Cerita Pendek Yang Pendek: "Mie Ayam Tanpa Ayam."



"Pak, beli mie ayam, tapi enggak pakai ayam," kata saya kepada si penjual.

"Hah, gimana? Gimana?" tanyanya dengan raut wajah setengah bingung.

"Iya, saya pesan mie ayam, tapi enggak pakai ayam. Lagi sakit gatal-gatal soalnya. Sama dokter, enggak boleh makan daging, termasuk daging ayam. Jadi, ayamnya ganti bakso saja."

"Oh ya, siap."

Tak lama kemudian, seluruh pesanan dihidangkan. Di depan saya sudah tersaji minuman jeruk hangat, dan mie dengan dua butir bakso.

Sebagaimana penikmat bakso kebanyakan, saya melahap habis mie, dan memilih menikmati butir-butir bakso itu pada detik-detik akhir penghabisan.

"Hmm... enak sekali baksonya," kata saya agak keras, sambil mengunyah bakso dengan penuh kelezatan. Tak lama kemudian saya tersadar akan sesuatu, dan langsung menanyakan kepada penjualnya:

"Eh, Pak, ini ada daging ya, di dalam baksonya?"

"Iya Mas," jawabnya polos.

Ha jangkrik, ming podo wae nek ngene iki carane, batin saya, sembari mencemaskan kemungkinan datangnya kembali gatal-gatal yang padahal, ini saat-saat saya merasa tengah menjelang sembuh.


(Ha jangkrik, ming podo wae nek ngene iki carane = Jangkrik, sama saja kalau begini caranya)

Manfaat Ilmu Stand Up Comedy Dalam Kehidupan



Setiap bidang dalam hidup yang pernah saya pelajari, selalu mengajari banyak hal tentang hidup. Salah satunya: stand up comedy.

Menuliskan lawakan, itu akarnya keresahan. Ibarat memasak, teknik-teknik dalam menulis lawakan serupa dengan alat-alat yang akan dipakai untuk memasak. Sedangkan keresahan, adalah adonan yang akan dimasak. Yah, meskipun pada titik tertentu, akan ada ucapan: semua orang bisa memiliki alat-alat untuk memasak, tetapi tidak semua orang bisa memasak dengan enak. Namun inti pertamanya, untuk menuliskan lawakan, keresahan, harus hadir lebih dahulu. Bukan sejak awal meniatkan diri untuk mencari kelucuan.

Harus saya akui, semenjak belajar tentang stand up comedy, respons saya tidak pernah dongkol-dongkol amat terhadap hidup, bila ada keburukan yang menimpa. Seburuk apa pun kondisinya. Ya, seburuk apa pun. Karena modal alat-alat (teknik) yang ada, ditambah sedikit sense of humor, saya sanggup menyulapnya menjadi lawakan. Sampai di sini, kemudian saya harus setuju dengan ucapan Arya Novrianus, bahwasanya:

"Semua hal bisa dibecandain. Tapi nggak semua bisa menerimanya."

Keresahan demi keresahan, bagi yang paham ilmu stand up comedy, laksana adonan-adonan yang menunggu untuk dimasak, lalu disantap. Masalahnya, bagi beberapa pihak, ada yang enggan menyantap lawakan yang sebetulnya sudah mereka tolak sejak bentuknya masih berupa adonan. Untuk hal-hal yang (InsyaAllah) bisa diterima, biasanya saya melontarkannya, baik dalam bentuk celetukan maupun tulisan. Lalu untuk hal-hal yang mengkhawatirkan, namun saya membaca ada potensi komedi, saya biasanya mengolahnya, lalu membiarkan kepala saya sendiri yang menikmatinya. Karena mengetahui keresahan dan sadar ada potensi komedi, namun tidak mengolahnya, itu perumpamaannya seperti orang yang kebelet tapi ditahan-tahan.

Semakin buruk kondisi = semakin resah = semakin banyak hal yang bisa diolah menjadi materi lawakan. Sebelum belajar stand up comedy, kalau sedang kesal, terkadang saya meninju-ninju pohon menggunakan tangan. Macam orang gila saja. Kalau emosi belum reda juga, kaki pun ikut ambil bagian: menendang apa saja yang saat itu mengganggu pandangan. Saya jadi merasa hina, kalau mengingat-ingat beragam respons tolol yang pernah saya lakukan ketika dahulu dirundung amarah. Bagaimana tidak tolol? Kalau saya meninju pohon, atau menendang pintu, maka tidak serta merta si masalah akan menyelesaikan dirinya sendiri. Selesai, tidak. Sakit, iya.

Saya harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada siapapun yang pernah mengajari saya perihal ilmu-ilmu dalam stand up comedy. Meskipun sudah lama sekali saya tidak praktik (tampil) stand up comedy, tetapi ilmu-ilmunya masih saya pakai sampai hari ini. Sekedar untuk mengakrabkan pertemanan, menghangatkan tongkrongan, serta penetrasi media sosial yang belakangan frekuensi kegaduhannya masif sekali.

Dan pada akhirnya, sebetulnya, itu semua demi kesehatan pikiran dan jiwa saya sendiri.

Cerita Pendek Yang Pendek: "Kisah Pendek Tentang Jarak Antar Karpet Yang Sangat Pendek."



Ketika masih duduk di bangku MTs—setara SMP, saya pernah mengalami sebuah kejadian yang sampai hari ini, begitu susah untuk dilupakan.

Jadi begini kisahnya. MTs tempat dulu saya menimba ilmu, mewajibkan seluruh siswanya untuk salat zuhur berjemaah di musala yang letaknya masih di lingkungan sekolah. Setiap bel istirahat kedua berbunyi, yakni sekitar pukul dua belas siang, beberapa guru 'ngoprak-oprak' seluruh siswa agar segera mengambil air wudhu. Sementara beberapa guru lainnya, bertugas di dalam musala, merapikan barisan.

"Shaf paling depan, penuhi dulu. Baru belakangnya, sampai penuh juga. Lalu belakangnya lagi. Dan seterusnya," begitu kira-kira, komando yang biasa guru teriakkan, dalam rangka merapikan barisan kami.

Saat itu, yang berada tepat di belakang saya adalah salah satu senior di sekolah yang cukup dikenal badung. Karena merasa tidak memiliki masalah dengannya, tentu saya pun merasa santai saja.

Keadaan yang semula santai tersebut, kemudian menjelma menjadi tidak santai lantaran ketika bangkit dari sujud, tanpa sengaja pantat saya menyundul kepalanya. Setelahnya, saya melakukan gerakan demi gerakan salat dengan diliputi kecemasan tiada tara, khawatir kalau-kalau sebentar lagi ia melancarkan pembalasan.

Rupanya konsep 'Law of Attraction' atau hukum tarik-menarik yang Rhonda Byrne tulis dalam bukunya yang berjudul 'The Secret' itu—dan ia bikin film-nya dengan judul yang sama pula, ada benarnya juga dalam kasus yang saya alami ini. Pembalasan yang tadinya hanya ada dalam pikiran saya, akhirnya terwujud dalam bentuk bogem mentah secara semena-mena ke pantat saya, tatkala gerakan salat sampai pada gerakan sujud, yang mana, saat itu pantat saya sedang dalam kondisi njengking se-njengking-njengkingnya njengking.

Teriak aduh? Tentu tidak. Apalagi kok bilang 'iyung' dalam tempo sekeras-kerasnya. Karena itu sama dengan mengundang bentuk-bentuk bogem yang lain, yang dieksekusi langsung oleh guru-guru, dalam rangka menghukum siswa-siswa yang 'guyon' selama salat. Akhirnya, saya lebih memilih untuk meringis seraya mengelus-elus pantat, yang kalau saja siang itu saya diijinkan memelorotkan celana, pastilah ada bekas merah di bagian pantat yang baru saja ketiban sial tersebut.

Kalau disodori pertanyaan: apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Tentu saja jawaban saya: salah satunya, jarak karpet antar shaf yang demikian sempit.

Jujur, sampai hari ini, setiap kali akan bangkit dari sujud, saya masih merasa insecure:

"Duh, jangan-jangan, kalau saya bangkit sekarang, kepala orang di belakang saya bisa kesundul."

"Duh, jangan-jangan, kalau saya bangkit sekarang, kepala saya, kesundul pantat orang yang berada di depan saya."

Saat terpenjara dalam keadaan demikian, saya hanya berharap agar orang yang di depan maupun di belakang saya, tidak se-pemikiran dengan saya. Karena kalau sampai se-pemikiran, tentu tidak akan ada yang segera bangkit-bangkit dari sujud.

Terakhir. Ketika pada akhirnya, lagi-lagi kok pantat saya tidak sengaja menyundul kepala orang di belakang saya, atau jari-jari kaki saya menyenggol kepalanya, maka tatkala gerakan telah mencapai sujud, isi kepala saya seperti secara otomatis memberikan instruksi:

"Bersiaplah Fid, sebentar lagi, sesuatu akan terjadi, menimpa pantatmu! Bersiaplah! BERSIAPLAH!"

Tafsir Nasihat Oleh Mas-Mas Angkringan



"Ada yang pendek usianya, namun panjang manfaatnya. Ada yang panjang usianya, namun pendek manfaatnya."

Kalau nasihat di atas sampai ketahuan Mas-Mas angkringan, pasti bakal diubah menjadi:

"Ada yang sebentar nongkrongnya, namun banyak jajannya. Ada yang lama nongkrongnya, namun sedikit jajannya."

Cerita Pendek Yang Pendek: "Karma Santri Tidur."



Pada bulan-bulan selain bulan ramadan, di pondok, salah satu kajian kitab setiap bakda subuh ialah Tafsīr al-Jalālayn. Kitab yang secara harfiah berarti: "tafsir dua Jalal", yakni sebuah kitab tafsir al-Qur'an terkenal, yang awalnya disusun oleh Jalaluddin al-Mahalli pada tahun 1459, dan kemudian dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Jalaluddin as-Suyuthi pada tahun 1505.

Setiap kali kajian kitab ini, saya kerap mendapati Mas Nang—demikian, saya biasa memanggil orang di samping saya yang mengenakan batik ini—tertidur tatkala mengaji. Sampai-sampai, membuat saya, pada hari-hari berikutnya, ketika akan mengaji dan kebetulan Mas Nang masih terjaga, saya kerap membisikkan kalimat bernada sarkastis ke telinganya:

"Nemenin Mas Nang ngaji sambil tidur, ah!" Saya mengatakan itu, sembari duduk di sampingnya.

Boleh dibilang, untuk kajian kitab yang selain bulan ramadan ini, saya jarang sekali tidur ketika mengaji. Tapi saat saya sering memutuskan untuk duduk di sebelah Mas Nang, lagi dan lagi, saya selalu mendapatinya tidur setiap kali mengaji. Bahkan, pernah pada suatu pagi, saya dan para santri lainnya, secara diam-diam sepakat untuk meninggalkannya sendirian di tempat mengaji. Lalu di luar ruangan, kami terkekeh-kekeh, membahas Mas Nang seraya menunggunya keluar. Tak lama, ia pun keluar sambil berjalan dengan terseok-seok, kesemutan.

"Siapa Mas, yang membangunkan? Hahaha," tanya kami rame-rame.

"Gus Faik," jawabnya, disertai tawa memelas. Sebagai informasi, Gus Faik ialah guru kami yang mengampu kajian kitab Tafsīr al-Jalālayn. Beliau merupakan salah satu cicit dari KH. Moehammad Moenawwir bin Abdullah Rosjad, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Sekarang, pada bulan ramadan ini, jadwal mengaji cukup padat. Kajian dimulai sejak bakda subuh, dan baru berakhir pukul sebelas malam. Itu pun belum ditambah kalau kamarnya mendapat jatah tadarus, yang minimal dua juz. Bisa-bisa, mulai tidur sekitar jam setengah satu dini hari. Lalu mereka yang jatah ronda malam, akan membangunkan kami semua pada jam tiga dini hari, untuk makan sahur.

Para santri yang pada bulan-bulan lain sanggup terjaga selama mengaji, tentu akan tumbang dihadapkan dengan jadwal mengaji ramadan yang demikian padat. Termasuk saya.

Pada awal-awal ramadan, para santri hadir dengan semangat menggelora, mata menyala-nyala. Lambat laun, satu per satu dari kami layu, mulai tertidur tatkala mengaji. Saya pun.

Kajian kitab Tafsīr al-Jalālayn yang biasanya pagi hari, pada ramadan ini berganti jadwal menjadi pukul dua siang.

Beberapa hari lalu, ketika kajian kitab ini, saya tertidur pulas sekali. Tentu dengan posisi duduk yang masih menghadap kitab. Saking nyenyaknya, kemudian saya terbangun dalam keadaan ruangan kosong, dan pintu-pintu tertutup.

"Asem, ditinggal!" Saya berjalan keluar dengan kaki sempoyongan. Apalagi kalau bukan gara-gara kesemutan? Saya betul-betul merasakan apa yang saat itu Mas Nang rasakan. Ya, beberapa teman sudah berada di luar ruangan, menyambut saya dengan terpingkal-pingkal. Menodong dengan pertanyaan ini dan itu.

Sejak kejadian itu, sampai hari ini, bila pada jam mengaji (apa pun) kok kebetulan saya duduk di samping Mas Nang, kepadanya saya membisikkan:

"Mas, mau ngaji sambil tidur?" Mas Nang hanya tertawa, tak menjawab sepatah kata pun. "Kalau iya, saya temani," pungkas saya.

Cerita Pendek Yang Pendek: "Dek, gelem tak rabi ra?"


"Dek, gelem tak rabi ra? Tenan ki, aku tresno marang sliramu."

"Lho, aku iseh sekolah ki Mas?"

"Ha yo tak enteni nek wes bali sekolah to yo."

"Ah, luweh Mas."

"Yo wes, tenan iki. Piye, gelem ra?"

"Yo Mas, gelem. Neng ono syarate."

"Yoh, kene tak lakoni. Neng ojo akeh-akeh."

"Ora kok Mas, mung siji thok."

"Wah, penak ki. Opo kuwi Dek?"

"Nek salat ojo nganti ketinggalan takbiratul ikhrom."

"Duh. Hmm... kiro-kiro penjalukmu, aku kudu ngelakoni kuwi, suwene pirang tahun, Dek?"

"Rasah suwe-suwe. Cukup tekan aku lulus sekolah MA (Madrasah Aliyah, hudu Master of Art) wae, Mas."

"Siap. Oh ya, saiki ki kowe kelas piro to Dek?"

"Kelas 4 MI (Madrasah Ibtidaiyah) Mas."

"Asem! Kok awakmu gede lan duwur koyo cah wes MA wae?"

"Ha piye meneh Mas, ket mbiyen guru-guruku do seneng karo aku. Mulane dikon nunggak kelas teros. Sakjane yo wes wayahe MA iki Mas."

"Mbok nek sekolah ki nganggo seragam abang-putih po piye, ben ra mbingungi. Nganti ra ngerti aku, nek kowe jebule iseh MI."

"Dino rebo lan kemis ki nek neng sekolahku jatah nganggo klambi muslim je Mas. Eh, dadi piye iki sidone?"

"Duh, kowe njaluk aku kon salat ojo nganti ketinggalan takbiratul ikhrom we rasane wes abot Dek, opo meneh kok nunggu kowe nganti tekan lulus MA. Padahal yo kui durung ditambah nek menowo sesok guru-gurumu neng MTs lan MA do seneng karo kowe mbarang, njur dikon nunggak meneh. Ujiane ra mung abot kuwi Dek, neng yo suwe mbarang."

"Ha piye Mas, sido meh nunggu aku ra?"

"Hmm... piye yo?"

"Ojo piya-piye, Mas. Calon imam kok piya-piye. Makmume do kocar-kacir kuwi sesok, nek imame we piya-piye ngono."

"Emm... sik... sik... Dek."

"Wes, rasah kosak-kosek. Kesuwen! Saiki ngene wae. Kui salat ojo nganti ketinggalan takbiratul ikhrom seng tak omongke mau kae, teko dilakoni wae. Mbuh tekan kapan kono, sak karepmu. Njur, perkoro sesok kowe sidone le rabi karo sopo, kuwi pikir keri. Nek kuwi mau tok lakoni kanthi istiqomah (ajeg) lak sesok ketemu dewe jodone. Sakjane, sopo jodomu ki mung nggerek kepiye le kowe ngurus pikiran, ati, tutur lan kelakuanmu kok Mas. Neng yo tetep kudu kenceng le ndongo lan nggolek mbarang deng. Soale, jodo ki yo ra mungkin banget nek teko-teko marani kowe karo ngomong: "Rabeni aku, Mas. Rabeni aku!" mulane senajan ndongo kuwi utama, nanging ikhtiar yo perlu."

Seng lanang bingung, meh kudu ngomong opo meneh. Njur seng wedok neruske,

"Mas, aku tak mlebu kelas ndisek. Jam istirahat wes entek ki. Lho kae Pak Guru 'Al-Qur'an dan Hadits' kelasku wes mlebu. Guru seng iki yo seneng karo aku lho, Mas. Kayane sesok aku nunggak meneh. Wes yo!"

"Dek... Dek... Dek..."






sumber foto: memecomicsantri.blogspot.co.id

Cerita Pendek Yang Pendek: "Menjemur Baju di Musim Hujan."


Seumur-umur, saya belum pernah memasukkan cucian ke laundry. Demi apa pun! Padahal, saya termasuk orang yang malas kalau harus berurusan dengan cuci-mencuci baju sendiri. Kalau sampai saya mencuci, maka motivasinya cuma satu:

"Baju-baju telah habis, dan hanya tinggal satu. Tepatnya, yang sedang saya pakai."

Ketika melihat jumlah cucian yang menggunung saat saya sedang mencuci, seorang teman saya di pondok yang bernama Haidar terperangah, lantas berkomentar:

"Woh! Itu cucian orang-orang se-RT apa gimana?"

"Bukan. Ini jatah piket. Mencucikan baju orang-orang sekamar," timpal saya.

Saat saya sudah di atap dan telah selesai menjemur baju-baju, saya mengheningkan cipta, sembari berkomat-kamit:

"Semoga hari ini tidak hujan. Semoga hari ini tidak hujan. Semoga hari ini tidak hujan."