Alasan Mengapa Pada Akhirnya (Memutuskan Untuk) Mondok di Pesantren



Sekalipun tumbuh dalam keluarga yang seluruhnya mondok di pesantren, sejak kecil, saya tidak pernah memiliki keinginan untuk mondok di pesantren.

"TIDAK MAU!!! POKOKNYA TIDAK MAU!!!" begitu jawaban saya dulu-dulu, setiap kali orangtua menyuruh (atau lebih tepatnya, memaksa) untuk mondok di pesantren. Ancaman apa pun, tidak akan mempan. Bahkan, bila semisal orangtua mengancam:

"Kalau enggak mau mondok, sekolah harus berhenti! Kalau sekolah aja mau, mondok juga harus mau!"

Pasti, kala itu, saya akan menjawab:

"Yaudah. Berhenti (sekolah) pun juga siap!"

Kalau banyak fakta mengatakan bahwa anak kedua itu keras kepala, nah, begitulah saya. Bapak saya anak kedua, Ibu saya juga anak kedua. Bapak saya keras kepala, berharap agar anak-anaknya belajar ilmu agama setinggi-tingginya, atau minimal, menjadi seperti Bapaknya. Ibu saya keras kepala, berharap agar anak-anaknya sekolah setinggi-tingginya, atau minimal, setinggi Ibunya. Saya pun juga (kala itu) keras kepala; tidak bersedia menjadi apa pun yang mereka inginkan. Hahaha.

Semakin bertambah umur, saya semakin menyibukkan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bersinggungan dengan agama; seperti nge-band (walau garapannya lagu cemen) sewaktu sekolah, membaca buku-buku yang sama sekali tak ada hubungannya dengan buku keagamaan, belajar stand up comedy saat kuliah, lebih serius menekuni dunia tulis-menulis selepas kuliah, mengadu peruntungan menjadi youtuber, menjadi publisher tipis-tipis, dan entrepreneur tanggung.

"Apakah saya masih ngaji, meski gemar menyibukkan dengan hal-hal di atas?"

Masih dooong...

"Apakah karena saya (anak) soleh?"

Tidak dooong... Karena dipaksa Bapak dooong...

"Kalau Bapak enggak maksa, apakah mau ngaji?"

Enggak dooong... Hahaha...

Tapi itu dulu, sebelum cebong dan kampret menguasai jagat media sosial.

Membaliknya hati (untuk akhirnya mau mondok) diawali pada tahun 2015, di mana hari-hari saya dihantui oleh suara-suara yang entah datang dari mana (percaya atau tidak) tetapi cukup bikin berisik kepala. Sebagian dari kalian mungkin akan menyangka saya lebay atau semacamnya, tapi, itulah yang saat itu betul-betul saya rasakan. Kurang lebih, demikian bisikan yang bikin berisik kepala itu:

"Kelak, bila di masa tua ada pertanyaan; apa hal yang paling ingin kau lakukan, tetapi tak bisa dan tak akan pernah bisa kau lakukan, padahal (dahulu) kau punya kesempatan untuk melakukannya, maka jawabannya cuma satu: mondok di pesantren."

Mulanya, saya menganggap biasa saja bisikan tersebut. "Ah, paling juga cuma kata-kata yang muncul sekelebat," pikir saya saat itu. Tak dinyana, rupanya, suara itu terus berisik dalam kepala saya, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, sampai berganti tahun.

Suatu hari, ketika bersama teman-teman masih menjalani bisnis pengelolaan website, saya (yang saat itu ditunjuk menjadi editor tulisan) pernah meng-edit tulisan yang disetor oleh karyawan yang berkantor di Malang. Saya mendapati, dalam artikel yang ia kirimkan terdapat sebuah kalimat yang cukup menohok bagi keadaan saat itu:

"Masalah, akan menjadi lebih ringan apabila dibagikan."



Bulan berikutnya, saya memperoleh kesempatan untuk mewawancarai teman sekelas ketika duduk di bangku sekolah dasar yang maju sebagai calon walikota Jogja melalui jalur independen. Hari itu, saya mengajak adik perempuan saya, Dek Himmah, memintanya untuk mendokumentasikan wawancara kami.

Sepulang dari wawancara tersebut, kami jalan-jalan di Malioboro dan Taman Pintar. Tiba-tiba, saya kepikiran kalimat yang saya peroleh ketika meng-edit artikel. Jadilah saya membagikan kalimat yang setahun belakangan berisik di kepala itu, kepada adik saya. Dengan harapan, siapa tahu akan menjadi lebih ringan. Atau bahkan, hilang sama sekali.

"Dek, Mas Mufid mau cerita. Tapi jangan bilang-bilang ke Bapak dan Ibu, ya?" begitulah saya mengawali, sebelum bercerita. Saya menduga, pesan yang demikian berisik di kepala tersebut, bila sampai terdengar oleh Bapak atau Ibu, beliau akan merasa menang, dan saya tampak kalah. Saat itu, saya masih belum rela bila itu sampai terjadi. Saya masih berharap agar Bapak dan Ibu, mengenal saya sebagai Mufid yang masih enggan mondok. Mufid yang bengal. Mufid yang bebal.

Setelah (Dek Himmah) mengangguk, saya pun menceritakannya.

***

"Apakah setelah menceritakan, pesan tersebut lantas menghentikan kegaduhannya dalam kepala?!"

Oh tidak. Justru semakin berisik! Sial! Saya telah dibohongi oleh artikel!

Semakin lama, frekuensi kalimat tersebut semakin masif menyerang kepala. NYARIS PECAH! Setidaknya, begitulah yang saya rasakan saat itu.

"Oke. Ini tidak ada pilihan lain."

Sebelum kepala saya betul-betul pecah, saya mengambil jalan terakhir, yakni menghadap ke Bapak dengan berkata:

"Pak, saya mau ngomong sesuatu, tapi harus ngobrol empat mata, dan cari tempat sepi."

Bapak menyanggupi.

Dalam kesempatan tersebut, saya menceritakan panjang lebar mengenai kalimat yang entah munculnya dari mana itu. Kalimat yang meneror kepala saya, hingga berganti tahun tersebut. Tahukah kalian, apa respons Bapak setelah saya menceritakan? Pendek saja:

"Lalu, sekarang kau ingin bagaimana?"

Saya pun menjawab:

"Sepertinya, mau tidak mau, kok saya harus mondok. Membagikan masalah ini kepada orang lain, kok kayaknya tidak berdampak apa pun. Jangan-jangan, cuma mondok, yang bisa menghentikan isi kepala yang berisik ini."

"Memangnya, kau mau mondok di mana?"

"Nah, itu, yang sampai sekarang saya belum tahu!"

***

Bulan pun berganti, dan saya belum mondok juga. Sampai-sampai, Ibu bertanya kepada saya:

"Kamu ini jadi pengin mondok enggak, sih?"

"Jadi, tapi belum tahu, ingin mondok di mana..."

Sebagai informasi, seperti yang tadi sempat saya singgung, bahwa saat itu saya sedang membangun bisnis kecil-kecilan (karena memang masih bayi) yang domisilinya dibagi dua: tiga orang bekerja di kantor yang berada di Malang (bersama karyawan) dan dua orang lagi bekerja secara remote di Jogja, yakni, saya sebagai editor (editoran) tulisan, dan teman saya, Ulul namanya, sebagai programmer. Setiap rapat yang mengharuskan untuk bersemuka, kami (saya dan Ulul) harus bertandang ke Malang. Kala itu, diadakanlah rapat, dan kami berangkat ke Malang, naik bus. Selama perjalanan, kami ngobrol panjang lebar tentang ini dan itu, sampai kemudian, tiba-tiba Ulul berkata:

"Fid, kok saya pengin mondok, ya. Tapi, mondok khusus selama puasa aja. Pondoknya sudah dapat, sih. Cuma masalahnya, saya malu, kalau sendiri. Saya butuh teman. Kamu bisa bantu carikan saya teman yang mau diajak mondok selama puasa? Soal biaya selama mondok, nanti saya yang bakal tanggung deh!"

Saat itu, saya langsung membatin:

"Apakah ini, jawaban dari kalimat yang setahun belakangan berisik di kepala?"

Setelah diam dan berpikir sejenak, saya melemparkan pertanyaan kepada Ulul:

"Lul, kalau saya (yang nemenin kamu mondok) aja, gimana?"

"Serius, Fid?" tanyanya agak kaget.

"Iya, serius!"

Dia tertawa (seolah tidak menyangka, saya bakal menawarkan diri) dan mengucap alhamdulillah di dalam bus, lalu berjanji bahwa sepulang dari Malang, akan menunjukkan informasi pondok yang membuka pendaftaran bagi santri yang cuma ingin bermukim selama ramadan. Kemudian, Ulul menyuruh saya untuk mengurus pendaftaran.



Setelah mendaftar dan sebelum mondok ramadan dimulai, saya masih memperlihatkan watak Mufid masa kecil yang belum mau kalah terhadap orangtua, yakni Mufid yang seolah-olah seperti belum mau mondok di pesantren. Kepada beliau, saya berkata:

"Ini, saya cuma mondok selama ramadan saja. Kalau tidak betah, ya sudah," kata saya dengan harapan semoga tidak betah. Orangtua saya diam, lalu saya melanjutkan, "Tapi kalau betah, yah, mungkin saja bisa lanjut."

Jadilah saya mencicipi pengalaman baru menjadi santri (betulan) pada bulan ramadan tahun 2016, dalam Program Kegiatan Ramadan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Munawwir kompleks Nurussalam, Krapyak, Yogyakarta.

***

Ngomong-ngomong, saat menuliskan ini, saya terhitung sudah dua tahun menjadi santri Krapyak. Ini menandakan bahwa saya kalah terhadap kedua orangtua saya.

Hari-hari selama masa-masa awal berada di pondok, adalah hari-hari di mana saya betul-betul merasakan bahwa bisikan-bisikan berisik yang setahun mengendap dalam kepala itu, lambat laun semakin melepaskan dirinya. Sampai-sampai, ketika masa-masa awal saya merasakan tanda-tanda bahwa sepertinya saya akan betah di pondok, saya pernah mengumpat (tidak kepada siapa pun) dengan bahagia:

"Jancuk! Kenapa jadi betah begini?! Kalau begini kan, jadi pengin lanjut mondok! Hahaha. Ini pasti gara-gara doa orangtua. Hahahaha."

Meskipun ini sebuah kekalahan, bagi saya, ini merupakan kekalahan menyenangkan yang pada akhirnya saya syukuri betul-betul. Karena bagaimanapun, saya kemudian percaya, bahwa bila hari-hari ini tidak mencicipi mondok di pesantren, kelak pasti saya akan menjadi orangtua dengan penuh gerutu penyesalan. Begitu menyedihkan, memang, menjadi muda yang tidak sungguh-sungguh belajar ilmu agama, lalu ketika tua dan haus panggung agar dianggap 'agamis' oleh lingkungan sekitar, akhirnya mengambil jalan pintas dengan; membagikan renungan-renungan, atau hadits-hadits, atau kisah-kisah islami di grup-grup whatsapp dan berbagai platform media sosial lainnya tanpa melacak kebenaran informasi yang dibagikan.

Terima kasih, Buk, Pak, atas doa-doa yang tak pernah berhenti dirapalkan itu, akhirnya anakmu bisa sampai ke titik hidup ini. Doakan anakmu ini, semoga sanggup menggunakan waktu yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya, sesungguh-sungguhnya.

#LPLKJogja: Iqbal Kutul dan Sarkasmenya


Sengaja bikin tulisan ini ke dalam empat postingan, bukan karena pengin mengadopsi teknik macam film yang sukanya bikin part-part gitu, yang demi mendongkrak marketing. Tapi karena khawatir kalau cuma dibikin satu postingan (yang mencakup empat comic) doang bakal terlalu panjang. Akhirnya yang mau baca capek duluan sebelum kelar baca, dan memilih close karena kena distraksi notifikasi atau lainnya. Toh kalau pun semisal memang mau dibikin part-part gitu, enggak bakal ngangkat juga, sekalipun sudah mencatut nama Adriano Qalbi. Jadi, ini sengaja dibikin empat bagian, biar setiap postingan bisa menggambarkan detail pertunjukan setiap comic.

Oke, mari kita lanjutkan bagian ini dengan mengulas penampilan komika kedua: Iqbal Baiquni atau yang lebih dikenal dengan nama Iqbal Kutul.

Pada hari Kamis tanggal 29 September 2016 hingga beberapa hari setelahnya, timeline twitter saya ramai orang-orang memberikan pujian untuk penampilan Iqbal Kutul di "Wang Sinawang Stand Up Comedy Show" yang berlangsung di IFI-LIP Sagan Yogyakarta. Saya berasumsi bahwa ia menjadi player of the game pada pertunjukan malam itu. Setelahnya, saya langsung mengikuti akun twitternya, berharap bisa memperoleh update informasi terkait penampilannya pada event lain. Kesempatan itu akhirnya saya peroleh di Stand Up Gunung pada Sabtu 29 Juli 2017 silam. Dan di “Lo Pikir Lo Keren” (selanjutnya akan disebut LPLK) Jogja ini, adalah kali kedua saya menyaksikan penampilan Iqbal.

Setelah dua kali menonton Iqbal, saya jadi sadar bahwa setiap menyaksikannya di atas panggung, saya kerap deg-degan dan bergumam:

“Duh, ini orang mau ngomong apa ya? Kayak meragukan gini!”

Tapi sudah dua kali pula keraguan saya dipatahkan oleh bit-bit Iqbal yang memang ketajamannya jauh melampaui kelakuannya di atas panggung yang suka sambil garuk-garuk rambut kepala yang saya yakin ia sedang tidak gatal-gatal amat. Lalu ditambah arah pandangan matanya yang seperti tidak benar-benar menatap penonton. Juga, tangan kirinya yang lebih sering masuk ke kantong ketimbang meliuk-liuk di udara, membantu menjelaskan apa yang ia ucapkan. Tapi kemudian saya kembali mengingatkan kepada diri sendiri bahwa ini pertunjukan stand up comedy, bukan workshop public speaking. Sehingga, fokus harus saya kembalikan untuk menyimak sabda-sabda Iqbal.


Senada dengan penampilannya di Stand Up Gunung, Iqbal juga mengawalinya dengan bercerita tentang anaknya, Wardah Khaliluna Haelu. Sebagaimana di Stand Up Gunung, di LPLK Jogja ini pun bit tersebut bekerja dengan baik. Pecah parah! Ada sekitar lima puluh persen materi yang ia bawakan di Stand Up Gunung, lalu ia bawakan kembali di LPLK Jogja kemarin, seperti: ceritanya saat ditunjuk menjadi ketua panitia pembangunan masjid, perkara haram bisa jadi halal tergantung kondisi dan sebaliknya, serta ormas yang baru-baru ini dibubarkan oleh pemerintah.

Saya melihat, ada jokes yang diksinya diganti, lalu ada juga bit yang lawakannya berkembang. Untuk diksi yang diganti, ialah bagian Candi Sewu yang ikonik karena jumlahnya banyak, dan orang-orang lebih percaya kalau itu yang membangun adalah jin. Iqbal khawatir pada tahun tiga ribu sekian nanti, ketika apa-apa yang banyak itu berarti yang membangun adalah jin, orang-orang di masa depan bisa beranggapan bahwa Alfamart itu yang membangun adalah jin. Dan Meikarta, dulunya adalah bekas kerajaan Nabi Sulaiman. Menurut saya, pemilihan diksi “Meikarta” di LPLK Jogja ini lebih menyenangkan. Ledakan tawanya lebih menjadi, dibandingkan ketika di Stand Up Gunung lalu ia bilang kalau: jangan-jangan di masa depan orang mengira Indomaret itu bekas kerajaan Nabi Sulaiman. Kemudian untuk bit yang lawakannya berkembang, bagian ormas keagamaan yang baru-baru ini dibubarkan. Tawa saya betul-betul meledak saat Iqbal bilang:

“Haduh… belum sempet punya lebaran sendiri, udah dibubarin!”

Sarkas nan tajam saudara-saudara!

Setelah bit tersebut, saya semakin excited menyimak, lantaran bagian tengah ke belakang adalah bit-bit yang baru saya dengar malam itu. Ada sarkas-sarkas lainnya yang Iqbal taburkan. Contohnya ketika Iqbal membandingkan bagaimana orang-orang zaman dulu melakukan uzlah (menyendiri atau mengasingkan diri) demi mendekatkan diri kepada Allah, dan orang-orang sekarang cara mendekatkan dirinya aneh-aneh, seperti membayar listrik via aplikasi islami yang melayani pembayaran segala macam kebutuhan sehari-hari yang katanya memiliki tujuan mulia “Berjamaah Membeli Ulang Indonesia” itu.

Sarkas lain yang menurut saya cukup menarik ialah ketika Iqbal membahas kelakuan banyak ustadz yang sering pakai gimmick, katanya:

“Ustadz pakai gimmick itu enggak apa-apa. Asal gimmicknya jangan sampai lebih terkenal (atau lebih tinggi) daripada ilmunya.”

Dan banyak lagi keprihatinan Iqbal terkait sengkarut di balik orang-orang yang belakangan ini banyak mengeksploitasi agama demi meraih apa-apa yang menjadi tujuan atau kepentingan pribadinya.

Rasanya tidak salah bila pada Kamis tanggal 29 September 2016 silam dan hari-hari setelahnya timeline twitter saya banyak diisi pujian untuk penampilan Iqbal di Wang Sinawang Stand Up Comedy Show. Karena setelah menonton penampilannya di LPLK Jogja kemarin, sepertinya saya juga tergoda ingin ikut memujinya!


***


sumber foto, twitter: Maylingga V.M dan T i k a B u d i

#LPLKJogja: Yusril Fahriza also known as Lord of Bokep!


Sengaja bikin tulisan ini ke dalam empat postingan, bukan karena pengin mengadopsi teknik macam film yang sukanya bikin part-part gitu, yang demi mendongkrak marketing. Tapi karena khawatir kalau cuma dibikin satu postingan (yang mencakup empat comic) doang bakal terlalu panjang. Akhirnya yang mau baca capek duluan sebelum kelar baca, dan memilih close karena kena distraksi notifikasi atau lainnya. Toh kalau pun semisal memang mau dibikin part-part gitu, enggak bakal ngangkat juga, sekalipun sudah mencatut nama Adriano Qalbi. Jadi, ini sengaja dibikin empat bagian, biar setiap postingan bisa menggambarkan detail pertunjukan setiap comic.

Oke, mari kita awali bagian pertama ini dengan mengulas penampilan komika pertama: Yusril Fahriza.

Yusril mulai menghangatkan panggung dengan celetukan-celetukan kecil yang salah satunya ialah mengomentari jari-jarinya yang kebesaran, lalu langsung disambut tawa oleh penonton, kemudian mengumpat silit—bahasa Jawa dari rectum, anus atau bol—dan membuka pertunjukannya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh, merupakan pertemuan dua kata yang njomplang dan tentu saja langsung menggemparkan salah satu ruangan lantai dua di Horison Ultima Riss Hotel yang beralamat di Jalan Gowongan Kidul itu.

Berhasil mengawali dengan hangat, membuat Yusril lebih pede untuk masuk ke bit pertamanya. Sebetulnya, saya kurang yakin, apakah ucapan dia soal jadi opener show “Lo Pikir Lo Keren” (selanjutnya akan disebut LPLK) Jogja ini sudah masuk ke bit pertamanya atau belum. Pengin menebak belum, tapi kok pas melanjutkan sampai bagian mencatut nama Pandji dan Ernest terasa seperti telah disiapkan. Tapi saya rasa, untuk komika sekelas Yusril, tidak akan kesulitan untuk menciptakan itu secara spontan. Sehingga saya lebih sepakat bahwa bit pertamanya adalah mengenai kekesalannya selama tinggal di Jakarta.

Yusril mengolah keresahannya selama tinggal di Jakarta dengan racikan khas seorang Yusril Fahriza: dibumbui dengan makian khas Jawa disertai ekspresi wajah yang tentu saja marah-marah. Dan menurut saya, inilah titik ledak tawa lain yang Yusril miliki selain mengandalkan punchline dari bit-bitnya. Terbukti makian seperti:

“Matane i lho..” Ini sering keluar.

Juga:

“Kowe ngaji ora e?” Saat ia cerita ada orang yang ngakalin enggak puasa dengan memilih ngasih makan (berbuka) ke orang yang sedang berpuasa.

Atau:

“Hmm… he e, dodol bubur ayam neng Mesir…” Ketika dipameri anak pamannya yang tidak bisa kumpul keluarga karena masih di Mesir.

“Urip mung nyekel duit pitung puluh limo ewu kok zona nyaman!” Kalau ini membahas mengenai anggapan orang-orang tentang Jogja yang merupakan zona nyaman.

Dan makian-makian lain sejenisnya yang selalu berhasil mengundang tawa.


Beberapa bit pernah saya dengar sebelumnya di show Retorika dan sewaktu ia menjadi headliner di Stand Up Gunung, seperti bit tentang respons keluarga dan saudaranya setelah ia main di film Cek Toko Sebelah, bagaimana perasaannya saat temannya semasa di pondok pesantren bisa dapat peran di film biopik Sang Pencerah yang menceritakan tentang KH. Ahmad Dahlan, sedangkan ia main di film Cek Toko Sebelah dengan peran banci, sering ditanya “kapan nikah?” oleh orang-orang pada usianya yang ke 28 tahun ini, menceritakan tentang jam terbangnya di dunia perbokepan, dan pengalaman onani pertamanya. Meski demikian, tawa saya tetap meledak. Tentu kualitas ledakannya jelas tidak bisa dibandingkan dengan ketika saya mendengarnya untuk pertama kali.

Tawa saya pecah ketika Yusril menceritakan bahwa sejak kecil ia menimba ilmu di lembaga-lembaga Muhammadiyah: TK di Aisiyah, lalu SD sampai kuliah juga di Muhammadiyah, sampai-sampai ia mengira bahwa KH. Ahmad Dahlan adalah Presiden Indonesia, karena foto beliau selalu ada, menghiasi ruang-ruang kelasnya. Yusril juga bercerita di masa kecilnya pernah ingin segera sampai pada usia tujuh belas tahun, demi bisa menikmati Golden Boy yang di sana tertera untuk usia tujuh belas tahun ke atas. Di ruangan itu, saya ikut-ikutan tertawa tanpa tahu betul apa itu Golden Boy. Kemudian baru searching saat akan menulis ulasan ini. Polos sekali masa kecil saya, baru tahu Golden Boy di usia ketika teman-teman seumuran sudah pada punya anak dan mereka dengan riang gembira memameri akan mengantar anaknya ke playgroup atau taman kanak-kanak.

Tawa saya yang lain juga meledak tatkala Yusril bercerita saat suatu hari melintas di Sakola (tempat jualan baju di Wirobrajan, Jogja) yang dulunya pernah jadi warnet saat zaman ia masih mondok di pesantren, dan kamar mandi warnetnya pernah ia pakai untuk merilis onani perdananya. Di depan Sakola, ia berhenti sembari memandangi dan bergumam:

“Hmm… di sini sejarah dimulai…”

Pada bagian ini, ada sedikit informasi yang berbeda dari yang ia bawakan saat di Retorika dengan ketika menjadi opener LPLK Jogja. Di Retorika Yusril bilang warnet itu kini menjelma menjadi kantor jasa pengiriman, sedangkan di LPLK Jogja ia bilang warnet itu kini telah menjadi Sakola. Secara keseluruhan, mungkin tidak berpengaruh, memakai diksi yang mana saja untuk punchline. Apalagi kalau yang mendengar adalah penonton dari luar Jogja. Tetapi secara pribadi, sebagai orang yang pernah bekerja di kantor daerah Wirobrajan dan sering mondar-mandir di sekitaran jalan itu, tawa saya lebih meledak ketika Yusril menggunakan diksi “Sakola” untuk punchline, karena itu tempat yang cukup masyhur dan banyak orang Jogja tahu. Berbeda ketika di Retorika ia bilang “warnet itu kini menjelma menjadi kantor jasa pengiriman”, jujur, sambil ketawa, saya saat itu sampai harus mikir:

“Kantor jasa pengiriman sebelah mana sih?”

Dan, ini cukup mengganggu kenikmatan saya dalam tertawa kala itu. Tetapi syukurlah, bit-bit yang Yusril bawakan di Retorika banyak yang berkembang di Stand Up Gunung dan semakin berkembang lagi di LPLK Jogja kemarin. Sehingga, ketawa saya yang sempat terganggu saat menyaksikan penampilannya di Retorika, akhirnya dibayar lunas dengan penampilannya selama delapan belas setengah menit di LPLK Jogja kemarin.

Terima kasih!


***


sumber foto, twitter: Maylingga V.M dan T i k a B u d i

Cerita Pendek Yang Pendek: "Ketiduran" dan "Mengigau"


KETIDURAN

Pada suatu malam, ketika diundang tahlilan di tempat warga yang rumahnya berada tepat di depan kompleks pondok, para santri terpaksa harus menyusun formasi duduknya sedemikian rupa, lantaran santri yang hadir lebih banyak ketimbang kemampuan ruangan dalam menampung. Sehingga, formasi duduk yang umumnya melingkari ruangan, menjelma bak barisan mahasiswa baru yang sedang duduk berbaris di lapangan.

Mata saya yang semula masih bisa diajak kompromi, lama-kelamaan menunjukkan titik tumbangnya dengan cukup memalukan. Tatkala doa-doa sedang dirapalkan dan tangan saya menengadah, saya tidur, kebablasan, hingga kepala saya membentur punggung Mas Robith (senior saya di pondok) yang posisi duduknya tepat di depan saya. Karena tidak ingin dianggap sedang tidur, saya langsung teriak "Aamiin" keras-keras, berkali-kali, dan sesekali kembali menyundulkan kepala ke punggung Mas Robith. Agar sundulan pertama tadi tak dianggap sebagai ketiduran.

***

MENGIGAU

Saya kerap mengigau. Ini terjadi sudah lama, sejak saya masih kecil. Di rumah, dulu sering terjadi, ketika Bapak atau Ibu membangunkan untuk salat subuh, tiba-tiba saya langsung mengajak beliau masuk ke sebuah percakapan. Lalu saat mulut saya nyerocos bercerita, dengan jelas saya melihat raut muka beliau yang bila diterjemahkan seperti tengah berkata:

"Ini bocah ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"

Namun ketika dituduh mengigau, saya segera memasang kuda-kuda, menjawab tidak dan memberi penjelasan (yang saat itu, menurut saya) logis. Meskipun setelah terjaga beberapa jam, saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:

"Aku tadi ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"

Di pondok, sebulan ini sedang berlangsung muharaman. Acara perlombaan yang kemarin saya ceritakan itu. Ada enam belas lomba yang dipertandingkan: Kaligrafi, Musabaqoh Hifdzil Quran, Voli, Musabaqoh Syarhil Quran, Cerdas Cermat Pesantren, Dramatikal Fiqih, Musabaqoh Qiroatul Kutub, Kreasi Syiir, Tarik Tambang, Masak, Video Ke-Krapyak-an, Kebersihan Kompleks, Sepak Bola, Tenis Meja, Kreasi Busana Bahan Bekas, dan Bulu Tangkis.

Didapuk menjadi salah satu panitia bagian perlombaan, membuat saya harus lebih banyak berpikir tentang perlombaan, sampai ke teknis detailnya. Saat terjaga saya memikirkan lomba. Saat tidur saya memimpikan lomba. Saat lomba, saya menginginkan tidur. Sebuah tidur yang nyenyak. Meski gagal.

Suatu malam, saya terbangun dari tidur. Di kamar, ada Udin (teman sekamar) yang sedang terjaga. Tanpa babibu, saya langsung mengajaknya bicara:

"Pokoknya pemain kita harus lengkap, Din. Besok, kompleks kita tanding sepak bola melawan kompleks anu. Anak-anak bisa dikondisikan, kan?"

Udin mengernyitkan dahi. Sepertinya sedang mencoba mencerna maksud ucapan saya. Dalam keadaan yang demikian, saya yakin, pasti isi kepalanya sedang berkata:

"Ini bocah ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"


***

(Foto di atas, bukan saat kejadian berlangsung. Hanya berusaha mencari foto yang pas saja, agar tidak seperti selebgram-selebgram itu)

Cerita Pendek Yang Pendek: "Nonton Bola di Warteg"



Seorang yang dikenal memiliki indera keenam, suatu hari menunjukkan tajinya. Ia menebak peta permainan saat kami (aku dan teman-teman) di warteg dan menyaksikan pertandingan bola di televisi, antara Real Madrid versus Barcelona. Tak cukup sampai di situ, ia bahkan sanggup menebak jumlah skor pertandingan. Kami takjub dibuatnya.

"Tonton sampai akhir, dan buktikan ucapanku!" selorohnya disertai nada yang sangat meyakinkan. Lalu pergi, menghilang dari hadapan kami.

Kami semakin memelototi televisi, dan memperhatikan setiap detil, hanya untuk menjadi saksi hidup atas kebenaran ucapannya.

Sampai pertandingan berakhir, kami sepakat bahwa prediksi teman kami yang masyhur dengan kemampuan indera keenamnya itu seratus persen akurat.

Seusai pertandingan, dan bersamaan dengan televisi sedang menayangkan presenter yang tengah bercuap-cuap membicarakan pertandingan barusan, kami membayar apa-apa yang tadi telah kami telan, kepada ibu penjaga warteg. Setelah mengucapkan "matur nuwun" dan tatkala langkah kaki kami akan mencapai bibir pintu, kami mendengar ucapan penutup dari presenter:

"Terima Kasih telah menyaksikan siaran ulang pertandingan antara Real Madrid versus Barcelona. Sampai jumpa!"

***

sumber foto: YouTube.com

Cerita Pendek Yang Pendek: "Bernapas Menggunakan Trakea"



Saya tipikal orang yang tidak enakan. Saat ada seorang teman merokok di depan saya, alih-alih menyuruhnya pindah tempat agar asapnya tidak terhirup oleh saya yang bukan perokok, saya lebih memilih untuk tetap santai mengobrol dengannya sembari berusaha keras bernapas menggunakan mulut.

Pada kesempatan lain, teman saya di pondok kentut, dan menguarkan bau tak sedap serupa tikus yang telah mati seminggu. Karena tidak ingin menyakiti hatinya akibat menutup hidung, saya mencoba menggunakan cara yang sama: bernapas menggunakan mulut sambil tetap santai mengobrol dengannya. Menganggap semuanya baik-baik saja. Saya kira, ini akan berlangsung sebentar. Rupanya tidak, karena pantatnya kembali berdentum dan lagi-lagi baunya menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Saya sudah berusaha untuk melanjutkan bernapas menggunakan mulut, namun lama-lama saya khawatir kalau sampai terserang radang tenggorokan atau faringitis akibat mengizinkan bau kentut menyesaki rongga mulut.

Seandainya manusia bisa bernapas menggunakan trakea sebagaimana kupu-kupu, lebah dan semut, tentu ingin sekali saya mencobanya...

Cerita Pendek Yang Pendek: "Siapakah Kakaknya Nur yang Sesungguhnya?"



Mayoritas penghuni kompleks pondok saya adalah mereka yang sudah kuliah. Anak-anak sekolah hanya minoritas. Lebih minoritas lagi, anak-anak sekolah dengan kelakuan atau bentuk tubuh yang unik. Berbeda.

Beberapa minggu lalu, ada anak lulusan SMP masuk. Nur, nama panggilannya. Bentuk tubuhnya gempal dan pendek. Bila ia sedang tertawa, saya kerap kesulitan untuk membedakannya dengan Narji Cagur. Kehadirannya, menambah populasi manusia kenyal di kompleks saya, selain Irfan dan Ubed—santri 'berisi' (baca: gelonggongan) lainnya.

Sore tadi, setelah mandi, saya memutuskan untuk sikat gigi di tempat wudu, yang letaknya antara kamar mandi dan jalur keluar-masuk menuju tempat wudu. Saya memilih untuk sikat gigi (dan cuci muka) di luar, dalam rangka: demi menebang potensi mengularnya antrean mandi.

Langkah Ubed menuju ke kamar mandi terpaksa harus terhenti karena ukuran tempat wudu yang sempit itu telah saya kuasai. Pada saat yang sama, ketika saya sedang sikat gigi, Nur yang baru saja keluar dari kamar mandi juga kesusahan untuk lewat lantaran terhalang oleh badan saya. Jadilah Ubed berseloroh:

"Minggir, adikmu mau lewat tuh!"

Saya yang sudah selesai sikat gigi pun segera berkumur, lalu memastikan pernyataannya:

"Adikku? Serius, Bed?" Saya mengumpankan senyum sarkastis. Setelah memberi jalan agar Nur segera lewat, saya berkata pelan kepada Ubed:

"Bed, kamu salah besar, kalau menyangka Nur sebagai adikku. Aku kira, seluruh santri di kompleks ini pun lebih tahu: siapa di antara kita yang lebih cocok untuk disebut sebagai kakaknya Nur?"

Ubed hanya diam. Akhirnya saya pun memberi ruang, agar ia bisa melintas. Dari belakang, saya menyaksikan badannya yang geyal-geyol, yang bila diberi efek slow motion, pasti akan menimbulkan pergerakan lemak yang jenaka.