Abis Wisuda Mau Ngapain?



Bagi sebagian orang yang mendambakan pekerjaan layak atau pengen ngelanjutin ke jenjang pendidikan lebih tinggi, wisuda merupakan momen bahagia yang paling ditunggu-tunggu. Mendebarkan, deg-degan, gemetaran, sampe-sampe bikin hidung ingusan.

Bagi mereka yang sejak mahasiswa udah berwirausaha, hari wisuda adalah hari yang tak ubahnya seperti hari-hari lainnya. Biasa. Hambar? Nggak juga sih. Hanya saja, mereka lebih paham dan lebih punya arah, setelah semacam prosesi ‘sakral’ bernama wisuda ini berakhir, esok harinya mereka mereka mau ngapain.

Apakah mereka yang mendambakan wisuda, mungkin sejak 4 tahun lalu, 7 tahun lalu atau bahkan setengah abad lalu itu disebut nggak punya arah hidup? Belom tentu. Karena bahagia saat wisuda adalah hak, dan itu bukan indicator seseorang punya arah hidup kedepannya atau enggak. Tinggal orangnya juga. Tiap orang punya rencana masing-masing. Ada yang abis lulus pengen kerja, ada yang pengen lanjut studi, dan ada juga yang pengen dagang cireng.

Aku?
Aku termasuk golongan orang yang pas wisuda, biasa aja. Karena bagiku, ini hanyalah hal kecil, permulaan, sebelom ketemu dengan tantangan kehidupan yang sesungguhnya. Lagi pula, aku juga udah tau dan udah punya arah, abis lulus pengen ngapain. Aku bertekad pengen ngelanjutin apa yang udah aku rintis sebelom wisuda. Jadi pengangguran. Iya, serius. Kalo orang-orang jadi pengangguran abis di wisuda, aku bahkan udah jadi pengangguran sebelom di wisuda. Bayangin aja, aku pendadaran (ujian skripsi) tanggal 22 Juli 2013, dan wisuda tanggal 19 oktober 2013. Tiga bulan lamanya aku ngerintis jadi pengangguran, mulai dari pengangguran berijazah SMK, menjadi pengangguran berijazah Sarjana. Adanya jenjang karir inilah yang bikin aku bersemangat buat ngelanjutin hal ini.

Tunggu dulu… tunggu dulu… tunggu dulu…
Aku nganggur, bukan berarti aku nggak ngelakuin sesuatu. Karena selama nganggur, aku emang nggak ngelakuin apapun. Em, maksudnya, selama nganggur, nggak ada kejelasan pekerjaan layak yang bisa diandalkan ke calon mertua buat ngelamar anaknya yang masih dalam kandungan. Jadi selama nganggur ini aku cuma ikut sebuah lembaga survey yang kerjaannya nyurvey tentang pemilu legislatif 2014 besok. Pun, ini nggak ada status kontrak atopun tetap. Karena mereka cuman mempekerjakan aku pas mereka lagi butuh aja. Semacam Pria Tuna Susila. PTS. Tapi bukan Perguruan Tinggi Swasta.

Sejak tahun 2012 aku udah mulai nulis novel komedi. Sekarang? Tinggal beberapa BAB doang. Karena jujur, waktu aku mulai nulis novel komedi, barengan sama waktu aku ngerjain skripsi. Targetku, akhir Desember kelar. Dan selesai editing pertengahan Januari 2014. Baru kemudian kumasukin ke penerbit. Perkara naskahku bakal diterima ato enggak, belakangan. Yang penting nyoba dulu. Ini buku pertamaku. Sekonyong-konyong, bakal kuperjuangkan, gimanapun caranya sampe buku ini terbit.

Selain itu, akhir taun ini, tanggal 10 Desember 2013 bakal ada audisi Stand Up Comedy Indonesia Session 4 yang diadain sama Kompas TV. Harapanku – ini dari sudut pandang positif loh ya, – kalo lolos audisi, aku pengen ngejalanin masa karantina sambil nunggu jawaban penerbit dan banyak-banyak konsultasi sama editor biar buku bisa terbit. Seenggaknya, pas kompetisi berakhir, buku udah cetak. Sekali lagi, itu plan A, dari kacamata orang optimis dan berpengharapan.

Lalu kalo yang terjadi kemungkinan terburuk kayak, aku nggak lolos audisi, misalnya, yaudah, berarti satu-satunya hal yang bisa kuperjuangin tinggal buku. Entah, gimanapun caranya nanti. Meski aku udah punya beberapa penerbit incaran, nggak taulah, buku itu bakal nongol ke permukaan lewat penerbit mana. Karena sebagai manusia, aku cuma bisa berdoa, berencana dan berusaha. Masalah hasil, biar Allah aja yang ngatur. Lagian, aku juga selalu percaya sama janji-Nya di surat Ar-Ra’du ayat 11 yang artinya gini:


“Sesungguhnya, Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”


Tuh, kan. Ayat itu udah bicara banyak hal. Apapun yang terjadi, itu takdir. Meski demikian, ada hal-hal yang masih bisa kita kendalikan: doa dan usaha. Yaudah, doa aja. Lakuin aja apa yang bisa dilakuin. Biar DIA 'menggambar' hidup kita sesuai kehendak-Nya. Percayalah, 'gambar'-NYA untuk hidup kita, selalu lebih indah. :)

0 komentar:

Posting Komentar