ini bisa nongol di toko buku.

Bab dalam buku ini yang paling bikin penasaran dan pengen segera ku praktekin adalah teknik di halaman 25 yang judulnya: “Strategi Tiga Kata.” Jadi intinya, ini dipake buat mancing ide kita yang masih nongkrong di dalam tempurung kepala biar mau keluar. Teknik ini juga pernah dibahas di postingan shitlicious.


Kenapa 3 kata bisa bikin otak kita nemuin cerita? Di buku itu A. S. Laksana ngejelasin bahwa otak kita itu ajaib. Punya perangkat yang berkemampuan berasosiasi. Bisa ngerangkai hubungan dari hal-hal yang kayaknya nggak berkaitan, tapi tetep aja bisa dikait-kaitin. Itulah otak kita. Misal kata “peci” sama “nasi”. Itu nggak berkaitan. Tapi otak kita pasti bisa nyambung-nyambungin jadi gini: “Kalo pengen makan ‘nasi’ tapi nggak ada piring, jangan khawatir. Masih bisa makek ‘peci’ sebagai pengganti piring.” Tuh, kan, jadi. Makannya di postingan ini aku pengen ngasah kemampuan nulisku lewat 3 kata.

Tiga kata ini kupilih secara random dari tiga bidang yang berbeda. Ngasal aja gitu. Kata pertama yang kupilih adalah “Al-Qur’an”, lalu kedua “Stand Up Comedy”, dan yang ketiga, “Buku.” Nggak penting, kata mana dulu yang mau dipakek. Intinya, 3 kata itu harus ada dalam cerita. Oya, dalam bukunya, A. S. Laksana juga nyaranin untuk makek sudut pandang orang ketiga (dia, ia) dan bukan sudut pandang orang pertama (aku). Katanya sih ini buat ngehindarin tulisan kita jadi gerundelan ato jadi semacam pidato pernyataan sikap. Saranku, baiknya untuk eksplorasi pertama kita ngikut apa yang disaranin A. S. Laksana. Selanjutnya, monggo lah kalo pengen pake sudut pandang orang pertama. Tapi disini, aku ngikutin penulis, pakek sudut pandang ketiga. Dan inilah hasilnya:


1. Cerita Pertama – Dengan Awalan “Al-Qur’an”

Udah jadi semacam kebiasaan buat Aisyah, kalo tiap abis Shalat Subuh pasti baca Al-Qur’an. Kebiasaan ini telah tertanam saat Aisyah masih duduk di bangku sekolah dasar. Maka dari itu, tiap kali pergi kemanapun, Aisyah nggak pernah lupa bertilawah meski didera kesibukan kuliah yang tiada tara. Di sela-sela kesibukannya tersebut, dia tak pernah lupa akan nasehat Ayahnya, bahwa: “Hidup itu haruslah seimbang. Adakalanya, di tengah-tengah kesibukan beraktivitas kita juga membutuhkan hiburan.” Setiap kali suntuk, bosan dan capek, pelarian Aisyah adalah nonton video Stand Up Comedy di Youtube. Hampir semua video-video dari komedi yang lagi ngetren di Indonesia itu sudah ia lahap semua. Alternatif tiap kali bosan, biasanya Aisyah juga sering pergi ke perpustakaan kota. Alasan kenapa ia lebih memilih perpustakaan kota daripada perpustakaan di kecamatan, karena disana selalu ada buku-buku terbaru. Bahkan di hari launching saja, buku baru tersebut sudah berjejer rapi menghiasi rak perpustakaan.


2. Cerita Kedua – Dengan Awalan “Stand Up Comedy”

Setiap akhir tahun, Kompas TV selalu mengadakan audisi Stand Up Comedy yang diselenggarakan di beberapa kota. Pesertanya pun datang dari berbagai kalangan. Ada pengusaha, guru, mahasiswa bahkan sampai pengangguran. Kevin, anggota dari komunitas Stand Up Magelang, udah 2 tahun ini tak pernah absen mengikuti audisi. Dulu, ia pertama kali tertarik untuk jadi Comic setelah membaca buku karya Greg Dean yang berjudul: Step by Step to Stand Up Comedy. Ada cerita unik yang di alami Kevin pada audisi tahun lalu. Setiap peserta audisi yang sudah mendaftar dan menunggu panggilan, lazimnya adalah duduk di ruang tunggu audisi. Tapi tidak untuk Kevin. Tahun lalu, karena nomer audisinya terakhir, ia memutuskan untuk shalat Dhuha di Musholla. Bermunajat kepada Allah. Tak cukup sampai disitu. Selepas shalat, ia memutuskan untuk mengaji. Tanpa pikir panjang, diambillah sebuah Al-Qur’an yang sedang dalam kondisi terbuka diatas meja. Tiga detik kemudian, Kevin baru sadar, rupanya Al-Qur’an yang baru saja ia ambil tersebut, sedang dibaca orang lain.


3. Cerita Ketiga – Dengan Awalan “Buku”

Bagi Aisyah, buku adalah teman. Ungkapan ini mirip sekali dengan kata-kata Captain Tsubasa dalam film, yang selalu menganggap bahwa bola adalah teman. Sebagai wanita muslimah yang doyan baca-baca dan mengaji, pemilihan kata ‘teman’ tersebut sangatlah pas. Karena bagi Aisyah, masih ada kasta yang lebih tinggi dari teman. Yakni, sahabat. Maka dari itu, ia menambahkan satu prinsip lagi dalam hidupnya: “Al-Qur’an adalah sahabat.” Dina juga menerapkan hal ini kepada orang-orang yang sudah kenal dengannya. Ada yang diberi label ‘teman’, ada yang diberi label ‘sahabat’, dan ada yang diberi label ‘halal’. Maksud yang terakhir, halal sebagai calon imamnya kelak. Dan itu hanya ia sematkan kepada satu orang saja: Kevin. Pemuda beruntung yang ia temukan pertama kali saat nonton acara Stand Up Comedy di Balai Kartini.


Bisa kan ternyata. Hehehe...
Sebenernya, pas dalam perjalanan kemaren aku bawa buku, pulpen dan juga laptop. Pengen nyobain saat itu juga sih. Tapi apa daya, jalanan terjal bikin aku jadi susah nulis. Mau nulis, eh malah jadinya cuman coret-coretan yang nggak bisa dibaca. Pun, coret-coretannya bukan di kertas. Tapi di mukanya adekku.

Oke deh, sekian dulu postingan kali ini. Buat yang kepengen belajar nulis, cobain deh. Seru kok. Selamat mencoba. :)

2 komentar:

  1. Mas Mufid, kapan2 aku pinjamin bukunya dong haha. Udah lama ngincer itu buku tapi sampe sekarang belum kebeli eheheh :D

    BalasHapus
  2. Hahaha... siap. Ayok, kapan maen ke Magelang? :D

    BalasHapus