Menjelajahi Objek Wisata Kuching, Tempat-Tempat Ini Jangan Sampai Terlewatkan

source:travel2malaysia.com.my

Malaysia tidak hanya memiliki Kuala Lumpur sebagai destinasi utama wisata. Di bagian Borneo, tepatnya di Negara Bagian Serawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, Malaysia juga punya banyak keindahan yang layak banget buat dijelajahi.

Salah satu tempat wajib kunjung di Negara bagian ini adalah Kuching, yang tak lain adalah ibukota bagian Serawak, Malaysia.

Ada apa saja di Kuching? Beberapa tempat ini bisa jadi referensi liburan kamu di sana.

Cat Museum


Seperti nama wilayahnya, Kuching memakai hewan kucing sebagai simbol kota. Bahkan ada museum kucing yang dinamakan Cat Museum dan setiap hari ramai dikunjungi wisatawan.

Di dalam Cat Museum, terdapat kurang lebih 40 ribu artefak kucing. Di bagian luarnya terdapat patung kucing dengan berbagai ukuran, sementara di dalamnya ada berbagai macam benda yang berhubungan dengan kucing, termasuk lukisan dan juga foto-foto unik tentang kucing.

Kampung Budaya Serawak


source:kuchingleisure.com

Di sini bangunan rumah-rumah asli penduduk Kuching di masa lampau berdiri dengan indah. Keindahan budaya lokal dijaga dengan sangat baik di kampung ini, dan menjadi destinasi favorit para wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke Kuching.

Menarik melihat bagaimana penduduk lokal berinteraksi dengan wisatawan dan melakukan berbagai kegiatan mereka. Dari sini bisa terbayang, seperti apa kehidupan penduduk di Kuching sebelum modernisasi melanda Malaysia, khususnya bagian Serawak.

Cagar Alam Semenggoh


Di sini, hutan nan menghijau terhampar luas, dengan orangutan yang bergelantungan di alam liar dengan indahnya. Karena masih berada di Pulau Kalimantan, isi cagar alam Semenggoh tidaklah berbeda jauh dengan kota-kota di sekitarnya, seperti di Kalimantan Tengah ataupun Timur.

Namun pemandangan di Cagar Alam Semenggoh cukup menarik. Layak untuk masuk itinerary ke Kuching nanti.

Museum Serawak


source:mybackyardtour.com

Di sini, semua tentang Serawak, bagaimana sejarah dan budayanya bisa ditemukan dalam sekali jalan. Lokasinya berada di kota Kuching, mudah ditempuh dari manapun. Dengan bangunan yang megah dan bergaya kuno, Museum Serawak sangat wajib dikunjungi kalau liburan di Kuching.

Museum Sejarah Tiongkok


Kuching adalah kota dengan berbagai adat budaya yang ada di dalamnya. Salah satu kebudayaan yang paling kuat melekat di sana adalah Tiongkok, sampai ada sebuah museum khusus untuk budaya yang satu ini. Dan jika berada disini pasti akan menambah serunya liburan kamu selama di Kuching.

Museum Sejarah Tiongkok selalu ramai oleh wisatawan, bukan hanya karena lokasinya yang strategis, tapi juga karena isinya sangat menarik. Ketika masuk ke sana, kamu seolah dibawa ke masa lalu, bagaimana budaya Tiongkok bisa masuk ke Kuching dan bertahan hingga sekarang.

Benteng Margherita


thehistoryhub.com

Benteng ini adalah peninggalan masa penjajahan Inggris dan menjadi salah satu ikon kota Kuching yang dijaga kelestariannya sampai sekarang. Uniknya, untuk menuju benteng ini, kamu harus menyeberang sungai selama kurang lebih 10 menit.

Bisa saja sih naik taksi ke sana, karena juga disediakan jembatan penyeberangan. Namun sensasi naik perahu tradisional bersama beberapa puluh orang lainnya menuju Benteng Margherita adalah hal menarik yang wajib dicoba.

Rute Menuju Kuching


Ada beberapa pilihan jalur menuju Kuching, namun hampir semuanya tak menyediakan penerbangan langsung. Seperti Xpress Air yang menyediakan jalur ke Kuching, namun tetap transit ke Pontianak.

Hal yang sama juga terjadi ketika kamu menumpang Xpress Air dari kota lain menuju Kuching. Ada yang transit di Kuala Lumpur, ada juga penerbangan yang transit di Singapura.

Dari Indonesia, jalur paling banyak dicari menuju Kuching tentu saja Xpress Air yang transit di Pontianak. Selain lebih dekat, ongkos perjalanannya pun lebih murah.

Cerita Pendek Yang Pendek: "Ketiduran" dan "Mengigau"


KETIDURAN

Pada suatu malam, ketika diundang tahlilan di tempat warga yang rumahnya berada tepat di depan kompleks pondok, para santri terpaksa harus menyusun formasi duduknya sedemikian rupa, lantaran santri yang hadir lebih banyak ketimbang kemampuan ruangan dalam menampung. Sehingga, formasi duduk yang umumnya melingkari ruangan, menjelma bak barisan mahasiswa baru yang sedang duduk berbaris di lapangan.

Mata saya yang semula masih bisa diajak kompromi, lama-kelamaan menunjukkan titik tumbangnya dengan cukup memalukan. Tatkala doa-doa sedang dirapalkan dan tangan saya menengadah, saya tidur, kebablasan, hingga kepala saya membentur punggung Mas Robith (senior saya di pondok) yang posisi duduknya tepat di depan saya. Karena tidak ingin dianggap sedang tidur, saya langsung teriak "Aamiin" keras-keras, berkali-kali, dan sesekali kembali menyundulkan kepala ke punggung Mas Robith. Agar sundulan pertama tadi tak dianggap sebagai ketiduran.

***

MENGIGAU

Saya kerap mengigau. Ini terjadi sudah lama, sejak saya masih kecil. Di rumah, dulu sering terjadi, ketika Bapak atau Ibu membangunkan untuk salat subuh, tiba-tiba saya langsung mengajak beliau masuk ke sebuah percakapan. Lalu saat mulut saya nyerocos bercerita, dengan jelas saya melihat raut muka beliau yang bila diterjemahkan seperti tengah berkata:

"Ini bocah ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"

Namun ketika dituduh mengigau, saya segera memasang kuda-kuda, menjawab tidak dan memberi penjelasan (yang saat itu, menurut saya) logis. Meskipun setelah terjaga beberapa jam, saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:

"Aku tadi ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"

Di pondok, sebulan ini sedang berlangsung muharaman. Acara perlombaan yang kemarin saya ceritakan itu. Ada enam belas lomba yang dipertandingkan: Kaligrafi, Musabaqoh Hifdzil Quran, Voli, Musabaqoh Syarhil Quran, Cerdas Cermat Pesantren, Dramatikal Fiqih, Musabaqoh Qiroatul Kutub, Kreasi Syiir, Tarik Tambang, Masak, Video Ke-Krapyak-an, Kebersihan Kompleks, Sepak Bola, Tenis Meja, Kreasi Busana Bahan Bekas, dan Bulu Tangkis.

Didapuk menjadi salah satu panitia bagian perlombaan, membuat saya harus lebih banyak berpikir tentang perlombaan, sampai ke teknis detailnya. Saat terjaga saya memikirkan lomba. Saat tidur saya memimpikan lomba. Saat lomba, saya menginginkan tidur. Sebuah tidur yang nyenyak. Meski gagal.

Suatu malam, saya terbangun dari tidur. Di kamar, ada Udin (teman sekamar) yang sedang terjaga. Tanpa babibu, saya langsung mengajaknya bicara:

"Pokoknya pemain kita harus lengkap, Din. Besok, kompleks kita tanding sepak bola melawan kompleks anu. Anak-anak bisa dikondisikan, kan?"

Udin mengernyitkan dahi. Sepertinya sedang mencoba mencerna maksud ucapan saya. Dalam keadaan yang demikian, saya yakin, pasti isi kepalanya sedang berkata:

"Ini bocah ngomong apaan sih? Enggak jelas banget!"


***

(Foto di atas, bukan saat kejadian berlangsung. Hanya berusaha mencari foto yang pas saja, agar tidak seperti selebgram-selebgram itu)

Cerita Pendek Yang Pendek: "Nonton Bola di Warteg"



Seorang yang dikenal memiliki indera keenam, suatu hari menunjukkan tajinya. Ia menebak peta permainan saat kami (aku dan teman-teman) di warteg dan menyaksikan pertandingan bola di televisi, antara Real Madrid versus Barcelona. Tak cukup sampai di situ, ia bahkan sanggup menebak jumlah skor pertandingan. Kami takjub dibuatnya.

"Tonton sampai akhir, dan buktikan ucapanku!" selorohnya disertai nada yang sangat meyakinkan. Lalu pergi, menghilang dari hadapan kami.

Kami semakin memelototi televisi, dan memperhatikan setiap detil, hanya untuk menjadi saksi hidup atas kebenaran ucapannya.

Sampai pertandingan berakhir, kami sepakat bahwa prediksi teman kami yang masyhur dengan kemampuan indera keenamnya itu seratus persen akurat.

Seusai pertandingan, dan bersamaan dengan televisi sedang menayangkan presenter yang tengah bercuap-cuap membicarakan pertandingan barusan, kami membayar apa-apa yang tadi telah kami telan, kepada ibu penjaga warteg. Setelah mengucapkan "matur nuwun" dan tatkala langkah kaki kami akan mencapai bibir pintu, kami mendengar ucapan penutup dari presenter:

"Terima Kasih telah menyaksikan siaran ulang pertandingan antara Real Madrid versus Barcelona. Sampai jumpa!"

***

sumber foto: YouTube.com

Cerita Pendek Yang Pendek: "Bernapas Menggunakan Trakea"



Saya tipikal orang yang tidak enakan. Saat ada seorang teman merokok di depan saya, alih-alih menyuruhnya pindah tempat agar asapnya tidak terhirup oleh saya yang bukan perokok, saya lebih memilih untuk tetap santai mengobrol dengannya sembari berusaha keras bernapas menggunakan mulut.

Pada kesempatan lain, teman saya di pondok kentut, dan menguarkan bau tak sedap serupa tikus yang telah mati seminggu. Karena tidak ingin menyakiti hatinya akibat menutup hidung, saya mencoba menggunakan cara yang sama: bernapas menggunakan mulut sambil tetap santai mengobrol dengannya. Menganggap semuanya baik-baik saja. Saya kira, ini akan berlangsung sebentar. Rupanya tidak, karena pantatnya kembali berdentum dan lagi-lagi baunya menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Saya sudah berusaha untuk melanjutkan bernapas menggunakan mulut, namun lama-lama saya khawatir kalau sampai terserang radang tenggorokan atau faringitis akibat mengizinkan bau kentut menyesaki rongga mulut.

Seandainya manusia bisa bernapas menggunakan trakea sebagaimana kupu-kupu, lebah dan semut, tentu ingin sekali saya mencobanya...

Cerita Pendek Yang Pendek: "Siapakah Kakaknya Nur yang Sesungguhnya?"



Mayoritas penghuni kompleks pondok saya adalah mereka yang sudah kuliah. Anak-anak sekolah hanya minoritas. Lebih minoritas lagi, anak-anak sekolah dengan kelakuan atau bentuk tubuh yang unik. Berbeda.

Beberapa minggu lalu, ada anak lulusan SMP masuk. Nur, nama panggilannya. Bentuk tubuhnya gempal dan pendek. Bila ia sedang tertawa, saya kerap kesulitan untuk membedakannya dengan Narji Cagur. Kehadirannya, menambah populasi manusia kenyal di kompleks saya, selain Irfan dan Ubed—santri 'berisi' (baca: gelonggongan) lainnya.

Sore tadi, setelah mandi, saya memutuskan untuk sikat gigi di tempat wudu, yang letaknya antara kamar mandi dan jalur keluar-masuk menuju tempat wudu. Saya memilih untuk sikat gigi (dan cuci muka) di luar, dalam rangka: demi menebang potensi mengularnya antrean mandi.

Langkah Ubed menuju ke kamar mandi terpaksa harus terhenti karena ukuran tempat wudu yang sempit itu telah saya kuasai. Pada saat yang sama, ketika saya sedang sikat gigi, Nur yang baru saja keluar dari kamar mandi juga kesusahan untuk lewat lantaran terhalang oleh badan saya. Jadilah Ubed berseloroh:

"Minggir, adikmu mau lewat tuh!"

Saya yang sudah selesai sikat gigi pun segera berkumur, lalu memastikan pernyataannya:

"Adikku? Serius, Bed?" Saya mengumpankan senyum sarkastis. Setelah memberi jalan agar Nur segera lewat, saya berkata pelan kepada Ubed:

"Bed, kamu salah besar, kalau menyangka Nur sebagai adikku. Aku kira, seluruh santri di kompleks ini pun lebih tahu: siapa di antara kita yang lebih cocok untuk disebut sebagai kakaknya Nur?"

Ubed hanya diam. Akhirnya saya pun memberi ruang, agar ia bisa melintas. Dari belakang, saya menyaksikan badannya yang geyal-geyol, yang bila diberi efek slow motion, pasti akan menimbulkan pergerakan lemak yang jenaka.

Cerita Pendek Yang Pendek: "Ciri-Ciri Fi'il Mudhari'"



Setiap pukul delapan hingga sembilan malam, setiap hari—kecuali malam Jumat, karena libur mengaji dan diisi dengan acara selawat barzanji—agenda di pondok adalah mengaji diniah. Ada beberapa kitab yang dipelajari, salah satunya Nahwu, yakni ilmu tentang pokok-pokok yang diambil dari qoidah-qoidah arab untuk mengetahui keadaan akhirnya kalimat dari segi i'rob dan mabni. Ilmu yang oleh para ulama dijuluki sebagai abul ulum atau ayahnya ilmu. Itulah kitab yang dipelajari malam ini.

Sebelum masuk ke materi pelajaran baru, seperti biasa, ustaz memberi soal kepada kami terlebih dahulu, satu per satu. Mengulas pelajaran yang telah berlalu.

"Mufid, apa yang disebut dengan fi'il mudhari'?" tanya ustaz, ketika giliran pertanyaan jatuh kepada saya.

"Kata kerja bentuk sedang atau akan," jawab saya.

"Ciri-cirinya?" Ustaz melanjutkan pertanyaan. Belum sempat menjawab, teman satu kelas saya, Arif, menyerobot,

"Rambut panjang, kulit sawo matang, …,"

Bedebah, tawa saya meledak!

Cerita Pendek Yang Pendek: "Misteri Hilangnya Sempak"



Sudah tak terhitung, berapa kali saya mendengar anak-anak pondok mengeluh: sempakku hilang! Beruntung, sampai hari ini saya belum pernah mengalaminya. Jika Anda bertanya "Apa resep manjur agar sempak tidak hilang?", tentu jawaban saya adalah "Jangan punya sempak!"

Beberapa dari mereka yang hilang sempaknya, mengalami kesedihan cukup mendalam. Bahkan ada yang sampai depresi dan nyaris berniat bunuh diri, mengikuti jejak Freddie Prinze, Kurt Cobain, dan Robin Williams. Namun niat itu segera sirna lantaran di pesantren pernah dijelaskan bahwa bunuh diri termasuk dalam dosa besar.

Di antara mereka yang bermuram durja, ada beberapa yang kemudian senyumnya merekah. Mereka adalah para korban yang kembali menemukan sempaknya—tentu bukan melalui mimpi. Sebuah peristiwa mengharukan yang tentu pertemuannya akan lebih baik lagi bila ditayangkan dalam program semacam Tali-Temali Kasih.

Apakah sampai di sini masalah lantas selesai?

Jawabannya tidak, karena keluhan selanjutnya muncul: sempakku ketemu, tapi kendur!

"Untuk sempak yang hilang, sementara belum ada jawaban pasti: baik penemuan berupa barang bukti maupun penetapan tersangka. Karena untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka, setidaknya butuh minimal dua alat bukti," kata saya saat konferensi pers, di depan para santri yang menjadi korban, dan didampingi keluarganya yang menangis sesenggukan. "Namun untuk sempak yang telah kembali ke pelukan, dan pulang dalam keadaan kendur, sepertinya saya tahu siapa pelakunya." Saya mengatakan ini sembari mengumpankan senyum. Sebuah ekspresi yang jelas-jelas berbanding terbalik dengan anak-anak pondok yang berbadan tambun. Salah satunya, Nur, bocah di sebelah saya ini.